TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Angin dingin menyapu punggung pegunungan Papua. Di tengah bentang alam yang menjulang hingga 4.884 meter di atas permukaan laut, dua putra Mimika berdiri di salah satu titik tertinggi Indonesia. Di sana, Merah Putih dibentangkan—bukan hanya sebagai lambang negara, tetapi sebagai pesan tentang kebanggaan, tanah leluhur, dan keberanian masyarakat adat menatap masa depan dari tanahnya sendiri.
Pelinus Beanal, Sekretaris PT Wisata Puncak Nemangkawi (WPN), bersama Elias Beanal, Koordinator PT WPN wilayah Tsingga, berhasil mencapai Puncak Nemangkawi.
Sesampainya di ketinggian tersebut, keduanya mengibarkan bendera Merah Putih. Foto Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia turut dibawa hingga ke puncak, melengkapi sebuah ekspedisi yang tidak berhenti pada pencapaian fisik semata.
Di medan yang menuntut ketahanan tubuh dan keberanian itu, Merah Putih berkibar di antara langit dan pegunungan Papua.
Momen tersebut menjadi simbol kecintaan kepada Indonesia sekaligus kebanggaan masyarakat adat Mimika terhadap wilayah yang secara turun-temurun memiliki keterikatan kuat dengan kehidupan mereka.
“Ada puncak yang ditaklukkan dengan langkah kaki, tetapi ada pula puncak yang dicapai dengan menjaga kehormatan tanah leluhur.”
Bukan Hanya Tentang Menaklukkan Gunung
Pendakian Pelinus dan Elias menghadirkan makna yang lebih luas daripada sekadar keberhasilan mencapai titik tertinggi.
Keduanya membawa pesan bahwa masyarakat adat Papua memiliki ruang untuk tampil sebagai pelaku utama dalam pengembangan potensi wisata di wilayahnya sendiri.
PT Wisata Puncak Nemangkawi dikelola dengan melibatkan masyarakat pemilik hak ulayat. Karena itu, keberhasilan pendakian tersebut dipandang sebagai capaian bersama antara pendaki, pengelola, dan masyarakat adat.
Di balik lanskap pegunungan yang megah, tersimpan sebuah gagasan penting: kekayaan alam Papua tidak harus selalu hadir sebagai sesuatu yang hanya dinikmati dari kejauhan. Ia dapat dikelola, diperkenalkan, dan dikembangkan dengan melibatkan komunitas yang memiliki hubungan historis dengan wilayah tersebut.
Di titik inilah pendakian Nemangkawi menemukan maknanya.
Sebab, ketika pariwisata berbasis masyarakat adat dibicarakan, pertanyaan paling mendasar bukan hanya tentang seberapa indah sebuah destinasi, tetapi juga tentang siapa yang memiliki ruang, kesempatan, dan manfaat dari pengembangannya.
Dukungan dari DPRK Mimika
Kegiatan pendakian tersebut mendapat dukungan penuh dari Dolvin Beanal, Ketua Komisi II DPRK Mimika.
Dukungan itu menjadi bagian dari dorongan untuk mengembangkan potensi pariwisata berbasis masyarakat adat sekaligus memperkenalkan Puncak Nemangkawi sebagai destinasi wisata alam yang memiliki nilai ekonomi, budaya, dan kebanggaan lokal.
Nemangkawi bukan hanya tentang angka 4.884 mdpl.
Ia adalah bentang alam yang menghadirkan tebing, medan ekstrem, udara dingin, dan lanskap pegunungan Papua. Namun di balik semua itu terdapat keterikatan yang jauh lebih dalam dengan masyarakat adat Mimika.
Secara kontekstual, ekspedisi ini memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata di Papua memiliki dimensi yang lebih besar daripada promosi destinasi. Ketika masyarakat adat dilibatkan sebagai pengelola dan pelaku, pariwisata dapat menjadi ruang untuk mempertemukan konservasi alam, identitas budaya, pemberdayaan ekonomi, dan penghormatan terhadap hak masyarakat pemilik wilayah. Karena itu, keberhasilan pendakian Nemangkawi dapat dibaca sebagai salah satu contoh bagaimana potensi alam Papua mulai didekati dari perspektif masyarakat yang hidup dan memiliki keterikatan dengan ruang tersebut.
Pelinus Beanal dan Elias Beanal akhirnya kembali membawa cerita dari ketinggian.
Cerita tentang dua pendaki yang menapaki medan berat, tentang Merah Putih yang berkibar di 4.884 mdpl, dan tentang masyarakat adat yang ingin menunjukkan bahwa tanah leluhur bukan hanya memiliki keindahan untuk dipandang, tetapi juga memiliki potensi untuk dikelola dengan martabat.
Di atas Nemangkawi, bendera itu berkibar melawan angin.
Dan dari puncak itu, sebuah pesan turun bersama kabut pegunungan: Papua bukan hanya tanah yang menyimpan kekayaan alam, tetapi juga tanah tempat masyarakat adat berdiri, berkarya, dan menuliskan masa depannya sendiri.


















