MAPPI |LINTASTIMOR.ID – Sore itu, ketika jarum waktu mendekati pukul 16.00 WIT, kobaran api melanda Kampung Kanami, Distrik Assue, Kabupaten Mappi, Papua Selatan. Dalam waktu yang belum diketahui secara pasti, api menjalar dari satu rumah ke rumah lainnya, melahap bangunan-bangunan kayu dan papan yang berdiri berdekatan. Sekitar 50 rumah warga dilaporkan hangus terbakar. Di kampung tepian kali itu, kebakaran meninggalkan kehilangan yang tak kecil bagi masyarakat yang terdampak.
Senin, 26 Oktober 2026, menjadi hari yang membawa kabar buruk bagi warga Kampung Kanami. Api bukan hanya menghanguskan bangunan tempat tinggal, tetapi juga menyisakan persoalan tentang keselamatan, tempat berlindung, dan kehidupan warga setelah kebakaran.
Di tengah besarnya dampak peristiwa tersebut, Kapolres Mappi, Kompol Suparmin, S.IP., M.H., menegaskan satu hal penting: kebakaran itu bukan merupakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berdasarkan informasi awal yang diterima kepolisian, api diduga berkaitan dengan penggunaan mesin diesel yang menjadi sumber penerangan masyarakat setempat.
“Betul, kemarin pada tanggal 26 Oktober 2026 sekitar pukul 16.00 WIT telah terjadi kebakaran di Kampung Kanami. Wilayah tersebut masuk dalam wilayah hukum Polsek Asgon, dan dugaan sementara kebakaran dipicu oleh mesin diesel yang digunakan untuk penerangan di kampung tersebut.”
— Kompol Suparmin, S.IP., M.H., Kapolres Mappi
Dugaan mesin diesel, api menjalar cepat
Informasi awal tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam penanganan kebakaran. Namun, dugaan mengenai sumber api belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan akhir. Penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan pendalaman di lokasi kejadian.
Menurut Kapolres, karakteristik bangunan di Kampung Kanami turut memengaruhi cepatnya api meluas. Sebagian rumah warga menggunakan material kayu dan papan, bahan yang mudah terbakar ketika terpapar kobaran api.
Dalam kondisi demikian, api dapat dengan cepat merambat dari satu bangunan ke bangunan lain, terutama apabila rumah-rumah berdiri berdekatan. Perambatan itulah yang diduga membuat kebakaran berkembang hingga menghanguskan sekitar 50 rumah.
Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak kebakaran. Meski demikian, jumlah rumah yang terbakar tidak serta-merta menjelaskan keseluruhan kerugian yang dialami warga. Pendataan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kondisi rumah, barang milik masyarakat, serta kebutuhan mendesak keluarga yang terdampak.
Di tepian kali, akses menjadi tantangan
Kampung Kanami memiliki tantangan geografis tersendiri. Menurut Kapolres, kampung tersebut berada di pinggir kali sehingga akses transportasi menuju wilayah itu hanya dapat ditempuh menggunakan speedboat.
Dari Kampung Kanami menuju Polsek Asgon, perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar satu jam. Kondisi ini menjadi bagian penting dalam memahami penanganan kebakaran di wilayah tersebut, tempat jalur air menjadi akses utama untuk menjangkau masyarakat.
Di tengah keterbatasan akses itu, personel kepolisian dilaporkan telah berada di tempat kejadian perkara (TKP). Kehadiran mereka ditujukan untuk membantu masyarakat terdampak sekaligus melakukan penanganan di lokasi kebakaran.
Keterangan tersebut menandai bahwa penanganan tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai penyebab sementara. Kehadiran petugas di lapangan juga diperlukan untuk membantu proses pendataan, memastikan situasi, dan mendukung langkah-langkah lanjutan sesuai kebutuhan masyarakat.
Setelah api, pekerjaan belum selesai
Kebakaran yang menghanguskan sekitar 50 rumah menjadi peristiwa serius bagi masyarakat Kampung Kanami. Rumah merupakan ruang untuk berteduh, tempat keluarga berkumpul, dan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ketika bangunan itu terbakar, warga menghadapi tantangan untuk memulihkan kehidupan mereka.
Namun, sejauh informasi yang disampaikan Kapolres, belum terdapat keterangan terperinci mengenai jumlah warga yang terdampak, kemungkinan korban jiwa atau luka-luka, nilai kerugian material, maupun ketersediaan tempat penampungan sementara. Informasi tersebut masih perlu dikonfirmasi agar gambaran mengenai dampak kebakaran dapat disampaikan secara utuh dan akurat.
Karena itu, pendataan korban terdampak, pemenuhan kebutuhan dasar, serta kepastian mengenai penyebab kebakaran menjadi bagian penting dari tindak lanjut peristiwa ini. Apabila ditemukan kebutuhan mendesak, koordinasi lintas instansi dan dukungan bagi warga dapat menjadi langkah berikutnya sesuai hasil penilaian di lapangan.
Kapolres Mappi telah memperjelas bahwa peristiwa di Kampung Kanami bukan Karhutla, melainkan kebakaran permukiman yang dugaan awalnya mengarah pada penggunaan mesin diesel untuk penerangan. Meski demikian, penyelidikan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan bagaimana api bermula dan mengapa kebakaran meluas begitu cepat.
Di Kampung Kanami, api telah meninggalkan pekerjaan besar setelah kobarannya berlalu: memastikan keselamatan warga, mendata kehilangan, dan membantu masyarakat menata kembali kehidupan mereka. Sebab, ketika puluhan rumah hangus dalam satu peristiwa, yang harus dipulihkan bukan hanya bangunan, melainkan juga rasa aman dan harapan keluarga yang terdampak.


















