Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Jila Memanas, BEM Timika Desak Pemerintah Bertindak

33
×

Jila Memanas, BEM Timika Desak Pemerintah Bertindak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya reda di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, kabar tentang dugaan penyanderaan sembilan perempuan pada 17 Agustus 2026 menambah kecemasan di tengah masyarakat.

Informasi itu belum dapat diverifikasi secara independen. Kondisi dan keberadaan sembilan perempuan tersebut juga belum diketahui secara pasti, termasuk pihak yang diduga melakukan penyanderaan.

Example 300x600

Namun, bagi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Timika, kabar tersebut cukup menjadi alasan bagi pemerintah dan aparat keamanan untuk bergerak cepat. Ketua BEM Universitas Timika, Marinus Dolame, mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika dan seluruh unsur terkait segera mengambil langkah untuk meredakan konflik sekaligus memastikan keselamatan warga sipil.

“Kami menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah daerah, bupati, wakil bupati, DPR, MRP, Kapolri, dan Kapolres Mimika agar segera menangani masalah ini supaya tidak terjadi lagi,” kata Marinus.

Menurut dia, situasi keamanan di Jila telah mengganggu kehidupan masyarakat. Karena itu, penanganan konflik tidak boleh berhenti pada pengerahan kekuatan keamanan, tetapi harus disertai komunikasi yang membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan mereka.

Ketika Keamanan Justru Membayangi Warga

Marinus meminta pemerintah dan aparat keamanan mempertimbangkan secara matang dampak penambahan pasukan terhadap masyarakat sipil. Ia khawatir pengerahan personel tambahan tanpa komunikasi yang baik justru memperbesar rasa takut warga.

“Apabila pemerintah daerah atau TNI-Polri semakin menambah pasukan di sana, masyarakat kami akan semakin kesulitan,” ujarnya.

Ia menilai penyelesaian konflik membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Kepala kampung, kepala distrik, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, gereja, hingga mahasiswa dinilai perlu dilibatkan dalam membangun komunikasi di tengah ketegangan.

Bagi Marinus, masyarakat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai objek dari kebijakan keamanan. Mereka harus menjadi bagian dari upaya mencari jalan keluar.

Ia mengusulkan adanya pertemuan antara perwakilan masyarakat Jila dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Pertemuan tersebut diharapkan melibatkan Bupati Mimika, Wakil Bupati Mimika, DPR, MRP, serta unsur keamanan.

“Perlu koordinasi untuk mencari cara menurunkan ketegangan karena situasi di distrik tersebut sedang memanas,” katanya.

Warga Terjepit di Antara Dua Tekanan

Marinus menggambarkan masyarakat sipil di Jila berada dalam posisi yang rentan. Di satu sisi terdapat ancaman dari kelompok bersenjata, sementara di sisi lain kehadiran aparat keamanan dalam jumlah besar juga disebut dapat memunculkan tekanan psikologis bagi warga.

“Masyarakat tidak akan tenang. Dari pihak OPM mengganggu, dari pihak TNI-Polri juga mengganggu. Mereka akan kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, transportasi, serta bepergian dengan bebas,” ujarnya.

Ia meminta seluruh pihak menempatkan keselamatan masyarakat sipil sebagai prioritas. Akses warga terhadap pelayanan kesehatan dan transportasi, kata dia, harus tetap dijamin meskipun situasi keamanan sedang memburuk.

Desakan tersebut muncul setelah kontak senjata di Kampung Eralmakawiya, Distrik Jila, pada 17 Agustus 2026. Peristiwa itu menyebabkan warga dari sejumlah kampung mengungsi ke ibu kota distrik. Dalam kejadian tersebut, seorang prajurit TNI dilaporkan gugur dan dua prajurit lainnya terluka.

Konflik dan Ruang Sipil yang Menyempit

Situasi Jila memperlihatkan betapa cepat konflik keamanan dapat merembet ke ruang kehidupan masyarakat. Ketika perjalanan menjadi terbatas, pelayanan kesehatan terganggu, dan warga harus meninggalkan kampung untuk mencari tempat yang dianggap lebih aman, konflik tidak lagi hanya menjadi persoalan antara kelompok bersenjata dan aparat. Dampaknya menyentuh kehidupan sipil sehari-hari.

Karena itu, informasi mengenai dugaan penyanderaan sembilan perempuan perlu ditangani secara hati-hati dan transparan. Verifikasi menjadi penting agar kabar yang beredar tidak memperbesar ketakutan masyarakat, sementara langkah penyelamatan harus tetap menjadi prioritas apabila informasi tersebut terbukti benar.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Mimika, Kepolisian Resor Mimika, maupun TNI mengenai desakan Marinus ataupun informasi dugaan penyanderaan sembilan perempuan tersebut.

Di Jila, di antara suara senjata dan langkah warga yang mencari keselamatan, yang paling mendesak untuk dijaga bukan hanya wilayah, melainkan manusia—sebab ketika rasa aman hilang dari sebuah kampung, kehidupan ikut kehilangan rumahnya.

Example 300250