MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di wilayah pedalaman Mimika itu membawa satu kabar yang sedikit lebih terang dari hari-hari sebelumnya.
Senin, 14 September 2026, langkah penyelamatan warga sipil kembali menemukan titik terang. Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, berhasil menjemput Nemerina Uamang (17), salah satu dari sembilan perempuan yang sebelumnya menjadi korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Nemerina dijemput di Kampung Bela 1, Distrik Alama.
Ia diketahui masih dalam kondisi hamil muda dan berasal dari Kampung Pilikogom.
Di tengah wilayah yang masih dibayangi ketegangan keamanan, kepulangan Nemerina menjadi lebih dari sekadar sebuah proses evakuasi. Ia menjadi tanda bahwa di antara kecemasan, penyanderaan, dan kekerasan bersenjata, jalan untuk menyelamatkan warga sipil masih terus dicari.
Penjemputan tersebut merupakan bagian dari upaya penyelamatan warga sipil yang menjadi korban penculikan dan penembakan kelompok bersenjata di wilayah Jila.
Dari Jila, tragedi itu bermula
Peristiwa yang menjadi latar penyelamatan itu terjadi pada 17 Agustus 2026 di Kampung Eralmakawiya, Distrik Jila.
Dalam insiden tersebut, seorang anggota TNI dari Satgas Pam Obvit Yonif 133 dilaporkan gugur. Dua anggota lainnya mengalami luka-luka.
Setelah peristiwa itu, situasi keamanan di kawasan tersebut menjadi perhatian serius. Warga sipil yang berada di tengah situasi konflik pun menghadapi risiko yang tidak kecil.
Proses evakuasi kemudian melibatkan personel gabungan dari Polda Papua Tengah, Polres Mimika, Satgas Damai Cartenz 2026, dan Brimob.
Di tengah operasi keamanan tersebut, keselamatan warga sipil menjadi salah satu perhatian utama.
Sinergi Kapolda dan Ketua MRP
Keberhasilan menjemput Nemerina juga memperlihatkan adanya sinergi antara Kapolda Papua Tengah Brigadir Jenderal Polisi Jermias Rontini dan Ketua MRP Papua Tengah Agustinus Anggaibak dalam upaya penyelamatan warga sipil di tengah situasi keamanan yang masih rawan di Distrik Jila.
Dalam situasi konflik bersenjata, penyelamatan warga sipil tidak selalu dapat diletakkan hanya pada pendekatan keamanan. Kehadiran lembaga representasi masyarakat Papua bersama aparat menjadi penting ketika tujuan yang hendak dicapai adalah memastikan warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan, dapat keluar dari situasi berbahaya dengan selamat. Karena itu, keberhasilan menjemput satu korban juga membawa pesan bahwa koordinasi, komunikasi, dan keberanian mengambil langkah kemanusiaan memiliki ruang penting di tengah situasi yang penuh risiko.
Sebelumnya, Polres Mimika merilis data sembilan perempuan yang disebut menjadi korban penyanderaan kelompok bersenjata di wilayah Jila.
Mayoritas korban masih berusia anak-anak.
Mereka adalah:
- Nemerina Uamang (17) — hamil muda, asal Kampung Pilikogom.
- Alin Mesawarol — pelajar kelas 6 SD, asal Kampung Jila.
- Nopi Aim — pelajar kelas 4 SD, asal Kampung Jila.
- Opinte Mesawaro — pelajar kelas 3 SD, asal Kampung Jila.
- Yotina Senawatme (18) — asal Kampung Noema.
- Meria Nibilingame (15) — asal Kampung Pilikogom.
- Wena Katagame (18) — asal Kampung Bunaraigin.
- Ilimin Onawame (18) — asal Kampung Noema.
- Miante Nibilingame (13) — asal Kampung Bunaraigin.
Satu telah kembali, delapan menunggu
Kepulangan Nemerina menjadi perkembangan terbaru dalam rangkaian upaya penyelamatan warga sipil yang masih berada dalam situasi konflik di Distrik Jila.
Namun, perjalanan belum selesai.
Masih ada delapan korban lainnya yang keselamatannya menjadi perhatian berikutnya bagi aparat keamanan dan pemerintah.
Di balik nama-nama yang tercatat dalam daftar itu, ada usia yang masih terlalu muda untuk mengenal kerasnya konflik. Ada anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas, bukan berada dalam bayang-bayang ancaman senjata. Ada pula keluarga yang menunggu kepastian kepulangan orang-orang yang mereka cintai.
Nemerina telah menemukan jalan pulang.
Kini, harapan yang sama diarahkan kepada delapan perempuan lainnya.
Sebab di tengah konflik, kemenangan paling manusiawi bukanlah ketika seseorang berhasil menguasai wilayah, melainkan ketika seorang anak dapat kembali ke rumah tanpa membawa perang di dalam hidupnya.


















