SINGAPUR |LINTASTIMOR.ID — Di tengah duka yang belum benar-benar reda, sebuah bentuk kepedulian justru lahir dari ruang paling sunyi: kehilangan. Rita Uru Hida, S.H., Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sumba Timur yang kini bekerja di Singapura, memilih menyisihkan satu bulan gajinya untuk membantu para korban gempa bumi di Flores, khususnya Sikka dan Manggarai.
Keputusan itu terasa lebih dalam karena Rita sendiri sedang berduka. Ia baru saja kehilangan orang tercinta, termasuk ayahnya. Namun ketika kabar tentang warga Flores yang menjadi korban bencana datang, ia memilih tidak menutup mata.
Di antara kesedihan pribadi dan penderitaan orang lain, Rita mengambil keputusan sederhana tetapi penuh makna: berbagi.
Bantuan tersebut diberikan Rita melalui kerja sama dengan Komunitas Peduli Sikka, dengan penyaluran di lokasi dibantu oleh Om Kobus AH AH, yang dikenal luas dengan nama tersebut.
“Letak kemuliaan seseorang adalah memberi dalam kekurangan.”
Kalimat itu menjadi alasan Rita tetap melangkah. Ia sadar dirinya sendiri sedang berada dalam masa sulit. Tetapi baginya, kesulitan bukan alasan untuk berhenti berbagi.
“Dengan memberi, kita akan menerima.”
Bagi Rita, bantuan itu bukan sekadar angka yang dipotong dari hasil kerja selama sebulan. Di balik satu bulan gaji tersebut ada waktu, tenaga, air mata, dan jerih payah seorang perempuan yang bekerja jauh dari kampung halaman.
Ia memilih mengubah sebagian hasil keringatnya menjadi harapan bagi mereka yang kehilangan rumah, rasa aman, dan orang-orang yang dicintai akibat gempa bumi.
“Saya sudah informasikan kepada adik Kobus, adik Frit, untuk ikut masuk dalam berita karena saya bekerja sama dengan dia sebagai penyalur di lokasi. Saya bekerja sama dengan Om Kobus AH AH melalui Komunitas Peduli Sikka,” ujar Rita kepada Redaksi Lintastimor.id di Singapur, Rabu (19/8/2026) waktu setempat.
Bagi Rita, Om Kobus AH AH bukan sekadar perantara bantuan. Ia menjadi bagian dari rantai kemanusiaan yang menghubungkan seorang PMI di Singapura dengan warga yang sedang menghadapi bencana di tanah Flores.
Ketika duka pribadi bertemu duka kemanusiaan
Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores telah meninggalkan luka yang tidak mudah dihitung hanya dengan angka korban dan kerusakan bangunan. Di balik setiap rumah yang runtuh, ada keluarga yang kehilangan tempat pulang. Di balik setiap korban, ada cerita kehidupan yang mendadak berubah.
Dalam konteks itu, kepedulian Rita memperlihatkan wajah lain solidaritas diaspora Indonesia. Para pekerja migran yang berada jauh dari tanah air tetap dapat mengambil bagian dalam pemulihan bencana melalui jejaring komunitas dan bantuan langsung. Solidaritas semacam ini penting karena masa tanggap darurat tidak hanya membutuhkan logistik, tetapi juga rasa bahwa para korban tidak sedang menghadapi penderitaan seorang diri.
Rita mungkin berada ribuan kilometer dari Flores.
Tetapi sebagian dari hatinya seolah tetap tinggal di sana.
Ia tidak datang dengan rombongan besar. Tidak pula membawa nama besar sebuah lembaga. Ia hanya membawa apa yang dimilikinya—sebagian dari hasil kerja kerasnya sebagai PMI—lalu menyerahkannya kepada mereka yang membutuhkan.
Dan justru di situlah kisah ini menemukan kekuatannya.
Sebab dalam keadaan berduka, Rita masih memilih memberi.
Dalam keadaan kehilangan, ia masih mengingat orang lain.
Dan ketika dirinya sendiri membutuhkan penguatan, ia justru mengulurkan tangan lebih dahulu.
Satu bulan gaji mungkin akan habis untuk kebutuhan para korban. Tetapi ketulusan yang melahirkannya bisa tinggal jauh lebih lama—menjadi pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal jarak, dan bahwa tangan yang memberi di tengah kekurangan sering kali menjadi tangan yang paling berarti.


















