Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwa

Duka Mendalam di Maumere, Bapak Cio Pulang Untuk Selamanya

40
×

Duka Mendalam di Maumere, Bapak Cio Pulang Untuk Selamanya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAUMERE |LINTASTIMOR.ID — Minggu (13/9/2026) menjadi hari ketika rumah di Wailiti, Maumere, terasa lebih sunyi dari biasanya. Tangis masih menggantung di antara keluarga dan kerabat yang berkumpul, mengiringi kepulangan terakhir drh. Alfonsius Albinus Mehan—sosok yang bagi orang-orang terdekatnya akrab dipanggil “Bapak Cio.”

Usai Misa Requiem pemakaman, Tiur Hutagalung berdiri dalam suasana duka yang belum benar-benar reda. Kenangan tentang sosok yang selama ini hadir sebagai suami, kepala keluarga, sekaligus pengabdian bagi banyak orang, seakan kembali berjalan di hadapannya.

Example 300x600

Bagi Tiur, kehilangan itu bukan perkara mudah untuk dirangkai dengan kata-kata. Almarhum dikenangnya sebagai sosok seperti “malaikat” yang diutus Tuhan—seorang manusia yang memberikan dirinya bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

“Ada manusia yang hadir dalam hidup kita seperti malaikat. Ketika ia pergi, yang tertinggal bukan hanya kesedihan, tetapi juga jejak kebaikan yang tidak mudah dilupakan.”

Kepergian drh. Alfonsius Albinus Mehan terasa semakin dalam karena ia gugur ketika menjalankan tugas di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Di titik itulah pengabdian menemukan wajahnya yang paling sunyi. Tugas yang dijalankan jauh dari rumah membuat jarak bukan hanya menjadi perjalanan geografis, melainkan juga bagian dari risiko yang harus ditanggung oleh mereka yang memilih mengabdi. Bagi keluarga, pengabdian itu kini berubah menjadi kenangan; bagi masyarakat dan negara, ia menjadi catatan tentang seorang anak bangsa yang menunaikan tugas hingga akhir.

Dalam suasana duka tersebut, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Kepala Dinas Ketenagakerjaan Provinsi NTT, Yosep Rasi, turut hadir memberikan perhatian kepada keluarga almarhum.

Santunan duka sebesar Rp25 juta diserahkan kepada keluarga korban dan diterima secara simbolis oleh Tiur Hutagalung selaku istri almarhum.

Namun, bagi keluarga, angka dalam sebuah santunan tentu tidak pernah dapat mengukur kehilangan. Ia hanya menjadi bentuk kepedulian di tengah luka, sementara kenangan tentang seorang suami, ayah, dan sosok yang dicintai akan terus hidup dalam ruang-ruang paling pribadi keluarga.

Hari itu, Wailiti tidak hanya melepas seorang anggota keluarga. Ia melepas seorang manusia yang perjalanan hidupnya telah bersentuhan dengan pengabdian.

Selamat jalan, Bapak Cio.

Namamu mungkin kini terhenti dalam perjalanan dunia, tetapi pengabdianmu akan terus berjalan melalui ingatan orang-orang yang pernah mengenalmu.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak selalu dikenang karena berapa lama ia hidup, melainkan karena seberapa berarti jejak yang ditinggalkannya ketika akhirnya harus pulang kepada Tuhan.

Example 300250