SINGAPUR |LINTASTIMOR.ID — Ada tempat-tempat di dunia yang dikunjungi karena gemerlapnya. Ada pula yang dicari justru karena kesunyiannya.
Sumba berada di antara keduanya.
Di pulau yang terbentang di selatan Indonesia itu, kemewahan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung tinggi, lampu kota, atau pesta yang berlangsung hingga dini hari. Kemewahan Sumba justru tumbuh dari sesuatu yang semakin mahal di tengah dunia modern: ketenangan, ruang, alam, dan pengalaman yang terasa begitu personal.
Bentang savana yang luas, perbukitan yang mengalir seperti lukisan, garis pantai yang panjang, tradisi masyarakat yang masih berakar kuat, serta kehidupan budaya yang tidak kehilangan wajah aslinya menjadikan Sumba memiliki karakter yang sulit ditiru destinasi lain.
Kabar tentang pesona itu kini kembali memperoleh sorotan internasional.
Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, disebut masuk dalam jajaran 18 destinasi global yang direkomendasikan untuk dikunjungi pada 2026, sejalan dengan perubahan selera wisatawan dunia yang mulai mencari pengalaman lebih tenang, eksklusif, berkelanjutan, dan dekat dengan alam.
Fenomena tersebut sejalan dengan berkembangnya tren quiet luxury dan eco-luxury dalam industri pariwisata.
Ketika destinasi populer dunia semakin dipenuhi manusia, Sumba menawarkan sesuatu yang berbeda: ruang.
Ruang untuk berjalan tanpa tergesa.
Ruang untuk mendengar suara angin di antara rerumputan savana.
Ruang untuk menyaksikan matahari tenggelam tanpa harus berbagi cakrawala dengan kerumunan.
Dan ruang untuk mengenal kembali hubungan manusia dengan alam.
Di situlah kekuatan Sumba bermula.
Ketika Kesunyian Menjadi Sebuah Kemewahan
Di Sumba, pagi tidak selalu datang dengan suara kendaraan.
Ia datang perlahan bersama cahaya matahari yang menyentuh perbukitan dan hamparan padang rumput. Udara bergerak lembut. Alam seperti mengajak manusia berhenti sejenak dari kecepatan hidup.
Bagi wisatawan modern yang setiap hari hidup dalam kepadatan kota dan hiruk-pikuk teknologi, pengalaman seperti itu bukan lagi sekadar perjalanan.
Ia menjadi kebutuhan.
Sumba menawarkan pengalaman wisata yang tidak berhenti pada pemandangan. Pulau ini juga membuka pintu menuju kebudayaan, tradisi, arsitektur lokal, kuliner, kerajinan, hingga kehidupan masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas destinasi.
Karena itu, daya tarik Sumba tidak hanya terletak pada apa yang terlihat oleh mata.
Ia juga berada pada apa yang dirasakan.
Pada kesunyian.
Pada keramahan.
Pada tradisi yang masih hidup.
Pada alam yang belum kehilangan karakternya.
Dan pada pengalaman perjalanan yang meninggalkan kenangan jauh setelah wisatawan meninggalkan pulau itu.
Rita Uru Hida: Sumba Adalah Aset Pariwisata yang Harus Dijaga
Pandangan tersebut juga disampaikan Rita Uru Hida, S.H., ketika dihubungi di Singapura, Sabtu, 19 September 2026, waktu setempat.
Rita menilai keindahan pariwisata Sumba merupakan kekayaan daerah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara serius, terutama dalam mendatangkan wisatawan dari berbagai negara.
“Pariwisata di Sumba, Nusa Tenggara Timur, sangat indah dan mempesona. Ini merupakan aset daerah yang patut diperhatikan dan ditata lebih baik agar semakin mampu mendatangkan wisatawan dari berbagai negara untuk menikmati alam dan kekayaan budaya Sumba,” tutur Rita.
Pernyataan itu mengandung pesan yang lebih besar daripada sekadar promosi destinasi.
Sumba memiliki modal alam.
Tetapi modal alam tanpa tata kelola dapat kehilangan nilainya.
Karena itu, perhatian terhadap infrastruktur, aksesibilitas, kebersihan destinasi, keamanan wisatawan, promosi internasional, kualitas sumber daya manusia, serta perlindungan terhadap lingkungan dan budaya lokal menjadi bagian penting dari masa depan pariwisata Sumba.
Kemajuan pariwisata, pada akhirnya, tidak semata-mata diukur dari berapa banyak wisatawan yang datang.
Ia juga harus diukur dari seberapa besar masyarakat lokal memperoleh manfaat dan seberapa kuat alam serta kebudayaan tetap terlindungi.
Dari Savana ke Dunia
Ada alasan mengapa Sumba mempunyai daya tarik yang begitu kuat bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda.
Pulau ini memiliki lanskap yang dramatis.
