ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Di antara bunyi tukang yang bekerja dan harapan umat yang terus dipanjatkan, sebuah rumah Tuhan di Stasi Motabuik perlahan menemukan bentuk akhirnya. Dinding-dindingnya telah berdiri, ruang ibadahnya mulai memperlihatkan wajah, dan perjalanan panjang pembangunan Kapela Stasi Motabuik kini memasuki babak penentuan.
Kapela Stasi Motabuik, Paroki St. Antonius Padu Nela, Keuskupan Atambua, berdasarkan perhitungan panitia pembangunan telah mencapai 86 persen. Masih tersisa 14 persen pekerjaan yang harus dituntaskan sebelum rumah ibadah itu benar-benar berdiri dalam kesempurnaan yang diharapkan umat.
Ketua Panitia Pembangunan Kapela Stasi Motabuik, Hendrikus Ati, melalui Sekretaris Panitia Pembangunan Gaspar Kopong Kelen, kepada Redaksi Lintastimor, Senin (14/9/2026) di Atambua, menjelaskan enam pekerjaan utama masih menanti penyelesaian.
Enam pekerjaan tersebut meliputi pengecoran lantai bagian kiri gereja, pemasangan kaca patri, pengecatan dinding gereja, pemasangan keramik, pemasangan plafon, serta pengadaan pintu dan bangku.
Pengecoran lantai bagian kiri gereja diperkirakan selesai pada akhir September 2026. Pada waktu yang sama, pengecatan dinding gereja dan menara juga direncanakan mulai dikerjakan.
Sementara itu, pemasangan kaca patri dilakukan secara bertahap. Tahap pertama direncanakan pada awal Oktober 2026, khusus pada bagian altar dan menara. Adapun kaca patri untuk jendela sebanyak 96 lembar diperkirakan baru dapat dipasang pada Desember 2026.
“Rumah Tuhan ini sudah berada di 86 persen. Yang tersisa bukan hanya pekerjaan bangunan, tetapi juga tanggung jawab bersama untuk mengantarnya sampai selesai.”
Gaspar mengatakan, untuk pengadaan pintu dan bangku, panitia telah berkomunikasi dengan tukang dari Misi SVD Nenuk. Namun, pekerjaan pembuatan plafon dan pemasangan keramik belum dapat direncanakan secara pasti karena panitia masih menghadapi kendala pembiayaan.
Pembangunan kapela tersebut melibatkan 896 kepala keluarga dengan total iuran pembangunan sebesar Rp1,6 miliar. Hingga kini, dana tersebut belum seluruhnya terkumpul karena masih berada di tangan umat dalam bentuk kewajiban iuran yang belum dilunasi.
Karena itu, panitia berharap para pengurus lingkungan dan pengurus KUB dapat lebih proaktif membantu mengingatkan sekaligus menggerakkan umat untuk menyelesaikan iuran pembangunan. Bagi panitia, percepatan pelunasan iuran menjadi salah satu kunci penting untuk menentukan tahapan pekerjaan berikutnya.
Secara kontekstual, capaian 86 persen menunjukkan bahwa pembangunan Kapela Stasi Motabuik telah melewati sebagian besar tahapan fisik. Namun, 14 persen yang tersisa justru menjadi fase yang membutuhkan konsolidasi umat paling kuat, sebab pekerjaan akhir seperti plafon, keramik, pintu, bangku, dan kaca patri membutuhkan kepastian pembiayaan. Dalam pembangunan rumah ibadah, penyelesaian bukan hanya persoalan konstruksi, melainkan juga ukuran dari kekuatan gotong royong komunitas yang menopangnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, panitia tidak hanya menunggu dana dari internal umat. Gaspar menjelaskan, panitia pembangunan terus mencari dukungan dari berbagai pihak dengan mengajukan proposal kepada instansi pemerintah maupun pihak swasta untuk memperoleh bantuan dana atau material yang dibutuhkan.
Langkah itu menjadi bagian dari ikhtiar panjang agar pembangunan kapela tidak berhenti di angka 86 persen. Sebab, bagi umat Stasi Motabuik, setiap lantai yang dicor, setiap kaca patri yang dipasang, setiap dinding yang dicat, hingga setiap bangku yang kelak memenuhi ruang gereja, merupakan bagian dari perjalanan iman yang dikerjakan bersama.
Pada akhirnya, sebuah rumah Tuhan tidak hanya dibangun dari semen, besi, kaca, keramik dan kayu. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang rela memberi, dari umat yang setia memenuhi tanggung jawab, dan dari doa yang tidak pernah putus. Kapela Motabuik kini menanti sentuhan terakhir—agar 86 persen perjuangan dapat menemukan makna utuh dalam 100 persen pengabdian.


















