Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Setelah 26 Tahun, Gereja Bitefa Akhirnya Berdiri

2
×

Setelah 26 Tahun, Gereja Bitefa Akhirnya Berdiri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KEFAMENANU  | LINTASTIMOR.ID— Dua puluh enam tahun bukan waktu yang singkat. Ia adalah rentang panjang yang dipenuhi doa, kerja keras, gotong royong, pengorbanan, dan kesetiaan umat dalam menantikan sebuah rumah Tuhan berdiri sempurna di tengah kehidupan mereka.

Di Stasi Bitefa, Paroki St. Andreas Tunbaba, Dekenat Kefamenanu, Keuskupan Atambua, penantian panjang itu akhirnya menemukan jawabannya.

Example 300x600

Gereja Katolik Stasi Bitefa yang kemudian dikenal sebagai Gereja Santo Mikhael Bitefa, kini telah rampung setelah umat berjuang selama 26 tahun untuk menyelesaikan pembangunan rumah ibadah tersebut.

Bangunan yang selama bertahun-tahun hanya menjadi cita-cita dan harapan, perlahan menjelma menjadi kenyataan. Setiap batu, setiap pekerjaan, dan setiap uluran tangan menjadi bagian dari perjalanan panjang umat Katolik Stasi Bitefa.

Rencana peresmian gereja dijadwalkan berlangsung pada Senin, 21 September 2026, dalam sebuah momentum iman yang menjadi penanda berakhirnya penantian panjang umat.

Di balik kemegahan bangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa, tersimpan kisah suka dan duka. Ada tahun-tahun ketika pembangunan harus berjalan perlahan, ada keterbatasan yang harus dilalui, dan ada harapan yang terus dijaga agar tidak padam.

Namun, waktu ternyata tidak mampu mengalahkan semangat umat.

Gotong royong menjadi kekuatan. Doa menjadi napas perjuangan. Dukungan pastor paroki menjadi penguat perjalanan. Sementara uluran tangan para donatur menjadi bagian penting yang membantu umat membawa pembangunan gereja itu hingga garis akhir.

“Dua puluh enam tahun bukan sekadar angka. Ia adalah kesaksian tentang kesetiaan umat menjaga harapan, merawat iman, dan bersama-sama menyelesaikan rumah Tuhan yang telah lama mereka rindukan.”

Perjuangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan sebuah rumah ibadah tidak hanya berbicara tentang batu, semen, besi, dan kemegahan arsitektur. Lebih jauh, ia merekam sejarah iman sebuah komunitas yang bertahan melewati waktu, keterbatasan, dan berbagai tantangan.

Secara kontekstual, selesainya pembangunan Gereja Santo Mikhael Bitefa juga memperlihatkan kuatnya tradisi gotong royong dalam kehidupan umat di wilayah Keuskupan Atambua. Gereja bukan hanya menjadi tempat perayaan liturgi, tetapi juga ruang perjumpaan, persaudaraan, pembinaan iman, serta tempat umat merawat kehidupan sosial dan spiritual bersama.

Momentum pentabisan gereja tersebut  menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Piche Kota, artis nasional yang turut mengambil bagian dalam perayaan umat.

Piche Kota  hadir dalam acara tersebut dan menghibur umat serta para undangan dalam malam ramah tamah. Kehadirannya memberi warna tersendiri bagi perayaan yang tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga perjumpaan kebersamaan setelah perjalanan panjang pembangunan gereja.

Pentabisan Gereja Santo Mikhael Bitefa akan dipimpin oleh Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr., bersama para deken dan jajaran rohaniwan di lingkungan Keuskupan Atambua.

Di tengah dentang doa dan sukacita umat, sebuah perjalanan panjang akhirnya menemukan titik terang.

Gereja itu berdiri bukan hanya sebagai bangunan.

Ia berdiri sebagai tanda bahwa iman yang dipelihara dengan kesetiaan, doa yang disertai kerja keras, dan persaudaraan yang dirawat bersama pada akhirnya mampu mengubah penantian panjang menjadi sebuah kenyataan.

Dua puluh enam tahun telah berlalu. Kini, Gereja Santo Mikhael Bitefa berdiri—sebagai saksi bahwa harapan yang dijaga bersama tidak pernah benar-benar kehilangan jalan pulang.

Example 300250
Penulis: Agustinus Bobe Editor: Agustinus Bobe