Savana terbuka bertemu dengan laut. Perbukitan membentuk garis horizon yang panjang. Pantai-pantai menyimpan karakter yang berbeda. Desa-desa tradisional memperlihatkan kehidupan masyarakat yang masih memelihara warisan leluhur.
Semua itu membentuk sebuah pengalaman yang tidak mudah diproduksi ulang.
Dalam bahasa pariwisata modern, pengalaman semacam itu semakin bernilai.
Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat untuk berfoto.
Mereka mencari cerita.
Mereka ingin merasakan kehidupan lokal.
Mereka ingin menemukan tempat yang tidak terasa seperti salinan destinasi lain.
Dan Sumba memiliki cerita itu.
Cerita tentang manusia dan tanah.
Tentang leluhur dan tradisi.
Tentang kuda, savana, laut, rumah adat, kain tenun, dan ritual budaya yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah perubahan industri pariwisata global, identitas semacam ini justru menjadi kekuatan.
NTT Memiliki Berlian Pariwisata
Bagi Nusa Tenggara Timur, perkembangan popularitas Sumba juga dapat menjadi momentum untuk membangun ekosistem pariwisata yang lebih terintegrasi.
Sumba tidak seharusnya dipandang hanya sebagai destinasi untuk menikmati alam.
Ia dapat berkembang sebagai ruang perjumpaan antara pariwisata, ekonomi kreatif, budaya, kuliner, kerajinan, sejarah, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Jika dikelola secara konsisten, geliat wisatawan dapat membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Penginapan tumbuh.
Kuliner lokal berkembang.
Kerajinan mendapatkan pasar.
Pelaku transportasi memperoleh peluang.
Pemandu wisata memiliki ruang kerja.
Anak-anak muda memperoleh kesempatan membangun profesi di kampung halaman.
Dan pada saat yang sama, pemerintah daerah memiliki peluang memperkuat Pendapatan Asli Daerah melalui sektor pariwisata yang dikelola secara transparan dan berkelanjutan.
Namun, seluruh peluang tersebut harus berjalan bersama prinsip perlindungan.
Jangan sampai popularitas menjadi pedang bermata dua.
Jangan sampai alam yang menjadi alasan wisatawan datang justru rusak akibat kedatangan wisatawan.
Jangan sampai budaya yang menjadi daya tarik justru kehilangan makna karena hanya diperlakukan sebagai tontonan.
Di sinilah pembangunan pariwisata membutuhkan keseimbangan antara promosi dan konservasi, investasi dan masyarakat, pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Sumba dan Masa Depan Pariwisata Indonesia
Pengakuan internasional terhadap Sumba, apabila terus diperkuat dengan tata kelola yang baik, dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan Nusa Tenggara Timur lebih luas kepada dunia.
Indonesia tidak hanya memiliki Bali.
Tidak hanya Labuan Bajo.
Tidak hanya Borobudur.
Indonesia memiliki banyak wajah pariwisata, dan Sumba adalah salah satu wajah yang memiliki karakter kuat.
Pulau itu tidak perlu menjadi seperti destinasi lain untuk menarik perhatian dunia.
Sumba justru harus tetap menjadi Sumba.
Dengan savananya.
Dengan lautnya.
Dengan tenunnya.
Dengan rumah adatnya.
Dengan masyarakatnya.
Dengan tradisinya.
Dengan kesunyiannya.
Sebab terkadang, daya tarik terbesar sebuah tempat bukan terletak pada seberapa keras ia memanggil wisatawan.
Melainkan pada seberapa dalam ia membuat seseorang ingin kembali.
Ketika Dunia Mencari Ketenangan
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia mulai merindukan sesuatu yang sederhana: tempat untuk berhenti.
Sumba menawarkan tempat itu.
Di sana, matahari sore seakan tidak sekadar tenggelam. Ia seperti menutup sebuah halaman perjalanan dengan cahaya keemasan.
Angin bergerak di atas savana.
Laut membentangkan horizon.
Dan manusia, untuk sesaat, kembali menyadari bahwa kehidupan tidak selalu harus dikejar.
Ada saatnya kehidupan dinikmati.
Mungkin karena itulah Sumba memperoleh perhatian dunia.
Bukan karena pulau itu berusaha menjadi yang paling ramai.
Tetapi karena ia masih memiliki sesuatu yang perlahan hilang dari banyak tempat di dunia:
keheningan yang jujur.
Dan ketika keheningan itu dipelihara dengan tata kelola pariwisata yang bertanggung jawab, Sumba bukan hanya menjadi destinasi untuk dikunjungi.
Ia dapat menjadi pengalaman yang dikenang.
Sebuah perjalanan yang membawa wisatawan pulang bukan hanya dengan foto, tetapi dengan cerita.
Sebab di ujung selatan Indonesia itu, alam tidak sekadar menunggu untuk dilihat.
Alam Sumba sedang bercerita kepada dunia.


















