Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasional

Lahan Tidur Milik SVD Nenuk Bangkit Jadi Lumbung Pangan Belu

60
×

Lahan Tidur Milik SVD Nenuk Bangkit Jadi Lumbung Pangan Belu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Suara ekskavator memecah kesunyian Nenuk, Sabtu (3/10/2026). Tanah yang selama bertahun-tahun lebih banyak menyimpan semak dan rerumputan perlahan dibuka, seolah sebuah halaman lama sedang disiapkan untuk menulis cerita baru.

Di hadapan mesin berat itu terbentang 171 hektare lahan milik Serikat Sabda Allah (SVD) Timor. Hamparan yang lama belum dikelola secara optimal tersebut kini mulai disentuh kembali melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Belu dan SVD Timor.

Example 300x600

Bukan hanya membuka tanah, pemerintah Kabupaten Belu ingin mengubah lahan tidur menjadi ruang produksi yang dapat menghidupi lebih banyak orang—menghasilkan pangan, mengembangkan peternakan, membuka kesempatan usaha, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat sekitar.

Bagi Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T., luasnya lahan Nenuk menyimpan potensi ekonomi yang terlalu besar jika dibiarkan tanpa pengelolaan. Karena itu, pembukaan lahan diarahkan agar manfaatnya tidak berhenti pada kepentingan pemilik lahan.

“Pembukaan lahan ini bukan semata-mata untuk kepentingan SVD, tetapi bagaimana lahan yang cukup luas ini bisa dikelola secara produktif dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Belu,” ujarnya.

Pernyataan Vicente menegaskan bahwa pemerintah melihat lahan Nenuk bukan hanya sebagai aset tanah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Ketika lahan mulai produktif, manfaat yang diharapkan bukan sekadar hasil panen, tetapi juga munculnya aktivitas ekonomi baru yang dapat melibatkan masyarakat di sekitarnya.

Dari tanah yang tidur menuju tanah yang menghasilkan

Pembukaan lahan di Nenuk merupakan langkah awal dari rencana pemanfaatan kawasan secara lebih luas. Pemerintah Kabupaten Belu dan SVD Timor juga merencanakan kegiatan serupa di Fatutoma dan Halikelen.

Di atas lahan Nenuk, sejumlah komoditas pertanian akan dikembangkan. Bawang merah, bawang putih, jagung, padi, serta berbagai komoditas hortikultura disiapkan untuk mengisi ruang yang selama ini belum produktif.

Namun, pemerintah tidak ingin kawasan tersebut hanya menjadi hamparan pertanian.

Sebagian lahan akan diarahkan untuk pengembangan pakan ternak. Rencana tersebut berkaitan langsung dengan keberadaan 21 ekor sapi perah yang saat ini telah dimiliki SVD Nenuk.

Dengan demikian, pertanian dan peternakan dirancang untuk saling menopang. Tanaman dapat menyediakan pakan, sementara peternakan menghasilkan produk pangan yang memiliki nilai ekonomi.

Wakil Bupati Belu melihat hubungan tersebut sebagai peluang untuk membangun rantai pangan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Ketika lahan pertanian bertemu kebutuhan MBG

Ada satu dimensi lain yang membuat pengembangan Nenuk menjadi penting: Program Makan Bergizi Gratis.

Peternakan sapi perah milik SVD berpotensi dikembangkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan susu bagi anak-anak sekolah. Pada saat yang sama, pemerintah juga merencanakan pengembangan kandang ayam petelur untuk mendukung kebutuhan telur dan daging ayam bagi dapur-dapur MBG.

Di sinilah pembukaan lahan mulai memiliki makna yang lebih luas.

Tanah yang dibuka tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan komoditas bagi pasar, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan program pemerintah.

Jika dikelola secara konsisten, hubungan antara lahan pertanian, pakan ternak, sapi perah, ayam petelur, dan kebutuhan MBG dapat membentuk ekosistem produksi yang saling berkaitan.

Namun, semua itu membutuhkan keberlanjutan. Lahan harus ditanami, ternak harus dirawat, produksi harus dijaga, dan hasilnya harus memiliki jalur distribusi yang jelas.

