ATAMBUA, LINTASTIMOR.ID — Di ujung timur Indonesia, ketika angin laut dari perairan perbatasan RI–RDTL menyapu sunyi bukit-bukit Kakuluk Mesak, Pemerintah Kabupaten Belu bersiap menyalakan sebuah malam doa yang diyakini akan menjadi jejak baru dalam sejarah spiritual masyarakat perbatasan.
Pada 30 Mei 2026 mendatang, kawasan akan menjadi pusat penutupan Bulan Rosario tingkat Kabupaten Belu yang dirangkai dengan Konser Lagu Rohani berskala besar.
Ribuan umat diperkirakan akan memadati kawasan pesisir yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik doa umat Katolik di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Bupati Belu, , mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Belu untuk ikut mengambil bagian dalam momentum religius tersebut, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM).
Meski slot usaha yang disediakan terbatas hanya sekitar 10 hingga 15 slot, pemerintah daerah berharap kehadiran para pelaku usaha mampu menambah denyut ekonomi rakyat di tengah suasana doa dan persaudaraan.
╔════════════════════════════════════╗
“Tahun ini penutupan Bulan Rosario Bunda Maria semua berpusat di Patung Bunda Maria Teluk Gurita dan akan dimeriahkan dengan konser lagu rohani.”
— Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H
╚════════════════════════════════════╝
Di bawah langit perbatasan yang tenang, konser rohani itu tidak sekadar dipersiapkan sebagai hiburan iman, melainkan juga sebagai ruang perjumpaan budaya, spiritualitas, dan persaudaraan lintas wilayah.
Menurut Bupati Willy Lay, agenda tersebut akan dijadikan kegiatan rutin tahunan Pemerintah Kabupaten Belu dalam setiap penutupan Bulan Rosario.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) turut diundang untuk bergabung dalam perayaan tersebut. Bahkan pada tahun mendatang, Pemerintah Kabupaten Belu berencana memperluas jangkauan partisipasi hingga mengundang kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur serta masyarakat dari Timor Leste, khususnya wilayah Bobonaro.
╔════════════════════════════════════╗
“Tahun ini kita undang Pemda TTU untuk bergabung, dan tahun depan kita akan undang dari kabupaten lain termasuk Timor Leste, Bobonaro.”
— Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H
╚════════════════════════════════════╝
Gagasan menjadikan Teluk Gurita sebagai pusat doa tahunan sesungguhnya menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar seremoni religius. Di tengah kawasan perbatasan yang selama ini lebih sering dikenal karena isu geopolitik dan lintas negara, Pemerintah Kabupaten Belu sedang membangun wajah lain dari perbatasan: wajah spiritualitas, persaudaraan, dan diplomasi kebudayaan berbasis iman.
Konser lagu rohani itu pun dipandang bukan hanya sebagai panggung musik, tetapi sebagai cara baru merawat identitas masyarakat perbatasan yang hidup di antara laut, doa, dan sejarah panjang persaudaraan Timor.
Dan ketika malam Rosario nanti ditutup dengan nyanyian pujian di kaki Patung Bunda Maria Teluk Gurita, barangkali yang sedang dinyalakan bukan hanya lilin-lilin doa umat — melainkan juga harapan bahwa dari perbatasan, kedamaian bisa terus menemukan rumahnya.


















