JAKARTA |LINTASTIMOR.ID — Ada perjalanan yang tidak dapat diukur hanya dengan hasil seleksi. Ia diukur dari air mata yang diam-diam jatuh dalam doa, dari langkah-langkah kecil yang dijalani tanpa keluhan, dan dari keyakinan yang tetap menyala ketika manusia hanya mampu berharap kepada Tuhan.
Begitulah kisah yang kini disyukuri keluarga Kapolsek Tasifeto Barat, Polres Belu, Polda NTT, Maksi Disyon I. Ninu, setelah putra sulungnya, Junior A. Ninu (BOT Jr. Ninu), resmi dinyatakan lulus terpilih sebagai Bintara Intelijen Polri pada hasil seleksi yang diumumkan 3 Juli 2026.
Bagi keluarga Ninu, pengumuman itu bukan sekadar kabar kelulusan. Ia menjadi penegasan bahwa setiap doa yang dipanjatkan selama bertahun-tahun tidak pernah sia-sia.
“Kami sadar sebagai manusia tidak memiliki kuasa. Karena itu seluruh proses anak kami kami serahkan kepada Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan. Kami percaya, ketika seluruh harapan digantungkan kepada-Nya, kami tidak akan pulang dengan tangan kosong.”
Ungkapan syukur itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak sederhana. Selama sekitar tiga bulan mengikuti seluruh rangkaian seleksi, keluarga memilih menjadikan doa sebagai kekuatan utama, sembari meyakini bahwa apa yang telah ditetapkan Tuhan tidak akan pernah tertukar.
Mereka percaya, jauh sebelum Junior lahir dan dipercayakan sebagai anak dalam keluarga, Tuhan telah lebih dahulu menetapkan jalan hidupnya. Kini, setelah menapaki usia 17 tahun 7 bulan, keyakinan itu mereka rasakan menjadi kenyataan.
Lahir di Atambua, 15 November 2008, Junior merupakan putra dari Maksi Disyon I. Ninu dan Anie O. Nenoliu. Di balik keberhasilannya, tersimpan disiplin yang dibangun sejak duduk di bangku SMA kelas I.
Hampir setiap hari ia menjalani latihan lari, menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah, mengurus ternak ayam, mengikuti pelajaran sekolah, belajar melalui les privat di rumah, bimbingan belajar daring, hingga bimbingan belajar tatap muka. Rutinitas yang padat itu dijalaninya tanpa banyak mengeluh.
“Engkau tidak pernah mengeluh sedikit pun. Hari-harimu dipenuhi latihan, belajar, membantu pekerjaan rumah, dan mempersiapkan diri. Hari ini semua itu terjawab oleh hasil usahamu sendiri yang diberkati Tuhan.”
Bagi kedua orang tuanya, keberhasilan tersebut bukan semata-mata buah kerja keras sang anak. Mereka meyakini ada kekuatan doa yang terus mengalir dari keluarga besar.
Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada seluruh keluarga di Ayotupas, Manufui, Loli, Besikama, dan Atambua, yang tanpa henti memberikan dukungan dan doa selama proses seleksi berlangsung. Penghargaan khusus juga diberikan kepada Om Fndi Arito, Tanta Isty, Om Mardi Nnliu, Bot Sefrid Ninu, serta Tii Rhudi Nikodemus Ninu, yang selama ini selalu mendampingi dan mendoakan perjalanan Junior sejak kecil.
“Keberhasilan ini bukan hanya milik anak kami. Ini adalah buah dari doa seluruh keluarga. Anak kecil yang dahulu kalian gendong, hari ini telah melangkah meraih cita-citanya. Tuhan sungguh mengasihi kita semua.”
Keberhasilan Junior juga menjadi gambaran bahwa proses pembentukan karakter tidak pernah lahir secara instan. Disiplin, konsistensi, dukungan keluarga, dan keteguhan iman merupakan fondasi yang saling menguatkan. Dalam seleksi yang menuntut kesiapan fisik, mental, intelektual, dan integritas, perjalanan panjang seperti inilah yang sering kali menjadi pembeda antara harapan dan keberhasilan.
Bagi keluarga Ninu, kisah ini sengaja dituliskan sebagai jejak yang kelak dapat dikenang oleh anak-anak mereka.
Sebab pada akhirnya, setiap keberhasilan bukan hanya tentang mencapai tujuan, melainkan juga tentang mengingat siapa yang menuntun setiap langkah hingga garis akhir. Dan bagi keluarga ini, 3 Juli 2026 akan selalu dikenang sebagai hari ketika doa, kerja keras, dan penyertaan Tuhan bertemu dalam satu jawaban yang indah.


