SVD membuka pintu, masyarakat diharapkan menangkap peluang

Bagi SVD Timor, kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Belu menjadi momentum untuk mengatasi persoalan yang selama ini menghambat pemanfaatan lahan.

Pater Domi Kadju, SVD, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah daerah. Menurutnya, keterbatasan sarana dan prasarana selama ini membuat SVD belum mampu mengolah lahan luas tersebut secara optimal.

Dukungan alat dan kerja sama pemerintah menjadi dorongan penting agar lahan yang selama ini belum produktif dapat mulai dikelola.

Tetapi bagi SVD, keberhasilan kerja sama itu tidak cukup hanya dilihat dari seberapa luas lahan yang berhasil dibuka.

Ada ukuran lain yang jauh lebih penting: manfaat bagi masyarakat.

Pater Tarsi Atok, SVD, menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus membuka ruang agar masyarakat sekitar dapat mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang lahir dari pengembangan kawasan Nenuk.

“Kita bekerja sama, tetapi yang paling penting adalah dampaknya bagi masyarakat Kabupaten Belu. Bagaimana masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar Biara SVD Nenuk, dapat menangkap peluang ini,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memberi penekanan bahwa masyarakat tidak boleh ditempatkan hanya sebagai penonton dari perubahan kawasan. Mereka harus memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam rantai ekonomi—sebagai petani, tenaga kerja, pelaku usaha, pemasok kebutuhan produksi, maupun pengelola usaha turunan.

Dengan cara pandang itu, kerja sama pemerintah dan SVD tidak berhenti pada hubungan kelembagaan. Ia diarahkan menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.

1.000 hektare dan pekerjaan besar setelah tanah dibuka

Harapan terhadap pertanian Belu juga diperkuat oleh rencana pengembangan komoditas bawang.

Wakil Bupati Vicente mengungkapkan bahwa Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur direncanakan memberikan bantuan bibit bawang untuk pengembangan lahan seluas 1.000 hektare di Kabupaten Belu pada 2027.

Rencana tersebut menunjukkan adanya peluang untuk memperluas produksi. Namun, luas lahan sekaligus membawa tanggung jawab yang lebih besar.

Sebab, membuka lahan jauh lebih mudah daripada mempertahankan produktivitasnya.

Tanah membutuhkan pengelolaan. Petani membutuhkan pendampingan. Tanaman membutuhkan air dan sarana produksi. Hasil panen membutuhkan pasar. Dan seluruh rantai tersebut membutuhkan kesinambungan kebijakan.

Karena itu, pembukaan lahan Nenuk seharusnya dibaca sebagai awal dari pekerjaan yang lebih panjang, bukan titik akhir.

Wabup Vicente pun mengajak masyarakat yang memiliki lahan tidak produktif agar berkoordinasi dengan Dinas Pertanian sehingga potensi tersebut dapat dioptimalkan.

Ajakan itu memperluas agenda ketahanan pangan dari satu kawasan menuju gerakan pemanfaatan lahan di seluruh Kabupaten Belu.

Nenuk sedang menanam masa depan

Sore mungkin akan datang dan mesin ekskavator akhirnya berhenti. Debu akan kembali turun. Suara mesin akan menghilang.

Tetapi pekerjaan sebenarnya justru baru dimulai.

Tanah yang hari ini terbuka harus berubah menjadi tanaman. Tanaman harus berubah menjadi panen. Panen harus berubah menjadi pendapatan. Dan pendapatan harus menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Di situlah makna 171 hektare lahan Nenuk akan benar-benar diuji.

Bukan sekadar berapa hektare yang berhasil dibuka, melainkan berapa hektare yang kemudian hidup.

Bukan hanya berapa banyak komoditas yang ditanam, melainkan berapa banyak keluarga yang ikut menikmati hasilnya.

Dan bukan hanya berapa banyak pangan yang diproduksi, melainkan seberapa jauh kawasan tersebut mampu memperkuat ketahanan pangan Belu.

Nenuk hari ini membuka tanah.

Besok, tanah itu diharapkan membuka kesempatan.

Kesempatan untuk bertani. Kesempatan untuk beternak. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk berusaha.

Sebab tanah yang lama tertidur tidak pernah benar-benar kehilangan masa depan.

Ia hanya menunggu tangan yang bersedia membangunkannya.

 

Example 300250