Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwa

Di Tengah Debu dan Doa, Gereja Motabuik Perlahan Menjelma Rumah Iman Umat

255
×

Di Tengah Debu dan Doa, Gereja Motabuik Perlahan Menjelma Rumah Iman Umat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID-Pagi di Motabuik belum sepenuhnya terbangun ketika suara semen diaduk dan denting palu kembali memecah sunyi. Di halaman Gereja Stasi Motabuik, di Asuulun , aroma kerja keras bercampur dengan harapan umat yang tumbuh diam-diam dari hari ke hari. Batu demi batu ditata bukan sekadar menjadi bangunan, melainkan menjadi rumah doa yang lahir dari pengorbanan dan cinta bersama.

Ketua II Panitia Pembangunan Gereja Stasi Motabuik, Paulus Seran Tameu, kepada wartawan, Senin (25/5/2026) pagi, mengatakan bahwa progres pembangunan gereja hingga saat ini terus berlangsung dengan perkembangan yang cukup signifikan.

Example 300x600

Pekerjaan plester, kata Paulus, telah selesai pada minggu lalu dan kini dilanjutkan dengan pencoran anak tangga altar. Sementara itu, seluruh jendela dan bingkai kaca sudah terpasang sepenuhnya.

Saat ini, para tukang tengah menyelesaikan pembuatan lima anak tangga altar. Sebagian pekerja lainnya merapikan ruang sakristi dan ruang adorasi, sedangkan Nelis terlihat fokus membenahi tiang menara bagian tengah gereja.

╔════════ ❀•°❀°•❀ ════════╗
“Semoga semuanya berjalan lancar. Partisipasi umat stasi cukup bagus, terutama dalam pengumpulan dana sumbangan yang terus berjalan. Harapan kami, dana dapat segera terkumpul baik dari umat sebagai donatur utama maupun dari para donatur di luar umat,”
Paulus Seran Tameu
╚════════ ❀•°❀°•❀ ════════╝

Paulus Seran Tameu juga menyebut susunan panitia pembangunan Gereja Stasi Motabuik, yakni Ketua I Hendrikus Ati, Ketua II Paulus Seran Tameu, Sekretaris Albertus Tubani, Bendahara Gaspar Kopong Kelen, dan Ketua Teknis Pembangunan Stefanus Sintidu.

Sementara itu, Bendahara Panitia Pembangunan Gereja Stasi Motabuik, Gaspar Kopong Kelen, mengatakan bahwa progres pembangunan gereja saat ini telah mencapai sekitar 80 persen.

Pembangunan gereja di wilayah-wilayah stasi pedalaman seperti Motabuik sejatinya bukan hanya tentang mendirikan tembok atau menara. Ia adalah gambaran nyata tentang solidaritas umat kecil yang perlahan mengumpulkan harapan dari hasil kebun, keringat, dan doa-doa sederhana. Ketika dana datang tersendat, semangat gotong royong justru menjadi fondasi yang paling kokoh menopang perjalanan pembangunan itu sendiri.

Di Motabuik, gereja yang sedang dibangun itu perlahan menjadi saksi bahwa iman tidak selalu tumbuh dalam kemewahan. Kadang, ia lahir dari tangan-tangan sederhana yang tetap bekerja meski debu menempel di wajah dan lelah menggantung di bahu—karena mereka percaya, suatu hari lonceng gereja itu akan berdentang memanggil umat dalam rumah Tuhan yang dibangun dari cinta bersama.

Example 300250