Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Kabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Besok Bama Dikirim, Rettob Desak Anak Kembali

6
×

Besok Bama Dikirim, Rettob Desak Anak Kembali

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di Jila, ketakutan kini berjalan lebih cepat daripada langkah warga menuju kebun. Aktivitas sehari-hari terhenti, sebagian pelayanan publik ditarik sementara, sementara keluarga menunggu kabar tentang orang-orang yang disebut dibawa secara paksa oleh kelompok bersenjata.

Pemerintah Kabupaten Mimika bersama TNI-Polri bergerak memulihkan situasi keamanan sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi. Mulai Jumat (21/8/2026), sebanyak tiga ton beras bersama peralatan memasak akan dikirim ke Jila menggunakan dukungan transportasi udara.

Example 300x600

Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan Jila adalah bagian dari Mimika dan karena itu keselamatan masyarakat di wilayah tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

“Masyarakat Jila itu masyarakat Mimika. Pemda terus berkoordinasi dengan TNI-Polri supaya situasi Jila bisa segera pulih,” kata Rettob dalam konferensi pers di Jalan Hasanuddin, Kamis (20/8/2026), didampingi Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda dan Kapolres Mimika AKBP Alfredo Rumbiak.

Perhatian pemerintah kini terutama tertuju pada informasi mengenai sejumlah warga, termasuk anak-anak, yang disebut dibawa kelompok bersenjata. Rettob menyatakan keprihatinan sekaligus meminta agar anak-anak tersebut segera dikembalikan kepada keluarganya dalam keadaan selamat.

“Saya pesan sekarang, kelompok yang bawa, tolong kembalikan kepada keluarga mereka. Kami berusaha supaya anak-anak bisa kembali kepada keluarga mereka,” ujar Rettob.

Ia mengatakan kondisi keamanan telah menimbulkan trauma di tengah masyarakat. Warga takut meninggalkan permukiman, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berkebun.

“Masyarakat Jila trauma, mereka ketakutan sehari-hari, tidak pergi ke kebun. Kami Pemda sudah siapkan bahan makanan. Mulai besok dikirim ke Jila,” katanya.

Pemkab Mimika telah berkoordinasi dengan kepala distrik untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap tersedia. Tiga ton beras dan peralatan memasak disebut telah disiapkan di hanggar dan akan diangkut menggunakan helikopter.

“Kami siapkan tiga ton beras, termasuk alat masak, sudah ada di hanggar. Besok helikopter akan ke sana sampai kebutuhan mereka terpenuhi,” ungkap Rettob.

Pelayanan Publik Dihentikan Sementara

Demi keselamatan, tenaga medis, guru, dan pegawai distrik untuk sementara telah dievakuasi dari Jila menuju Timika menggunakan helikopter. Konsekuensinya, pelayanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan di distrik tersebut sementara dihentikan hingga situasi keamanan dinilai memungkinkan.

“Dalam beberapa saat ke depan pelayanan pendidikan, kesehatan dan pemerintahan terhenti sementara. Kalau situasi sudah baik harus kembali ke Jila. Saya harap situasi ini cepat damai,” ujar Rettob.

Situasi keamanan juga berdampak pada konektivitas udara. Sebelumnya, penerbangan menuju Jila dilayani oleh dua operator. Namun, Pemkab Mimika telah menerima surat dari kedua operator mengenai penghentian penerbangan sementara.

Rettob berharap kondisi segera membaik karena sejumlah agenda pembangunan di Jila sedang memasuki proses tender. Ia khawatir gangguan keamanan berkepanjangan akan menghambat program pembangunan yang telah direncanakan.

“Kita harap segera aman karena beberapa kegiatan pembangunan di sana sedang tender. Takutnya situasi ini menghalangi proses pembangunan,” katanya.

Kemong: Timika Jangan Terprovokasi

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong mengimbau masyarakat di Kota Timika tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh perkembangan situasi di Jila.

“Kami harap warga di Kota Timika tetap tenang. Kita serahkan sepenuhnya kepada TNI-Polri agar situasi ini kembali pulih,” kata Kemong.

Pemkab Mimika, lanjut dia, akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan mobilisasi bahan makanan menuju Jila dapat berjalan.

“Kita harapkan saudara-saudara saya bisa mengembalikan anak-anak yang disandera ini,” ujarnya.

