ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah dinding-dinding Kapela Stasi Motabuik yang perlahan mendekati bentuk akhirnya, sebuah bantuan datang bukan sekadar sebagai tumpukan semen. Ia membawa pesan sederhana tentang syukur, doa, dan keinginan untuk ikut menyelesaikan sebuah rumah Tuhan yang dibangun dari gotong royong umat.
Artis Piche Kota memberikan bantuan semen untuk pembangunan gedung baru Kapela Stasi Motabuik, Paroki St. Antonius Padua Nela, Keuskupan Atambua. Bantuan tersebut diserahkan oleh kedua orangtuanya, Thony Djaga Kota dan Elfridha Mau Luan, kepada panitia pembangunan kapela.
Thony Djaga Kota kepada LINTASTIMOR.ID di Atambua, Selasa (18/8/2026), mengatakan bantuan itu merupakan bentuk syukur putranya atas berkat Tuhan yang ia rasakan.
“Dia memberi sumbangan sedikit untuk menandai rasa terima kasih dia atas berkat Tuhan, dengan terkabul doanya lewat Novena kepada Bunda Maria. Sedangkan bantuan dari kami sendiri, Bapa dan Mama Piche, akan menyusul,” ujar Thony.
Bagi keluarga Piche, bantuan itu mungkin tidak besar jika dihitung dari ukuran sebuah bangunan. Namun, di tengah perjalanan panjang pembangunan rumah ibadah, setiap sak semen memiliki arti. Ia menjadi bagian kecil dari sebuah harapan besar: agar tempat umat berkumpul, berdoa, dan merayakan iman itu segera berdiri utuh.
82 Persen Pembangunan Telah Terealisasi
Ketua Panitia Pembangunan Gedung Baru Kapela Stasi Motabuik, Hendrikus Ati, melalui Bendahara Panitia Gaspar K. Kopong, mengatakan progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 82 persen.
Pengecoran lantai gereja diperkirakan selesai pada September 2026. Setelah itu, pekerjaan yang masih tersisa antara lain penyelesaian menara, pembuatan lis dan pemasangan salib di antara dua menara, pengecatan, pemasangan kaca patri, serta pemasangan keramik.
Panitia juga masih membutuhkan lima pintu gereja dan bangku untuk melengkapi interior kapela.
“Untuk target penyelesaian Rumah Tuhan dan kapan bisa digunakan, kami belum menentukan secara pasti. Tetapi kami berusaha agar 18 persen yang tersisa dapat direalisasikan secepatnya, tergantung dukungan umat Stasi Motabuik dalam pengumpulan iuran pembangunan,” kata Gaspar.
Menurut dia, pembangunan tersebut ditopang oleh iuran umat dari 945 kepala keluarga yang masih memiliki kewajiban pembayaran pembangunan.
Jika penghimpunan dana berjalan baik, panitia menargetkan pembangunan kapela selesai pada Desember 2026. Selanjutnya, kapela diharapkan dapat ditahbiskan oleh Uskup Keuskupan Atambua pada awal 2027.
Gaspar mengatakan, target paling lambat adalah kapela sudah dapat digunakan pada Paskah 2027, dengan catatan proses penahbisan oleh Uskup terlebih dahulu dilakukan.
Dibangun dari Banyak Tangan
Pembangunan Kapela Stasi Motabuik tidak berdiri di atas satu nama atau satu keluarga. Di balik bangunan yang kini telah mencapai 82 persen itu, terdapat banyak tangan yang bekerja dalam diam.
Gaspar menyebut sejumlah tokoh dan pelaku usaha di Atambua yang telah memberikan dukungan, baik secara pribadi maupun kelembagaan. Di antaranya Ose Luan, Toko Bahagia, Toko Sumber Timor, Toko Jujur, Toko Gudang Mas, Toko Sumber Mas, Toko Railaku, Agus Bria, dan Toni Djaga Kota, serta para donatur yang memilih menyalurkan bantuan secara diam-diam melalui rekening panitia.
“Ada yang secara diam-diam mentransfer uang ke rekening panitia. Karena itu, Pastor Paroki dalam misa setiap hari Minggu selalu mendoakan para donatur,” ujar Gaspar.
Di situlah pembangunan kapela menemukan makna yang lebih luas. Sebuah gereja tidak hanya dibangun oleh semen, pasir, besi, keramik dan kayu. Ia dibangun oleh keyakinan umat bahwa sesuatu yang diperjuangkan bersama akan menjadi tempat pulang bagi banyak hati.
Secara kontekstual, pembangunan Kapela Stasi Motabuik memperlihatkan bagaimana rumah ibadah di tengah komunitas tidak semata-mata menjadi proyek fisik, tetapi juga ruang solidaritas sosial. Ketika kemampuan umat terbatas, dukungan tokoh masyarakat, keluarga, pelaku usaha dan para donatur menjadi bagian penting untuk menjaga pembangunan tetap bergerak. Bantuan Piche Kota dan keluarganya menjadi salah satu simpul kecil dari semangat kolektif tersebut—bahwa pembangunan rumah Tuhan dapat tumbuh dari kontribusi besar maupun kecil, bahkan dari mereka yang memilih memberi tanpa ingin disebut.
Panitia kini masih menatap 18 persen pekerjaan yang tersisa. Angka itu mungkin terlihat kecil dibandingkan 82 persen yang telah berdiri. Namun justru pada bagian terakhir itulah kesabaran, ketekunan dan solidaritas umat kembali diuji.
Sebab pada akhirnya, yang sedang mereka bangun bukan sekadar sebuah gedung.
Mereka sedang membangun tempat di mana doa-doa akan kembali menemukan rumahnya—dan setiap sak semen yang disumbangkan menjadi bagian dari kisah panjang tentang iman yang dikerjakan bersama.


















