TIMIKA | LINTASTIMOR.COM — Malam belum benar-benar beranjak ketika seorang anak dalam kondisi demam tinggi dan muntah-muntah dibawa keluarganya menuju RSUD Mimika. Di tengah kecemasan keluarga mencari pertolongan, sebuah video kemudian merekam percakapan yang memantik perhatian publik.
Dalam rekaman yang beredar di media sosial itu, terdengar seorang perawat menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa rumah sakit hanya dapat menerima pasien dalam kondisi gawat darurat.
Video tersebut kemudian menyebar dan memunculkan pertanyaan yang lebih besar: bagaimana seharusnya seorang pasien yang datang dalam keadaan sakit dinilai sebelum diputuskan apakah kondisinya darurat atau tidak?
Pertanyaan itu kini sampai ke meja DPRK Mimika.
Anggota DPRK Mimika dari jalur Otonomi Khusus (Otsus), Dominggus Kapiyau, meminta manajemen RSUD Mimika mengevaluasi kembali mekanisme penerimaan dan pemeriksaan pasien, terutama pada malam hingga dini hari.
Bagi Dominggus, kondisi medis pasien tidak semestinya disimpulkan sebelum pasien mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
“Jangan menolak pasien, apalagi pasien OAP. Kalau pasien datang subuh atau dini hari dalam kondisi sakit, harus diperiksa dulu dan dilihat kondisinya. Jangan langsung mengatakan hanya pasien darurat yang bisa dilayani,” tegas Dominggus, Selasa (29/9/2026).
Pernyataan itu menempatkan persoalan bukan semata pada pintu masuk rumah sakit, melainkan pada proses menentukan keadaan pasien. Dalam konteks pelayanan kesehatan, pemeriksaan awal menjadi penting untuk mengetahui apakah keluhan yang dibawa pasien membutuhkan tindakan segera atau penanganan lebih lanjut.
Bagi seorang anak yang datang dengan demam tinggi dan muntah-muntah, kata Dominggus, kondisi tersebut setidaknya harus terlebih dahulu dinilai secara medis.
Ketika sakit datang di luar jam kantor
Rumah sakit tidak mengenal sepenuhnya batas waktu seperti kantor pelayanan administrasi. Ketika tubuh seseorang melemah pada tengah malam atau menjelang subuh, sakit tidak menunggu matahari terbit.
Karena itu, Dominggus meminta RSUD Mimika memastikan sistem pelayanan di luar jam pelayanan umum tetap berjalan dengan baik. Pasien yang datang pada malam, subuh maupun dini hari harus mendapatkan perhatian berdasarkan kondisi medisnya.
Sorotan tersebut bukan kali pertama diarahkan DPRK Mimika kepada RSUD.
Dominggus mengatakan, persoalan pelayanan rumah sakit sebelumnya juga telah menjadi perhatian lembaga legislatif. DPRK bahkan telah melakukan inspeksi mendadak untuk melihat secara langsung kondisi pelayanan di RSUD Mimika.
Karena itu, munculnya kembali persoalan pelayanan melalui sebuah video di media sosial dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bagi manajemen rumah sakit.
Dominggus juga menaruh perhatian pada aspek administrasi dan kepesertaan BPJS Kesehatan. Menurutnya, status kepesertaan tidak boleh menjadi alasan untuk membedakan pelayanan medis terhadap pasien.
“Jangan karena pasien menggunakan BPJS kemudian pelayanannya berbeda. Yang harus dilihat pertama adalah kondisi pasien, keselamatan dan nyawanya. Persoalan administrasi bisa diselesaikan setelah pasien mendapatkan penanganan,” ujarnya.
Pesan tersebut mempertegas bahwa keselamatan pasien semestinya menjadi perhatian awal ketika seseorang datang mencari pertolongan. Urusan administratif, menurut Dominggus, dapat ditangani setelah kebutuhan medis pasien dipastikan.
OAP dan pertanyaan tentang keadilan pelayanan
Video tersebut menjadi semakin sensitif karena pasien yang disebut dalam sorotan DPRK merupakan anak Orang Asli Papua (OAP).
Dominggus meminta agar pelayanan kesehatan tidak membedakan pasien berdasarkan latar belakang maupun status kepesertaan. Prinsip pelayanan, menurutnya, harus bertumpu pada kondisi medis pasien dan kebutuhan pertolongannya.
Ia menegaskan bahwa seorang pasien yang datang dalam keadaan sakit harus mendapatkan pemeriksaan awal sesuai prosedur medis.
Terlebih ketika pasien merupakan anak-anak dengan keluhan demam tinggi disertai muntah-muntah.
“Kalau pasien sudah datang ke IGD, jangan dibiarkan sampai kondisinya semakin berat. Tangani dan periksa dulu pasiennya, setelah itu urusan administrasi bisa diselesaikan,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi membawa persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan setiap orang yang mengetuk pintu pelayanan kesehatan memperoleh penilaian medis yang layak sebelum nasib pelayanannya ditentukan.
Anggaran besar, tuntutan pelayanan ikut membesar
RSUD Mimika merupakan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat di Kabupaten Mimika. Karena itu, Dominggus menilai dukungan anggaran pemerintah terhadap rumah sakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan.
Menurutnya, investasi pemerintah dalam sektor kesehatan pada akhirnya harus terasa dalam pengalaman masyarakat ketika mereka datang membutuhkan pertolongan.
“Pelayanan harus mengutamakan kemanusiaan. Jangan main-main dengan pelayanan karena yang dihadapi adalah nyawa manusia. Selamatkan dan tangani pasien terlebih dahulu,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pesan agar evaluasi pelayanan tidak berhenti pada satu kejadian yang terekam kamera. Jika benar terdapat kekeliruan dalam mekanisme penerimaan pasien, persoalan itu perlu diperbaiki melalui evaluasi internal dan pembenahan prosedur pelayanan.
Di sisi lain, video yang beredar tetap perlu ditempatkan secara proporsional. Rekaman singkat yang beredar di media sosial belum dengan sendirinya menggambarkan seluruh rangkaian kejadian maupun kondisi medis pasien pada saat itu.
Karena itu, penjelasan resmi dari pihak RSUD Mimika menjadi penting untuk memberikan gambaran utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana pasien dinilai ketika datang, serta prosedur apa yang diterapkan pada saat kejadian.
Hingga berita ini diterbitkan, manajemen RSUD Mimika belum memberikan keterangan resmi terkait video yang beredar maupun pelayanan terhadap pasien dalam rekaman tersebut.
Di balik sebuah video berdurasi singkat, ada kegelisahan sebuah keluarga. Ada seorang anak yang sedang sakit. Dan ada satu pertanyaan yang kini menunggu jawaban: ketika seseorang datang mengetuk pintu rumah sakit dalam keadaan sakit, apakah yang pertama kali dilihat adalah administrasinya, atau kondisi manusianya?
















