Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

Hitadipa Damai, Wajah Kemerdekaan di Papua

15
×

Hitadipa Damai, Wajah Kemerdekaan di Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

HITADIPA |LINTASTIMOR.ID— Di Hitadipa, kemerdekaan tidak hanya hadir dalam kibaran Merah Putih. Ia menemukan bentuk yang lebih sederhana sekaligus lebih dalam: warga dapat berkebun tanpa rasa takut, anak-anak kembali memiliki ruang untuk belajar, pelayanan kesehatan menjangkau masyarakat, dan tradisi leluhur tetap hidup di tengah denyut kehidupan kampung.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, tepat ketika Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, Koops TNI Habema menghadirkan sebuah penanda baru di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Kampung Hitadipa dideklarasikan dan diresmikan sebagai Kampung Papua Damai.

Example 300x600

Momentum itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ikhtiar untuk menerjemahkan makna kemerdekaan sampai ke sebuah kampung di pedalaman Papua—bahwa damai bukan semata ketiadaan konflik, melainkan hadirnya kehidupan yang aman, normal, bermartabat, dan memiliki harapan.

Deklarasi, peresmian, serta penandatanganan komitmen Kampung Hitadipa sebagai Kampung Papua Damai dilakukan bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, dan aparat keamanan. Di sana, perdamaian ditempatkan bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kesepakatan yang harus dijaga bersama.

Bagi masyarakat Hitadipa, jalan menuju damai juga membutuhkan ruang untuk bergerak. Karena itu, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Jembatan Garuda.

Jembatan tersebut menjadi simbol terbukanya konektivitas. Ia bukan sekadar bentang konstruksi yang menghubungkan wilayah, tetapi juga jalan menuju pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan ekonomi, serta interaksi sosial masyarakat yang lebih luas.

Di tengah suasana itu, tradisi bakar batu menjadi bagian penting dari perayaan. Api, batu panas, makanan, dan kebersamaan berpadu menjadi bahasa budaya yang telah lama hidup di Papua.

Melalui tradisi tersebut, prajurit TNI dan masyarakat duduk dalam suasana kebersamaan. Jarak yang selama ini mungkin terasa lebar dipertemukan melalui komunikasi, penghormatan terhadap adat, dan kepercayaan yang dibangun perlahan.

Perdamaian, pada akhirnya, memang tidak cukup hanya dijaga dengan kekuatan. Ia membutuhkan kepercayaan.

Dukungan terhadap masyarakat juga diwujudkan Koops TNI Habema dengan memborong hasil tani masyarakat Hitadipa. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa kedamaian memiliki manfaat nyata bagi kehidupan warga.

Hasil kebun yang dibeli bukan hanya berpindah tangan. Di balik setiap hasil tani terdapat kerja masyarakat, harapan keluarga, dan denyut ekonomi kampung. Dukungan terhadap produk pertanian lokal diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menggerakkan perekonomian, sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat.

Kepedulian sosial kemudian dilengkapi melalui pelayanan kesehatan dan pembagian sembako. Kehadiran negara pun tidak berhenti pada aspek keamanan, tetapi menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Dansatgas Teritorial Koops TNI Habema, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, mengatakan pembangunan Kampung Papua Damai merupakan bagian dari upaya menghadirkan negara yang dekat dengan masyarakat melalui pendekatan keamanan, kemanusiaan, dan kesejahteraan.

“Kampung Papua Damai adalah wujud nyata bahwa kedamaian harus dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.”

Menurut Stefie, makna kedamaian dapat terlihat ketika masyarakat mampu menjalankan kehidupannya secara tenang—berkebun, menyekolahkan anak, memperoleh pelayanan kesehatan, menjaga adat, sekaligus mengembangkan perekonomian.

“Ketika masyarakat dapat berkebun dengan tenang, anak-anak dapat belajar, pelayanan kesehatan berjalan, adat tetap terjaga, dan perekonomian masyarakat berkembang, di situlah makna kehadiran negara benar-benar dirasakan,” tuturnya.

Ia menegaskan, pembangunan perdamaian di Papua bukan pekerjaan satu pihak. Keberlanjutannya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“TNI hadir bersama masyarakat, bukan menggantikan masyarakat. Dengan sinergi antara adat, gereja, pemerintah, masyarakat, dan aparat keamanan, kita bersama-sama membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Konsep Kampung Papua Damai kemudian menempatkan masyarakat sebagai protagonis utama dalam proses pembangunan. Adat menjaga identitas dan nilai budaya. Gereja memperkuat nilai kemanusiaan dan rekonsiliasi. Pemerintah menghadirkan pelayanan publik. Sementara aparat keamanan menciptakan ruang yang aman agar pembangunan dapat berlangsung.

Perdamaian yang Harus Terasa

Secara kontekstual, gagasan Kampung Papua Damai memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan perdamaian tidak semestinya berhenti pada indikator keamanan. Perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan ekosistem kehidupan yang memungkinkan masyarakat merasa aman, mendapatkan pelayanan dasar, memiliki akses ekonomi, serta tetap mampu mempertahankan identitas budaya. Dalam perspektif itu, kampung menjadi titik paling penting karena di sanalah kebijakan negara akhirnya bertemu langsung dengan kehidupan warga.

Momentum 81 tahun kemerdekaan RI memberikan lapisan makna yang semakin kuat bagi Hitadipa. Kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui upacara, pidato, dan pengibaran bendera, tetapi juga melalui upaya menghadirkan kehidupan yang lebih aman dan bermartabat.

Kepala Distrik Hitadipa, Soleman Bilambani Sloiman, mewakili masyarakat Distrik Hitadipa menyampaikan terima kasih atas perhatian, kepedulian, bantuan, dan pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, berbagai bentuk dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat Hitadipa yang lebih aman, sejahtera, dan penuh harapan.

Di Hitadipa, jembatan yang baru diresmikan mungkin hanya sebuah bangunan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Namun, dalam konteks yang lebih luas, ia dapat dibaca sebagai metafora tentang sesuatu yang jauh lebih besar: upaya mempertemukan keamanan dengan kesejahteraan, negara dengan masyarakat, serta masa lalu dengan masa depan.

Kemerdekaan, dengan demikian, tidak berhenti pada tanggal 17 Agustus.

Ia hidup ketika seorang petani dapat kembali mengolah tanahnya dengan tenang, ketika seorang anak dapat belajar tanpa rasa takut, ketika adat tetap diwariskan, dan ketika masyarakat memiliki keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun di tanah kelahirannya sendiri.

Dari Hitadipa, pesan itu terdengar sederhana: perdamaian akan benar-benar bermakna ketika ia tumbuh menjadi kehidupan.

 

Example 300250