Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Julie Sutrisno Laiskodat: Idul Adha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tetapi Menyembelih Ego dan Sifat Buruk Manusia

116
×

Julie Sutrisno Laiskodat: Idul Adha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tetapi Menyembelih Ego dan Sifat Buruk Manusia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Keterangan Foto
Penyerahan hewan kurban dari Perwakilan Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat kepada Takmir Masjid Ataqwa Witihama.

LARANTUKA |LINTASTIMOR.ID — Malam di tanah Lamaholot terasa berbeda. Gema takbir memantul dari pesisir hingga perbukitan, menjelma menjadi irama langit yang menggetarkan batin. Dari musala kecil di sudut kampung hingga masjid-masjid besar yang berdiri teduh di Flores Timur, suara “Allahu Akbar” bersahutan seperti doa yang berlayar perlahan menembus angin malam, Rabu (27/05/2026).

Example 300x600

Di tengah cahaya lampu kampung yang temaram, masyarakat larut dalam suasana Idul Adha 1447 Hijriah. Anak-anak berlari kecil mengenakan pakaian terbaik mereka, para orang tua menebar senyum penuh syukur, sementara aroma persaudaraan terasa begitu dekat di setiap jabat tangan dan pelukan hangat.

Momentum sakral itu kembali menghadirkan kepedulian Anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat, yang selama ini dikenal konsisten hadir bersama masyarakat Nusa Tenggara Timur dalam berbagai momentum keagamaan dan kemanusiaan.

Melalui perwakilan, politisi Partai NasDem tersebut menyerahkan satu ekor sapi kurban kepada Takmir Masjid Ataqwa Witihama yang diterima langsung oleh panitia pemotongan hewan kurban tahun 2026.

Bagi Julie, Idul Adha bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan peristiwa spiritual yang mempertemukan dua ibadah besar umat Islam: ibadah haji dan ibadah kurban — dua jalan penghambaan yang lahir dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Ia mengingatkan kembali kisah agung tentang Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS — anak yang sangat dicintainya.

Dengan penuh keikhlasan dan kepatuhan, Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut. Bahkan ketika pisau telah berada di leher Ismail, Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor kambing jantan sebagai bukti bahwa keimanan sejati lahir dari ketundukan total kepada Sang Pencipta.

Kisah itu, menurut Julie, menjadi cermin tentang arti pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan manusia kepada Tuhan.

«╔════════════════════════════════╗
“Momen Idul Adha adalah tindakan nyata untuk menyadarkan diri kita, bahwa peduli harus terus dibangun untuk memberikan manfaat bagi sesama.”
╚════════════════════════════════╝»

Julie menilai Idul Adha juga menjadi simbol kekuatan ideologi dan sejarah umat Islam. Sebab di dalamnya terdapat pesan besar tentang pengorbanan, solidaritas sosial, dan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan iman.

Ia menyinggung bagaimana antusiasme umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji tidak pernah surut. Bahkan, dari tahun ke tahun, daftar tunggu keberangkatan terus memanjang, memperlihatkan betapa kuatnya kerinduan umat menuju Tanah Suci.

Menurutnya, ibadah haji sejatinya adalah pengejawantahan perjalanan hidup manusia untuk merefleksikan diri, membersihkan hati, dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Di tengah dunia yang kian sibuk oleh ambisi dan persaingan, pesan Idul Adha justru hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya diminta menyembelih hewan kurban, tetapi juga menyembelih keserakahan, egoisme, kebencian, dan sifat-sifat buruk yang menggerus nilai kemanusiaan.

Tradisi berbagi daging kurban kepada masyarakat, lanjut Julie, merupakan simbol kasih sayang sosial yang melampaui sekat status, ekonomi, maupun latar belakang kehidupan.

«╔══════════════════════════════════════╗
“Idul kurban adalah bukti berbagi kasih kepada sesama. Semoga Allah menjadikan setiap helaan napas umat-Nya sebagai bukti cinta dan pengorbanan bagi sesama manusia.”
╚══════════════════════════════════════╝»

Momentum Idul Adha di Flores Timur tahun ini pun terasa bukan hanya sebagai perayaan religius, tetapi juga ruang permenungan bersama tentang arti kepedulian dan ketulusan di tengah kehidupan sosial yang terus berubah.

Dan ketika gema takbir perlahan mereda di langit Lamaholot, tersisa satu pesan yang diam-diam menetap di hati banyak orang: bahwa pengorbanan terbesar manusia sejatinya bukan pada apa yang disembelih di altar kurban, melainkan pada keberanian mengalahkan dirinya sendiri.

Example 300250