Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupKesehatanNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Ketika Pangan Lokal Menjadi Nafas Ekonomi dari Rai Belu

129
×

Ketika Pangan Lokal Menjadi Nafas Ekonomi dari Rai Belu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Malam baru saja turun di Atambua ketika pelataran Plaza Pelayanan Publik berubah menjadi panggung kecil bagi kekayaan yang selama ini tumbuh diam-diam di tanah Belu.

Jagung, ubi, dan aneka pangan lokal hadir dalam beragam olahan. Di balik setiap sajian, tersimpan cerita tentang petani, keluarga, tradisi, kreativitas perempuan, dan harapan ekonomi yang terus tumbuh dari kampung-kampung.

Example 300x600

Di ruang itulah Pemerintah Kabupaten Belu mengajak masyarakat melihat pangan lokal dengan cara yang berbeda: bukan hanya sebagai makanan, tetapi sebagai identitas daerah sekaligus kekuatan ekonomi.

Ajakan tersebut disampaikan Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T., saat membuka Pameran Pangan Lokal di Pelataran Plaza Pelayanan Publik, Jumat (2/10/2026) malam.

Pameran yang mengusung tema “Kreasi Lokal untuk Ketahanan Berkelanjutan” itu tidak diarahkan hanya sebagai arena promosi dan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan pangan Belu sekaligus mendorong kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil bumi menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Kembali kepada Akar

Vicente membawa pesan itu dalam semangat Rai Belu, Fila Ba Abut—kembali ke akar.

Baginya, kembali ke akar berarti kembali menghargai apa yang diwariskan leluhur, termasuk kebiasaan mengonsumsi pangan yang tumbuh dari tanah sendiri.

“Gerakan konsumsi pangan lokal harus dimulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga lingkungan pemerintahan. Kita perlu terus mendorong diversifikasi pangan karena sumber makanan bergizi tidak hanya berasal dari beras, tetapi juga jagung, ubi dan berbagai hasil pangan lokal lainnya.”

Kutipan itu tidak berhenti sebagai ajakan konsumsi. Ia mengandung pesan bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari—dari meja makan keluarga hingga ruang-ruang pemerintahan.

Karena itu, pangan lokal tidak semestinya hanya dipandang sebagai alternatif ketika pangan utama sulit diperoleh. Ia merupakan bagian dari kekayaan sumber daya daerah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Ai Uhik Kuhus, Ketika Warisan Menemukan Pengakuan

Kebanggaan terhadap pangan lokal Belu semakin mendapatkan ruang setelah Ai Uhik Kuhus atau ubi kayu kukus ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2026.

Bagi Vicente, pengakuan tersebut bukan garis akhir.

Sebaliknya, ia menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan warisan pangan tersebut kepada generasi mendatang.

Sebab sebuah warisan budaya akan kehilangan makna apabila hanya dikenang, tetapi tidak lagi dipraktikkan.

Di sinilah pangan lokal bertemu dengan kebudayaan.

Sebuah ubi yang dikukus mungkin tampak sederhana. Namun di dalamnya terdapat pengetahuan, kebiasaan, cita rasa, dan ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Dari Dapur ke Pasar

Pemerintah Kabupaten Belu juga melihat pangan lokal sebagai pintu masuk bagi penguatan UMKM.

Kaum perempuan menjadi salah satu kekuatan penting dalam proses tersebut. Dari tangan mereka, hasil pangan lokal dapat diolah menjadi produk yang lebih kreatif, higienis, memiliki nilai tambah, dan berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.

Di titik ini, dapur rumah tangga dapat berubah menjadi ruang produksi.

Hasil kebun dapat berubah menjadi komoditas.

Dan kreativitas dapat berubah menjadi pendapatan keluarga.

Pemerintah Kabupaten Belu, kata Vicente, berkomitmen mendukung pengembangan UMKM melalui pelatihan pengolahan produk serta berbagai kegiatan pameran.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Belu sebagai pusat festival di Pulau Timor sekaligus membuka ruang promosi yang lebih luas bagi produk masyarakat.

Satu Pilihan di Meja Makan

Vicente kemudian membawa pesan itu lebih dekat kepada kehidupan masyarakat.

Memilih pangan lokal, menurutnya, berarti ikut menjaga mata rantai ekonomi yang bermula dari petani, nelayan, pelaku UMKM hingga keluarga yang menjadi konsumen.

“Membeli dan mengonsumsi pangan lokal berarti kita mendukung petani, nelayan, pelaku UMKM, serta seluruh masyarakat yang terlibat dalam rantai ekonomi.”

Kutipan itu menempatkan konsumen sebagai bagian dari ekosistem ekonomi lokal. Sebuah keputusan kecil di meja makan dapat memiliki arti bagi orang lain yang bekerja di belakang pangan tersebut.

Karena itu, kebanggaan terhadap pangan lokal tidak cukup hanya diucapkan dalam sebuah pameran.

Ia harus hadir dalam kebiasaan.

Dalam pilihan konsumsi.

Dalam keberanian masyarakat memberi ruang bagi produk sendiri untuk tumbuh.

Menutup sambutannya, Vicente menyampaikan sebuah kalimat yang merangkum seluruh pesan malam itu:

“Dari pangan lokal kita bangun Kabupaten Belu. Dari Kabupaten Belu kita bangun NTT yang semakin maju.”

Kalimat itu membawa pangan kembali kepada tempat asalnya: tanah.

Dari tanah, pangan tumbuh.

Dari pangan, ekonomi bergerak.

Dan dari ekonomi yang tumbuh di tengah masyarakat, sebuah daerah membangun masa depannya.

 

Example 300250