JAKARTA |LINTASTIMOR.ID— Sebuah perjalanan yang semula dirancang sebagai pintu menuju pekerjaan justru berhenti di tengah jalan.
Maria Alisa Tereza seharusnya melanjutkan perjalanan menuju Pekanbaru pada 1 Oktober 2026 untuk bekerja melalui sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja. Namun, perjalanan itu tidak pernah sampai pada tujuan. Di tengah perjalanan, kabar tentang keberadaan Alisa terputus.
Di balik hilangnya kabar tersebut, muncul pula nama Nofalia Brigita Dasilva, rekan kerja yang sebelumnya disebut lebih dahulu meninggalkan tempat kerjanya. Maria Katarina Soi, pihak yang mengaku membawa Alisa masuk melalui perusahaan tersebut, menduga terdapat pengaruh dari Brigita terhadap keputusan Alisa untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja.
Dugaan tersebut masih merupakan keterangan Maria Katarina dan belum dapat dipastikan secara independen.
Maria Katarina mengatakan, sejak awal keberangkatan, proses penempatan Alisa dan calon pekerja lainnya dilakukan melalui perusahaan.
Menurut dia, biaya perjalanan sejak dari rumah hingga kantor perusahaan di Solo ditanggung pihak perusahaan, termasuk perjalanan lanjutan menuju lokasi kerja.
“Jalannya lewat PT, Kak. Jadi awal mereka mau kerja, semua biaya itu ditanggung dari PT, mulai dari rumah sampai kantor Solo. Dari kantor Solo ke tempat kerja pun masih ditanggung juga,” kata Maria Katarina.
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa keberangkatan Alisa, menurut pihak yang membawanya bekerja, telah melalui proses dan pembiayaan perusahaan. Maria Katarina juga mengaku telah lama mengikuti perusahaan tersebut dan memiliki pengalaman bekerja melalui jalur yang sama.
Karena pengalaman itu, ia kemudian membawa Alisa untuk ikut bekerja melalui perusahaan tersebut.
“Saya sudah lama ikut ini kantor, Kak. Saya sudah berhasil di ini kantor. Jadi anak ini saya membawa dia kerja dan semua biaya itu atas nama saya,” ujarnya.
Namun, perjalanan dua perempuan yang semula berangkat dari rumah bersama itu kemudian mengambil arah berbeda.
Maria Katarina menyebut Nofalia Brigita Dasilva dan Maria Alisa Tereza berangkat dari rumah secara bersamaan. Brigita lebih dahulu memperoleh majikan sehingga berangkat dan bekerja lebih awal.
Tetapi, menurut Maria Katarina, pekerjaan Brigita juga tidak berlangsung lama.
Ia mengatakan Brigita hanya bekerja sekitar 22 hari sebelum meninggalkan rumah majikannya tanpa sepengetahuan pihak keluarga. Setelah itu, muncul dugaan bahwa Brigita kemudian memengaruhi Alisa yang masih berada dalam proses keberangkatan melalui kantor perusahaan di Boyolali.
“Nofalia Brigita Dasilva mereka berdua ini jalan dari rumah sama-sama. Hanya Nofalia ini bekerja duluan karena mendapatkan majikan duluan, Kak. Tapi kerjanya hanya 22 hari, kabur juga dari rumah majikan. Setelah kabur dari rumah majikan, baru hasut temannya, Alisa, yang masuk di kantor Boyolali,” kata Maria Katarina.
Istilah “hasut” dalam pernyataan tersebut merupakan istilah yang digunakan Maria Katarina untuk menggambarkan dugaan pengaruh Brigita terhadap Alisa. Belum ada keterangan independen yang memastikan apakah benar terjadi bujukan, tekanan, atau bentuk pengaruh sebagaimana diduga tersebut.
Di titik inilah perjalanan Alisa berubah menjadi tanda tanya.
Menurut Maria Katarina, pada 1 Oktober Alisa dijadwalkan berangkat menuju Pekanbaru. Namun, perjalanan tersebut kemudian tidak berujung pada kedatangannya di tempat kerja.
“Si Alisa ini tanggal 1 Oktober itu jadwal dia berangkat kerja ke Pekanbaru. Tapi sampai pertengahan jalan tidak sampai ke tempat kerja,” ujarnya.
Bagi pihak yang mengurus keberangkatan, peristiwa tersebut bukan sekadar soal seseorang yang belum tiba di tempat kerja. Ada rangkaian proses administratif, biaya perjalanan, dokumen, serta tanggung jawab yang menurut Maria Katarina telah dipersiapkan sebelum keberangkatan.
Ia menyebut perusahaan memiliki dokumen terkait proses keberangkatan Alisa, termasuk izin orang tua, surat kuasa, serta sejumlah berkas administrasi lainnya.
“Kami dari PT ada semua surat, izin orang tua, surat kuasa dan semua berkas lengkap saat mereka mau berangkat kerja kantor PT,” kata Maria Katarina.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keberangkatan Alisa tidak hanya menyangkut perjalanan dari satu kota ke kota lain. Ada dokumen, biaya, hubungan kerja, serta keluarga yang disebut telah memberikan persetujuan dalam proses keberangkatan.
Namun, satu persoalan masih menggantung: di mana Alisa setelah perjalanan menuju Pekanbaru terhenti?
Pertanyaan berikutnya menyentuh dugaan pengaruh Brigita. Apakah benar terdapat komunikasi atau ajakan yang membuat Alisa tidak melanjutkan perjalanan? Ataukah terdapat alasan lain yang belum diketahui?
Jawaban atas pertanyaan itu belum dapat ditarik hanya dari satu keterangan.
Karena itu, keterangan Alisa sendiri menjadi penting. Demikian pula klarifikasi dari Brigita dan pihak perusahaan untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa dapat dilihat secara utuh.
Sebab, di balik dokumen yang disebut lengkap dan biaya perjalanan yang telah dikeluarkan, terdapat seorang perempuan yang perjalanan kerjanya berhenti di tengah jalan.
Ada keluarga yang menunggu kabar.
Ada perusahaan yang mengaku telah menyiapkan keberangkatan.
Dan ada sebuah nama yang kini menjadi pusat pertanyaan: Maria Alisa Tereza.
Perjalanan menuju Pekanbaru seharusnya menjadi awal dari sebuah pekerjaan baru. Namun, ketika langkah itu terputus sebelum sampai tujuan, cerita berubah menjadi pencarian atas kepastian—tentang ke mana Alisa pergi, mengapa ia tidak melanjutkan perjalanan, dan apakah dugaan pengaruh orang lain benar-benar memiliki kaitan dengan keputusan tersebut.
Semua itu masih menunggu satu hal yang paling penting: kebenaran yang dapat diverifikasi.


















