NABIRE |LINTASTIMOR.ID— Di tengah sisa-sisa duka yang belum sepenuhnya reda, bantuan datang membawa pesan sederhana: mereka yang kehilangan rumah dan harta benda tidak sedang berjalan sendirian.
Sabtu, 12 September 2026, sebanyak 24 koli bantuan kemanusiaan disalurkan Bhayangkari Daerah Papua Tengah bagi warga yang terdampak musibah kebakaran di Kabupaten Paniai.
Bantuan itu diserahkan langsung Ketua Bhayangkari Daerah Papua Tengah, Ny. Yanti Rontini, kepada Ketua Posko Peduli Kebakaran Kabupaten Paniai, H. Irsyl Jamaluddin, di Posko Peduli Kebakaran yang berada di Kompleks Masjid Baiturahman, Jalan Yos Sudarso, Nabire.
Di tempat itu, kepedulian tidak berhenti sebagai kata. Kardus dan koli bantuan menjadi bahasa lain dari solidaritas—bahwa ketika api merenggut tempat tinggal dan harta benda, tangan-tangan lain masih dapat hadir untuk menguatkan.
Posko tersebut merupakan pusat pengumpulan bantuan yang didirikan BPW KKSS Provinsi Papua Tengah bersama BPD KKSS Kabupaten Nabire sebagai bentuk solidaritas masyarakat untuk membantu warga Paniai yang menjadi korban kebakaran.
Isi bantuan pun menyentuh kebutuhan sehari-hari para korban. Mulai dari pakaian layak pakai untuk pria dan wanita dewasa serta anak-anak, selimut baru dan layak pakai, handuk, bantal, pembalut wanita, makanan kering seperti biskuit, perlengkapan mandi, hingga sarung dan baju koko.
Bagi korban bencana, bantuan semacam itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada nilai barangnya. Ketika kehidupan mendadak berubah akibat musibah, kebutuhan paling sederhana—pakaian, makanan, selimut, perlengkapan mandi—dapat menjadi jembatan pertama untuk kembali menata hari esok.
Kutipan Elegan
“Kami ingin masyarakat yang terdampak mengetahui bahwa mereka tidak sendiri. Ada kepedulian, ada kebersamaan, dan ada banyak pihak yang ingin membantu mereka untuk bangkit kembali.”
— Ny. Yanti Rontini, Ketua Bhayangkari Daerah Papua Tengah
Ny. Yanti mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Bhayangkari kepada masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit akibat musibah kebakaran.
“Kami berharap bantuan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan para korban, terutama kebutuhan sehari-hari yang sangat diperlukan setelah mereka kehilangan tempat tinggal maupun harta benda akibat kebakaran,” ujarnya.
Menurut dia, kepedulian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui kehadiran Polri dalam menjaga keamanan, tetapi juga melalui aksi kemanusiaan dan semangat gotong royong ketika masyarakat membutuhkan dukungan.
Harapan itu sederhana, tetapi penting: para korban dapat segera bangkit, memulihkan kehidupan, dan kembali menata masa depan bersama keluarga.
Solidaritas yang Menyeberangi Batas Musibah
Musibah kebakaran tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Ia juga dapat memutus sementara rasa aman, mengubah rutinitas keluarga, bahkan membuat kebutuhan paling mendasar menjadi persoalan yang harus segera dipenuhi. Karena itu, keberadaan posko bantuan dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam fase pemulihan pascabencana.
Dalam konteks tersebut, bantuan Bhayangkari bersama solidaritas masyarakat melalui Posko Peduli Kebakaran di Nabire menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana tidak hanya bergantung pada satu institusi. Gotong royong menjadi kekuatan sosial yang memungkinkan kebutuhan para korban dijangkau lebih cepat, sekaligus menjaga agar mereka tetap merasa menjadi bagian dari komunitas yang peduli.
Ketua Posko Peduli Kebakaran Kabupaten Paniai, H. Irsyl Jamaluddin, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ketua Bhayangkari Daerah Papua Tengah bersama seluruh pengurus Bhayangkari.
“Terima kasih kepada Ibu Ketua Bhayangkari Daerah Papua Tengah bersama seluruh pengurus yang telah memberikan bantuan dan perhatian kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban kebakaran di Paniai. Bantuan ini sangat berarti bagi mereka,” ujarnya.
Menurut Irsyl, bantuan tersebut bukan hanya memiliki nilai materi. Di balik setiap pakaian, selimut, makanan, maupun perlengkapan kebutuhan pribadi, terdapat pesan bahwa para korban masih memiliki banyak saudara yang peduli.
“Sekecil apa pun bantuan yang kita berikan, tentu akan sangat berarti bagi mereka.”
— H. Irsyl Jamaluddin, Ketua Posko Peduli Kebakaran Kabupaten Paniai
Ia pun mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Nabire untuk bersama-sama memperkuat solidaritas bagi warga Paniai yang sedang menghadapi musibah.
“Saudara-saudara kita di Paniai sedang mengalami musibah dan membutuhkan perhatian kita. Kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Nabire, mari kita bersama-sama menunjukkan solidaritas,” katanya.
Pada akhirnya, bantuan itu bukan hanya tentang 24 koli yang berpindah tangan dari Nabire menuju mereka yang membutuhkan. Ia adalah tentang kemanusiaan yang menemukan jalannya di tengah kepedihan.
Sebab, ketika sebuah kebakaran meninggalkan puing-puing, yang paling dibutuhkan bukan hanya bangunan untuk kembali berdiri, tetapi juga keyakinan bahwa harapan belum ikut terbakar.


















