KUPANG |LINTASTIMOR.ID– Malam baru saja turun di langit Kabupaten Kupang,Nusa Tenggara Timur,perbatasan Timor Leste ketika rombongan Wakil Presiden RI, Kibran Rakabuming Raka , mendarat di Bandara Internasional El Tari, Kamis (21/5/2026). Lampu kendaraan iring-iringan memantul di aspal basah, sementara sekelompok mahasiswa berdiri menunggu dengan wajah penuh harap.
Mereka bukan datang membawa amarah. Tidak pula mengadang dengan kekerasan. Yang mereka bawa hanyalah kegelisahan panjang tentang jalan rusak, jembatan putus, rumah sakit yang belum berfungsi, dan jeritan masyarakat pedalaman yang merasa terlalu lama tak terdengar.
Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan itu meminta bertemu langsung dengan untuk menyampaikan kondisi Kabupaten Kupang, khususnya wilayah Amfoang.
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang, Asten Bait , mengatakan persoalan infrastruktur jalan dan jembatan, rumah sakit pratama yang belum beroperasi, hingga kelangkaan BBM menjadi masalah serius yang selama ini dirasakan masyarakat.
╔════════════════════════════════╗
“Hari ini kami tidak ada niat aksi, tapi ini karena Pak Wapres yang turun dan ketemu dengan kami, kami sampaikan persoalan yang terjadi di Amfoang.”
— Asten Bait
╚════════════════════════════════╝
Menurut Asten Bait, seluruh poin aspirasi telah diterima langsung oleh dan mendapat komitmen atensi khusus dari pemerintah pusat.
“Semua poin tuntutan kami ini telah disampaikan ke Pak Wapres dan beliau berkomitmen untuk memberikan atensi khusus untuk Amfoang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan pemerintah pusat yang selama ini dianggap lebih sering melihat wajah manis desa, sementara luka-luka di pedalaman jarang tersentuh perhatian.
╔════════════════════════════════╗
“Sejauh ini yang kita lihat, Pemerintah Pusat ketika turun ke desa-desa hanya melihat hal yang baik. Tetapi hal yang buruk di pedalaman itu justru tak terlihat.”
— Asten Bait
╚════════════════════════════════╝
Kedatangan di Kupang sendiri berlangsung pada pukul 19.50 Wita dan disambut jajaran Forkopimda NTT. Namun kunjungan itu tidak berhenti pada seremoni penyambutan.
Keesokan harinya, di bawah guyuran hujan, turun langsung meninjau jalan rusak hingga Jembatan Termanu dan Kapsali di Desa Manubelon yang putus total. Helikopter yang membawanya mendarat di lapangan SD Inpres Oelamopu siang hari, sebelum rombongan bergerak menuju sejumlah titik kerusakan infrastruktur.
Langkah demi langkah pengawalan ketat tak mampu menutupi antusiasme warga. Dari tepi jalan, suara masyarakat terdengar bersahut-sahutan memanggil nama Gibran ketika rombongan melintas di tengah hujan.
Secara kontekstual, peristiwa ini memperlihatkan wajah lain hubungan masyarakat dengan pemerintah pusat di kawasan timur Indonesia. Kehadiran pejabat negara bukan lagi sekadar agenda protokoler, melainkan momentum bagi rakyat di daerah terpencil untuk menitipkan kegelisahan yang selama ini tertahan oleh jarak, akses, dan minimnya perhatian pembangunan.
Di Amfoang, jalan rusak dan jembatan putus bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ia adalah simbol tentang bagaimana masyarakat pedalaman terus berjuang agar keberadaan mereka benar-benar terlihat di mata negara.
Dan ketika hujan turun di Oelamopu siang itu, warga mungkin tidak sedang menunggu janji baru. Mereka hanya ingin memastikan bahwa setelah rombongan pergi, suara dari pedalaman tidak kembali tenggelam bersama lumpur jalan yang rusak dan jembatan yang patah.


