Polisi Profiling Kelompok Bersenjata

Kapolres Mimika AKBP Alfredo Rumbiak mengatakan kepolisian telah mengerahkan personel ke Jila. Sebanyak 16 personel dari 20 yang direncanakan telah diberangkatkan, sementara empat personel lainnya menyusul.

Personel tersebut terdiri dari unsur Brimob dan tim investigasi.

“Kami sudah turunkan 16 personel dari 20 orang yang direncanakan. Besok empat orang lagi,” kata Rumbiak.

Ia menyebut situasi pascakejadian relatif landai. Namun, informasi mengenai warga yang hilang masih didalami. Polisi juga tengah melakukan profiling terhadap kelompok yang diduga membawa warga.

Rumbiak membedakan istilah penyanderaan dan penculikan berdasarkan ada atau tidaknya permintaan dari pelaku.

“Kalau dibilang penyanderaan juga, tapi lebih ke penculikan. Kalau penyanderaan pasti ada permintaan sampai ke kami,” jelasnya.

Meski demikian, berdasarkan konfirmasi personel di lapangan, termasuk Polsek Jila dan Koramil, terdapat informasi mengenai warga yang dibawa secara paksa.

“Berdasarkan konfirmasi anggota kami, Polsek Jila dan Koramil memang ada penyanderaan. Kelompok mana, kami sedang profiling,” katanya.

Dandim: Sembilan Warga Dibawa Paksa

Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Jozanda mengatakan aparat gabungan telah mengirim prajurit untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok yang diduga membawa warga.

“Mari kita doakan. Kita sudah kirim prajurit untuk melakukan pengejaran. Situasi di pos kondusif. Satgas dan Koramil sedang komunikasi dengan masyarakat,” kata Jozanda.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat sembilan warga yang dibawa secara paksa. Satu warga disebut ditembak dan satu lainnya dibuang ke jurang. Seluruh warga yang dibawa disebut merupakan perempuan.

“Memang ada sembilan orang dibawa paksa. Satu orang ditembak, satu orang dibuang ke jurang. Semuanya perempuan,” ungkap Jozanda.

Ia meminta masyarakat mendoakan prajurit TNI dan personel Polri yang melakukan pengejaran agar dapat menemukan para korban dalam keadaan selamat.

Selain operasi pengejaran, TNI juga akan mendukung pengiriman bahan makanan ke Jila menggunakan helikopter. Langkah tersebut diperlukan karena warga tidak dapat berkebun akibat situasi keamanan.

“Besok kita akan dukung helikopter untuk angkut bahan makanan ke sana. Mereka tidak bisa berkebun, jadi bahan makanan susah,” katanya.

Jozanda menilai tindakan membawa warga secara paksa, terlebih anak-anak, merupakan tindakan yang tidak manusiawi.

“Kita makhluk sosial, masing-masing bisa analisa. Kejadian ini sangat tidak manusiawi. Bagaimana teganya manusia yang sudah dewasa membawa anak-anak, bahkan menembak orang tuanya,” tegasnya.

Ia menegaskan TNI, Polri, dan Pemkab Mimika memberikan perhatian penuh terhadap masyarakat Jila.

“Ingat, kami sangat peduli dengan kondisi yang dihadapi warga Jila,” pungkasnya.

Ketika Rasa Aman Menjadi Kebutuhan Pokok

Situasi Jila menunjukkan bahwa dalam konflik keamanan, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada pangan. Ketika warga takut berkebun, guru dan tenaga kesehatan harus dievakuasi, serta penerbangan dihentikan, rasa aman berubah menjadi kebutuhan paling mendasar. Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan menghadirkan aparat, tetapi juga harus memastikan warga dapat kembali bersekolah, berobat, bekerja, berkebun, dan menjalani kehidupan tanpa rasa takut.

Di Jila, untuk sementara, helikopter membawa beras dan peralatan memasak. Tetapi yang paling dinantikan keluarga bukan sekadar bahan makanan. Mereka menunggu kepulangan orang-orang yang pergi tanpa kehendak sendiri—terutama anak-anak yang masih menjadi bagian paling rapuh dari situasi ini.

Dan ketika sebuah kampung hanya bisa menunggu dalam diam, kepulangan seorang anak menjadi lebih dari sekadar berita baik; ia adalah tanda bahwa rasa aman perlahan menemukan jalan pulang.

Example 300250