Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalPeristiwaTeknologi

Lomba Berbahasa Belu Hidupkan Literasi dan Budaya

27
×

Lomba Berbahasa Belu Hidupkan Literasi dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di hadapan para pendengar, sebuah cerita tidak sekadar menjadi rangkaian kata. Ia menjelma menjadi suara, ekspresi, gerak tubuh, dan ingatan tentang tanah kelahiran. Dari ruang itulah, 75 siswa kelas IV dan V dari 22 SD/MI se-Kabupaten Belu mencoba menghidupkan kembali cerita rakyat dalam Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Tahun 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belu itu menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar berbicara dengan percaya diri, menumbuhkan kegemaran membaca, sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya daerah.

Example 300x600

Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Belu, Nikolaus Umbu K. Biri, mengatakan lomba bertutur memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perlombaan kemampuan berbicara. Menurut dia, seni bertutur melatih anak menyampaikan cerita secara lisan dengan jelas, menarik, penuh ekspresi, sekaligus membangun keberanian dan kreativitas.

“Bertuturlah dengan percaya diri, penuh ekspresi, dan penghayatan. Jadikan lomba ini sebagai ajang belajar dan pengalaman yang berharga. Selamat berlomba, junjung tinggi sportivitas.”

Pesan itu menjadi semacam bekal bagi para peserta. Sebab di balik panggung perlombaan, mereka tidak hanya sedang berhadapan dengan dewan juri, tetapi juga sedang belajar menyampaikan gagasan, mengasah empati, serta memahami nilai-nilai luhur yang tersimpan dalam cerita rakyat dan budaya bangsa.

Nikolaus juga memberikan apresiasi kepada panitia, dewan juri, guru pendamping, orang tua, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua Panitia, Frans X. Lako, ST, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk menumbuhkembangkan kegemaran membaca dan budaya literasi anak melalui bacaan dan buku, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap karya budaya bangsa.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda semakin gemar membaca dan dapat menjadi panutan dalam membangun kebiasaan membaca.”

Harapan itu menemukan bentuknya ketika para peserta membawakan dua cerita yang sarat dengan jejak budaya lokal, yakni Suri Ikun dan Bui Ikun serta Legenda Raja Laku Leik.

Cerita-cerita tersebut tidak berhenti sebagai teks yang dibaca. Di tangan anak-anak, kisah itu dihidupkan melalui intonasi suara, ekspresi wajah, gerakan tubuh, penghayatan, hingga kemampuan menyampaikan pesan kepada pendengar.

Ketika Cerita Lama Menemukan Suara Baru

Di tengah derasnya arus informasi digital, cerita rakyat menghadapi tantangan yang tidak ringan. Anak-anak semakin mudah menemukan berbagai cerita dari luar daerah melalui layar, sementara kisah-kisah yang tumbuh dari tanah sendiri berisiko semakin jauh dari ingatan generasi muda.

Karena itu, lomba bertutur memiliki konteks yang lebih dalam: literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca kata, tetapi juga kemampuan memahami, menghayati, dan meneruskan pengetahuan yang membentuk identitas sebuah masyarakat. Ketika cerita lokal kembali dituturkan oleh anak-anak, tradisi itu memperoleh ruang untuk tetap hidup dan menemukan generasi penerusnya.

Lomba Bertutur Tingkat SD/MI Kabupaten Belu pun menjadi pertemuan antara literasi dan kebudayaan. Kepercayaan diri anak tumbuh bersamaan dengan kesadaran bahwa cerita dari daerah sendiri memiliki nilai yang layak didengar, dipelajari, dan diwariskan.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan berbicara dan keberanian peserta, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga cerita tradisional serta kearifan lokal Kabupaten Belu agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Turut hadir dalam acara pembukaan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Belu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Belu, dewan juri, guru pendamping, serta orang tua peserta.

Pada akhirnya, panggung itu mungkin hanya berlangsung tiga hari. Namun cerita yang dituturkan anak-anak Belu membawa perjalanan yang jauh lebih panjang: selama sebuah cerita masih memiliki suara untuk dituturkan, selama itu pula ingatan tentang budaya dan jati diri tidak benar-benar hilang.

 

Example 300250
Penulis: Prokopim Belu/RedaksiLintasTimor.idEditor: Agistinus Bobe