Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MappiKabupaten MimikaKesehatanNasionalPeristiwa

Jila Mengungsi, Bantuan Datang Menembus Pegunungan

7
×

Jila Mengungsi, Bantuan Datang Menembus Pegunungan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Ketika suara senjata mengusik ketenangan kampung, warga memilih menyelamatkan diri. Dari sejumlah kampung di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, ratusan orang bergerak menuju ibu kota distrik setelah kontak tembak antara prajurit TNI dan kelompok bersenjata terjadi di Kampung Eralmakawiya, 17 Agustus 2026.

Halaman dan kawasan sekitar Kantor Distrik Jila kemudian berubah menjadi ruang perlindungan sementara. Perempuan dan anak-anak berada di antara warga yang meninggalkan kampung halaman karena khawatir terhadap kondisi keamanan.

Example 300x600

Mereka datang bukan untuk meninggalkan tanah kelahiran, melainkan mencari tempat yang dianggap lebih aman sambil menunggu situasi kembali terkendali.

Kontak tembak tersebut dilaporkan menyebabkan seorang prajurit TNI gugur dan dua prajurit lainnya terluka.

Hingga kini, belum diketahui secara pasti jumlah warga dari masing-masing kampung yang mengungsi maupun kapan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.

Tujuh Ratus Kilogram Menembus Jila

Di tengah ketidakpastian itu, kebutuhan dasar warga menjadi perhatian. Pemerintah Kabupaten Mimika bersama TNI mengirimkan 700 kilogram bahan pokok dari Timika menuju Jila.

Logistik tersebut diangkut menggunakan pesawat Caravan milik TNI Angkatan Udara. Pengiriman dilakukan melalui koordinasi Bupati Mimika Johannes Rettob, Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol Infanteri Teuku Jozanda, dan Komandan Pangkalan TNI AU Yohanis Kapiyau Kolonel Penerbang Taufik Andriadi.

Beras, telur, mi instan, dan minyak goreng menjadi bagian dari bantuan yang dikirimkan. Sesampainya di Jila, seluruh bantuan diturunkan dan kemudian disalurkan kepada warga yang bertahan di lokasi pengungsian.

Personel Koramil Jila bersama anggota Polsek Jila turut terlibat dalam proses distribusi. Di halaman Kantor Distrik Jila, warga terlihat mengantre menerima paket sembako.

Di antara antrean itu, ada rasa lega yang berjalan beriringan dengan kecemasan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bupati Mimika dan Komandan Kodim 1710/Mimika karena telah membantu masyarakat yang sedang mengungsi di Jila,” kata warga Jila, Yohana Kibak.

Bantuan Tak Berhenti Hari Ini

Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan pengiriman bantuan tersebut merupakan langkah kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan sementara masyarakat yang mengungsi di ibu kota Distrik Jila.

“Hari ini bantuan kemanusiaan kami kirimkan dari Timika kepada masyarakat Jila yang sedang mengungsi di ibu kota distrik. Bantuan akan terus disalurkan kepada masyarakat,” ujar Johannes.

Pemerintah Kabupaten Mimika menyatakan pengiriman logistik tidak berhenti pada tahap pertama. Bantuan lanjutan akan disesuaikan dengan kebutuhan warga selama mereka masih berada di lokasi pengungsian.

Namun, hingga kini belum ada keterangan terperinci mengenai jumlah keseluruhan pengungsi, kondisi kesehatan mereka, ketersediaan tempat tinggal sementara, maupun persediaan makanan untuk beberapa hari ke depan.

Pulang Masih Menjadi Pertanyaan

Bagi warga Jila, persoalan belum selesai ketika bantuan tiba. Mereka masih bertahan di lokasi pengungsian karena mengkhawatirkan keamanan di kampung asal.

Belum ada kepastian kapan mereka dapat kembali.

Dalam situasi seperti ini, bantuan pangan merupakan kebutuhan mendesak, tetapi perlindungan warga membutuhkan lebih dari sekadar makanan. Pemerintah dan pihak terkait perlu memastikan ketersediaan air bersih, sanitasi, tempat berlindung yang layak serta pelayanan kesehatan, terutama bagi perempuan, anak-anak, warga lanjut usia dan kelompok rentan lainnya.

Pada saat yang sama, kepastian mengenai kondisi keamanan di kampung-kampung yang ditinggalkan menjadi penting. Warga membutuhkan informasi yang jelas sebelum memutuskan kembali ke rumah dan menjalankan kehidupan mereka seperti sediakala.

Sebab bagi mereka yang mengungsi, rumah bukan sekadar bangunan untuk pulang. Rumah adalah tanah tempat mereka menanam harapan, membesarkan anak, dan menggantungkan kehidupan.

Dan selama rasa aman belum kembali, jalan pulang ke Jila masih menjadi perjalanan yang menunggu kepastian.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe