Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPolkam

Belu Hening Cipta untuk Korban Gempa Flores

32
×

Belu Hening Cipta untuk Korban Gempa Flores

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di bawah langit pagi Atambua dan kibaran Merah Putih, peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Belu tidak hanya menjadi perayaan tentang masa lalu. Pada Senin, 17 Agustus 2026, Lapangan Umum Simpang Lima Atambua justru menjadi ruang untuk meneguhkan persatuan sekaligus menundukkan kepala bagi saudara-saudara sebangsa yang sedang berduka akibat bencana gempa bumi di Flores dan sekitarnya.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, bertindak sebagai Inspektur Upacara pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-81. Upacara berlangsung tertib dan khidmat, dengan menghadirkan sinergi pemerintah daerah, legislatif, tokoh agama, generasi muda, serta berbagai elemen masyarakat.

Example 300x600

Namun, di antara derap langkah pasukan dan kibaran Sang Saka, ada pesan kemanusiaan yang terasa lebih dalam: kemerdekaan juga berarti hadir untuk sesama ketika mereka sedang menghadapi bencana.

Merah Putih Berkibar, Doa Mengalir

Puncak upacara berlangsung ketika Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Belu menjalankan tugasnya. Putra-putri terbaik Belu hasil binaan Badan Kesbangpol itu berhasil mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan sempurna.

Pengibaran dipimpin Komandan Paskibraka, Ipda Muhammad Syeva Nirwana Ginting, S.Tr.K., dengan pembawa bendera Yulita Kristina Soi, siswi SMA Swasta Taruna Mandiri Fatubenao.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Belu, Theodorus Manehitu Djuang, membacakan Teks Proklamasi.

Di titik tersebut, simbol-simbol kenegaraan bertemu dalam satu panggung: pemerintah, legislatif, dan generasi muda berdiri dalam satu semangat menjaga warisan kemerdekaan.

Suasana semakin khidmat ketika doa dipimpin Provinsial SVD Timor, Pater Dismas L. Mauk, SVD. Kehadiran Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr, bersama para tokoh agama lainnya memperlihatkan bahwa nasionalisme di wilayah perbatasan tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh berdampingan dengan kehidupan iman dan harmoni sosial.

Dari tengah lapangan, lantunan Paduan Suara SMA Negeri 2 Atambua yang dipimpin Dirigen Oktavianus Hale, S.Pd., mengisi udara pagi. Lagu-lagu perjuangan dan medley memperkuat suasana peringatan, meski terik matahari mulai menyentuh ribuan peserta.

Ketika Perayaan Menjadi Solidaritas

Dalam amanatnya, Bupati Willybrodus Lay mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga persatuan, terutama di wilayah perbatasan negara.

“Di Simpang Lima ini, kita berdiri sebagai satu tubuh. Mari kita isi kemerdekaan Ke-81 ini dengan kerja nyata, disiplin, dan cinta tanah air,” ujarnya.

Namun pesan Bupati tidak berhenti pada ajakan untuk mengisi kemerdekaan melalui kerja nyata.

Di tengah suasana perayaan, ia mengajak seluruh tamu undangan dan peserta upacara untuk meluangkan waktu dalam doa bagi para korban bencana alam gempa bumi yang menimpa saudara-saudara mereka di Pulau Flores dan sekitarnya.

Ajakan tersebut memberikan makna lain pada peringatan kemerdekaan tahun ini. Ketika sebagian masyarakat Belu berdiri tegak di bawah Merah Putih, sebagian saudara mereka di Flores sedang menghadapi kehilangan, ketakutan, dan kebutuhan akan pertolongan.

Doa pun menjadi bentuk solidaritas paling sederhana—namun memiliki makna kemanusiaan yang dalam.

Kemerdekaan yang Tidak Berjarak

Secara kontekstual, ajakan hening cipta dan doa bagi korban gempa Flores memperlihatkan bahwa nasionalisme tidak hanya dibangun melalui simbol negara, tetapi juga melalui kepedulian terhadap penderitaan sesama warga bangsa. Bagi Belu sebagai daerah perbatasan, semangat persatuan memiliki arti strategis: batas geografis boleh memisahkan wilayah, tetapi bencana dan kemanusiaan mengingatkan bahwa Indonesia tetap satu keluarga besar.

Upacara tersebut dihadiri Forkopimda Kabupaten Belu, Pj. Sekretaris Daerah, Ketua TP PKK, pimpinan BUMN dan BUMD, organisasi wanita, tokoh masyarakat, serta tokoh adat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut sekaligus menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak menjadi milik satu institusi. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Simpang Lima Atambua, Merah Putih pun berkibar bukan hanya sebagai lambang sebuah republik yang telah berusia 81 tahun, tetapi juga sebagai tanda bahwa di tengah suka cita kemerdekaan, Indonesia tetap memiliki ruang untuk berduka, berdoa, dan saling menguatkan.

Sebab, kemerdekaan sejati bukan hanya tentang berdiri tegak ketika Merah Putih dikibarkan, tetapi juga tentang kesediaan menundukkan kepala ketika saudara sebangsa sedang kehilangan.

 

Example 300250