Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

146 Mahasiswa Gentaskin Dilepas,Pemkab Belu Titip Pesan

40
×

146 Mahasiswa Gentaskin Dilepas,Pemkab Belu Titip Pesan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Sebanyak 146 mahasiswa dari 41 perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur resmi dilepas menuju babak berikutnya setelah menjalankan Program Mahasiswa Berdampak KKN Tematik Gerakan NTT Sehat, Kuat dan Inklusif (GENTASKIN) Batch II Tahun 2026 di Kabupaten Belu.

Namun pelepasan di Gedung Wanita Betelalenok, Senin (31/8/2026), bukan sekadar seremoni.

Example 300x600

Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST., menitipkan pesan yang jauh lebih besar: jangan biarkan pengabdian berakhir ketika mahasiswa meninggalkan desa.

Di hadapan Dandim 1605/Belu, Dansatgas Pamtas RI-RDTL, pimpinan perangkat daerah, camat, kepala desa, dan dosen pendamping, Vicente memberikan apresiasi kepada perguruan tinggi, dosen pendamping, pemerintah desa, masyarakat, serta seluruh mahasiswa yang telah mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan kreativitas selama menjalankan program pengabdian.

Tetapi satu hal ditekankan.

Dampak.

“Kita tidak ingin mahasiswa hanya datang ke desa, melaksanakan kegiatan, kemudian pulang dan semuanya selesai. Kita ingin kehadiran mahasiswa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.”

Bagi Vicente, ukuran keberhasilan KKN bukan terletak pada banyaknya kegiatan yang selesai dilaksanakan.

Ukuran sebenarnya justru dimulai ketika mahasiswa pulang.

Apakah masyarakat dapat meneruskannya?

Apakah pengetahuan tetap digunakan?

Apakah keterampilan berkembang?

Apakah inovasi terus hidup?

“Kalau masyarakat masih mampu melanjutkan sesuatu yang telah dimulai bersama, maka di situlah kita melihat sebuah dampak.”

Pesan itu menjadi semakin penting karena GENTASKIN berorientasi pada pengentasan kemiskinan.

Vicente menegaskan bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan pendapatan. Ia berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, produktivitas, serta berbagai persoalan sosial ekonomi.

Karena itu, dibutuhkan kolaborasi.

Mahasiswa membawa ilmu dan gagasan baru.

Masyarakat membawa pengalaman serta pengetahuan lokal.

Pemerintah membawa kebijakan dan program pembangunan.

“Jika semuanya kita satukan, saya yakin akan lahir solusi yang lebih tepat dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.”

Vicente juga meminta mahasiswa melihat Belu secara lebih utuh.

Jangan hanya melihat keterbatasan.

Lihat pertaniannya.

Lihat peternakannya.

Lihat UMKM-nya.

Lihat ekonomi kreatif, budaya, dan pariwisatanya.

Di balik berbagai tantangan, kata dia, terdapat potensi yang dapat dikembangkan.

Namun ada satu syarat: mahasiswa harus datang dengan kerendahan hati.

“Belajarlah mendengar sebelum berbicara. Pahami persoalan sebelum menawarkan solusi. Hormati adat, budaya dan kearifan lokal.”

Pesan itu menjadi penting karena pengabdian bukan hubungan satu arah. Mahasiswa tidak hanya membawa ilmu ke desa, tetapi juga membawa pulang pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat.

Menjelang kepulangan mereka, Vicente berharap hubungan tersebut tidak putus.

“Belu adalah sahabat. Saudara datang ke Belu sebagai mahasiswa, tetapi kami berharap saudara pulang dari Belu sebagai sahabat.”

Bahkan, pintu Belu disebut tetap terbuka setelah KKN selesai.

Vicente berharap mahasiswa suatu hari kembali, bukan lagi sebagai peserta KKN, melainkan sebagai mitra pembangunan—sebagai peneliti, akademisi, pengusaha, profesional, birokrat, maupun melalui profesi lainnya.

“Jangan datang lagi hanya sebagai mahasiswa KKN. Datanglah sebagai mitra pembangunan. Belu akan selalu terbuka untuk saudara.”

bukan sekadar kkn, tetapi warisan

Di tengah agenda pembangunan dan pengentasan kemiskinan, keberadaan mahasiswa di desa memiliki arti ketika pengetahuan dan inovasi yang dibawa dapat bertahan melampaui masa penugasan. KKN menjadi lebih bernilai ketika masyarakat tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi menjadi pelaku yang mampu meneruskan, mengembangkan, dan menghidupkan kembali gagasan yang telah dibangun bersama. Di titik inilah kata “berdampak” menemukan ukuran paling konkret: keberlanjutan.

Karena itu, Vicente kembali menitipkan pesan agar hasil positif yang telah dimulai tidak berhenti sebagai dokumentasi.

“Kalau ada inovasi, kembangkan. Kalau ada pengetahuan, teruskan. Kalau ada kelompok masyarakat yang mulai berkembang, dampingi. Karena yang kita harapkan bukan hanya kegiatan, tetapi keberlanjutan.”

Sebanyak 146 mahasiswa akhirnya resmi dilepas untuk kembali ke perguruan tinggi masing-masing.

Tetapi kepulangan itu bukan berarti semuanya selesai.

“Yang berakhir hanya masa penugasannya, bukan hubungan dan persahabatannya.”

Pemerintah Kabupaten Belu berharap kerja sama dengan perguruan tinggi terus berkembang melalui KKN, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, dan berbagai program pembangunan lainnya.

Sebab pengabdian yang sejati tidak diukur dari berapa lama seseorang tinggal di sebuah tempat, melainkan dari apa yang tetap hidup setelah ia pergi.

Example 300250