Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Dari Tomohon ke UGM, Jejak Akademik Markus Aim

4
×

Dari Tomohon ke UGM, Jejak Akademik Markus Aim

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Jauh dari tanah kelahirannya, perjalanan akademik Markus Aim, S.K.M., M.P.H., tumbuh dari sebuah kesempatan yang kemudian menjelma menjadi perjalanan panjang. Dari ruang kelas di Tomohon, berlanjut ke Manado, hingga akhirnya menjejak Yogyakarta, pendidikan menjadi jalan yang ditempuhnya untuk membangun pengetahuan, pengalaman, sekaligus pengabdian.

Perjalanan itu bermula pada 2007. Markus menjadi salah satu penerima Program Beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) untuk menempuh pendidikan di luar Papua.

Example 300x600

Ia kemudian bersekolah di SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Sulawesi Utara, selama tiga tahun, dari 2007 hingga 2010. Di kota yang jauh dari tanah asalnya itu, masa sekolah menjadi fase awal yang memperkenalkan Markus pada lingkungan pendidikan sekaligus pengalaman hidup yang lebih luas.

Tiga tahun di Tomohon tidak sekadar menjadi rentang waktu untuk menyelesaikan pendidikan menengah. Di sana, pengetahuan mulai dibangun, pengalaman dikumpulkan, dan karakter ditempa sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan akademik ke jenjang berikutnya.

Setelah menamatkan SMA Lokon, langkah Markus kembali bergerak. Pada 2010, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Ia memilih bidang Kesehatan Masyarakat dan menyelesaikan pendidikannya pada 2015 dengan meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.).

Perjalanan itu sempat memiliki jeda sebelum kembali berlanjut pada 2020. Markus kemudian memilih Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, untuk memperdalam bidang Kesehatan Masyarakat pada jenjang magister.

Selama 2020–2023, ia menjalani pendidikan di UGM hingga akhirnya meraih gelar Master of Public Health (M.P.H.). Dengan demikian, perjalanan akademiknya membentang melalui tiga institusi pendidikan: SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, Universitas Sam Ratulangi Manado, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Bagi Markus, rangkaian pendidikan tersebut bukan semata-mata perjalanan mengejar gelar. Setiap jenjang memiliki pengalaman dan proses yang ikut membentuk dirinya. Dari situlah ia melihat pendidikan sebagai bagian penting dalam mempersiapkan diri untuk memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

“Perjalanan pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk pengetahuan, pengalaman, karakter, serta komitmen saya untuk terus memberikan pengabdian bagi masyarakat.”

Pernyataan Markus tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian akademik baginya bukanlah garis akhir. Gelar S.K.M. dari Unsrat dan M.P.H. dari UGM menjadi bagian dari proses panjang untuk memperkuat pengetahuan dan kapasitas, sementara pengalaman pendidikan di luar Papua menjadi ruang pembentukan karakter dan cara pandang.

Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia Papua, perjalanan seperti yang ditempuh Markus memperlihatkan arti penting akses terhadap pendidikan di luar daerah. Kesempatan belajar di lingkungan yang berbeda membuka ruang bagi seseorang untuk memperluas wawasan, membangun pengalaman, dan mengembangkan kompetensi yang pada akhirnya dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat.

Dari Tomohon, perjalanan itu menemukan pijakan. Dari Manado, langkah akademiknya semakin kokoh. Dan di Yogyakarta, pendidikan magister menjadi babak berikutnya yang melengkapi perjalanan tersebut.

Jika seluruh perjalanan itu dirangkai dalam satu garis waktu, Markus bukan hanya sedang mencatat tiga jenjang pendidikan. Ia sedang menuliskan kisah tentang kesempatan yang dijaga dengan ketekunan—dari sebuah beasiswa YPMAK pada 2007 hingga gelar magister yang diraih pada 2023.

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang sejauh mana seseorang pergi untuk menuntut ilmu, melainkan tentang seberapa jauh ilmu itu kelak dibawa pulang untuk menjadi pengabdian bagi masyarakat.

Example 300250
Penulis: Redaksi lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe