NABIRE |LINTASTIMOR.ID— Dari lapangan-lapangan voli di Papua Tengah, harapan itu kini diarahkan lebih jauh. Bukan lagi semata tentang siapa yang menang dalam pertandingan di daerah, melainkan tentang bagaimana tangan-tangan muda Papua Tengah kelak mampu mengangkat nama daerah di panggung olahraga nasional.
Semangat itulah yang dibawa Brigjen Pol Jermias Rontini setelah resmi dilantik sebagai Ketua Umum Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Provinsi Papua Tengah masa bakti 2025–2030.
Pelantikan Jermias dipimpin Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua Tengah Prasetya Yosua Tipagau di Kabupaten Nabire, Selasa (22/9/2026).
Jermias tidak ingin bola voli Papua Tengah hanya tumbuh sebagai kegembiraan di lapangan-lapangan lokal. Di balik kompetisi dan sorak penonton, ia melihat pekerjaan yang jauh lebih panjang: menemukan bibit, membangun pembinaan, meningkatkan kualitas pelatih, memperbanyak kompetisi, lalu menyiapkan atlet agar mampu menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
“Kita tidak ingin bola voli Papua Tengah hanya berhenti pada kompetisi di daerah. Target kita adalah membangun pembinaan yang mampu melahirkan atlet-atlet terbaik hingga bisa bersaing dan membawa nama Papua Tengah di tingkat nasional.”
Target itu, menurut Jermias, tidak mungkin dicapai secara instan. Prestasi harus dibangun dari fondasi yang kuat, terutama melalui pembinaan atlet sejak usia muda dengan melibatkan klub, sekolah, pelatih dan pengurus PBVSI di tingkat kabupaten.
Kompetisi pun menjadi bagian penting dari proses tersebut. Atlet muda tidak cukup hanya berlatih tanpa merasakan atmosfer pertandingan. Mereka perlu diberi ruang untuk bertanding secara rutin agar kemampuan, mental dan perkembangan teknik mereka dapat diukur secara nyata.
“Kita harus mencari bibit-bibit terbaik dari seluruh kabupaten. Berikan mereka kesempatan untuk berlatih dan bertanding. Dari sana kita seleksi, kita bina dan kita siapkan agar mampu tampil di level yang lebih tinggi.”
Dalam konteks pembinaan olahraga daerah, target menuju panggung nasional bukan sekadar persoalan melahirkan pemain berbakat. Ia membutuhkan ekosistem yang saling menopang—mulai dari keberadaan kompetisi berjenjang, pembinaan usia muda, kualitas pelatih, dukungan klub dan sekolah, hingga kesinambungan program organisasi. Tanpa fondasi tersebut, talenta besar berisiko berhenti sebagai potensi yang tidak pernah berkembang maksimal.
Karena itu, Jermias menempatkan peningkatan kualitas pelatih sebagai salah satu bagian penting dalam agenda PBVSI Papua Tengah. Kemampuan atlet, menurut dia, akan sulit berkembang secara optimal apabila tidak ditopang sistem latihan dan pendampingan yang baik.
“Prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Kita harus membangun fondasinya dari sekarang, mulai dari pembinaan usia muda, kualitas pelatih, kompetisi yang rutin sampai dengan pembentukan tim yang benar-benar siap bersaing.”
Dari Nabire, visi itu kemudian diperluas menjadi gerakan bersama. Jermias mengajak KONI, pemerintah daerah, klub, sekolah, pelatih, atlet dan masyarakat untuk membangun ekosistem bola voli yang mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Papua Tengah.
Bagi Jermias, olahraga bukan hanya perkara angka di papan skor. Di dalamnya ada disiplin, sportivitas, kerja keras dan keberanian untuk bersaing. Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan melalui bola voli.
“Mari kita jadikan bola voli sebagai salah satu wadah untuk membangun generasi muda Papua Tengah yang disiplin, sportif dan berprestasi. Kita ingin suatu saat nanti atlet dari Papua Tengah bukan hanya menjadi peserta, tetapi mampu berdiri dan bersaing di panggung nasional.”
Dan perjalanan menuju panggung itu kini dimulai dari tempat yang paling sederhana: lapangan, bola, latihan yang berulang, pelatih yang tekun, serta anak-anak muda yang berani bermimpi lebih tinggi dari garis net di hadapan mereka.


















