Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Seribu Lilin Mimika Menyala untuk Korban Gempa NTT

26
×

Seribu Lilin Mimika Menyala untuk Korban Gempa NTT

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Malam di Kota Timika, Rabu (26/8/2026), tidak sekadar akan jatuh bersama gelap. Seribu nyala lilin akan dinyalakan, satu demi satu, seperti doa yang mencari jalan menuju saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur yang tengah menata kembali hidup setelah gempa.

Di Lapangan Eks Pasar Lama, Jalan Yos Sudarso, masyarakat Mimika akan berkumpul dalam konser amal bertajuk “Mimika for NTT” yang digelar Kepolisian Resor Mimika. Panggung itu tidak dibangun sekadar untuk musik dan hiburan. Ia disiapkan sebagai ruang kemanusiaan—tempat suara, gerak, doa, dan kepedulian bertemu dalam satu malam.

Example 300x600

Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak, S.I.K., M.Tr.Mil., M.Han., mengatakan bencana yang menimpa masyarakat NTT merupakan panggilan kemanusiaan yang semestinya mengetuk hati seluruh elemen masyarakat di Mimika.

“Jarak ribuan kilometer tidak seharusnya menjadi penghalang bagi kita untuk berbagi. Ketika saudara-saudara kita di NTT sedang menghadapi bencana, kepedulian adalah cara kita mengatakan bahwa mereka tidak sendiri.”

Melalui konser amal tersebut, Polres Mimika mengajak pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha, organisasi masyarakat, paguyuban, serta seluruh warga untuk menyisihkan sebagian rezeki bagi masyarakat yang terdampak gempa—terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal dan membutuhkan bantuan untuk melewati masa pemulihan.

Musisi dan Penari Hadir Tanpa Bayaran

Kepedulian itu juga datang dari panggung seni.

Sejumlah grup musik dan penyanyi lokal ternama dijadwalkan tampil. Sanggar-sanggar tari di Mimika pun akan mengambil bagian secara sukarela, tanpa meminta bayaran.

Mereka menyumbangkan apa yang mereka miliki: suara, gerak, waktu, dan energi.

Musik akan menjadi bahasa yang menyatukan. Tarian akan menjadi gerak yang menghidupkan suasana. Dan di antara keduanya, terselip pesan bahwa solidaritas tidak selalu harus datang dalam bentuk besar.

Kadang, sebuah lagu yang dinyanyikan dengan tulus pun dapat menjadi cara untuk memeluk mereka yang sedang jauh.

Di tengah rangkaian pertunjukan, masyarakat akan diajak berhenti sejenak dari riuh panggung. Lampu akan diredupkan. Seribu lilin kemudian dinyalakan.

Nyala kecil itu akan menjadi simbol doa masyarakat Mimika bagi keluarga-keluarga di NTT yang sedang menghadapi masa sulit.

Di balik setiap api kecil, ada harapan agar mereka yang kehilangan rumah dapat menemukan tempat berlindung; agar anak-anak yang ketakutan kembali merasakan aman; dan agar keluarga yang berduka memperoleh kekuatan untuk melanjutkan kehidupan.

Donasi Disalurkan melalui Flobamora

Masyarakat yang hadir dapat memberikan bantuan secara tunai maupun nontunai. Panitia menyediakan kode QRIS di lokasi konser untuk memudahkan masyarakat menyalurkan donasi.

Dana yang terkumpul selanjutnya akan diserahkan kepada pengurus Kerukunan Keluarga Flobamora untuk diteruskan kepada masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur.

Polres Mimika berharap konser amal tersebut tidak hanya menjadi kegiatan penggalangan dana, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Di tengah bencana, sekat-sekat identitas semestinya menjadi semakin tipis. Suku, agama, daerah asal, dan latar belakang sosial tidak seharusnya menjadi jarak ketika kemanusiaan membutuhkan uluran tangan.

Ketika Solidaritas Menyeberangi Jarak

Bencana selalu mengajarkan satu hal sederhana: manusia mungkin dipisahkan oleh pulau dan ribuan kilometer, tetapi penderitaan tidak pernah mengenal batas geografis. Gempa di NTT pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah wilayah yang sedang berduka, melainkan tentang sesama warga Indonesia yang membutuhkan dukungan. Karena itu, konser amal “Mimika for NTT” menjadi lebih dari sekadar panggung penggalangan dana—ia merupakan bentuk solidaritas publik, ketika seni, institusi kepolisian, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama untuk mengubah rasa iba menjadi tindakan nyata.

Konser “Mimika for NTT” membawa pesan yang sederhana, tetapi dalam: bantuan sekecil apa pun dapat menjadi seberkas harapan bagi mereka yang sedang berjuang.

Dan ketika seribu lilin menyala di tengah malam Timika, cahaya itu mungkin kecil jika dipandang satu per satu.

Namun bila dinyalakan bersama, ia menjadi terang.

Dari Mimika untuk NTT, malam itu bukan sekadar tentang seribu lilin—melainkan tentang seribu pesan bahwa mereka yang sedang berduka tidak pernah berjalan sendirian.

Example 300250