ILAGA |LINTASTIMOR.ID — Di antara bentang pegunungan Papua yang menjulang dan kampung-kampung yang dipisahkan jarak serta medan yang tak selalu ramah, sebuah kabar dari Jakarta datang membawa kebanggaan bagi Kabupaten Puncak. Malam itu, nama Puncak berdiri di panggung nasional ketika Bupati Puncak, Elvis Tabuni, menerima penghargaan kategori Apresiasi Daerah Peduli Layanan Publik dan Keterbukaan Informasi pada puncak perayaan HUT ke-15 KompasTV bertajuk Indonesia B15A, di Jakarta, Rabu (9/9/2026) malam.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam ajang yang dihadiri jajaran menteri Kabinet Merah Putih, antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri PAN-RB Rini Widyantini, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.
Selain memberikan apresiasi kepada tokoh dalam kategori 5 Wajah Indonesia, ajang tahunan tersebut juga memberikan penghargaan kepada sejumlah pemerintah daerah lintas sektor, mulai dari ketahanan pangan, iklim investasi, infrastruktur, hingga pelayanan publik.
Namun, bagi Puncak, penghargaan itu tidak berhenti pada sebuah piala atau seremoni di bawah gemerlap lampu panggung. Di balik penghargaan tersebut terdapat pekerjaan panjang pemerintah daerah untuk menghadirkan pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat di tengah karakter geografis pegunungan Papua yang penuh tantangan.
Elvis, usai menerima penghargaan, justru menanggalkan narasi kemenangan pribadi. Ia mengembalikan apresiasi tersebut kepada jajaran pemerintah daerah dan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Kabupaten Puncak.
“Penghargaan ini sebuah bukti kerja keras dan kerja bersama. Penghargaan ini milik seluruh masyarakat Puncak. Ini bukan sekadar pengakuan, melainkan tanggung jawab dan dorongan bagi kami untuk terus melayani dengan hati serta membenahi kualitas pelayanan publik.”
Kalimat itu menjadi penanda bahwa penghargaan bagi pemerintah daerah semestinya tidak berhenti sebagai simbol prestasi administratif. Ia harus menemukan maknanya di ruang-ruang pelayanan, di sekolah, fasilitas kesehatan, serta kehidupan ekonomi masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan.
Sebagai putra daerah, Elvis memahami bahwa membangun Puncak bukan pekerjaan yang dapat diukur hanya melalui panjang jalan, bangunan pemerintahan atau angka-angka pembangunan. Tantangan geografis di wilayah pegunungan Papua menuntut komitmen lebih besar agar masyarakat di daerah terpencil tetap memperoleh hak pelayanan dasar secara layak.
Karena itu, pemerintah daerah menempatkan pendidikan, kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat sebagai tiga sektor prioritas.
“Saya ingin masyarakat Puncak memiliki masa depan yang lebih baik—pendidikan yang memadai, layanan kesehatan yang baik, serta ekonomi yang tumbuh mandiri. Kemajuan daerah tidak hanya diukur dari fisik, tetapi harus dirasakan langsung oleh warga.”
Dalam konteks pemerintahan modern, penghargaan terhadap pelayanan publik dan keterbukaan informasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pengakuan atas kinerja birokrasi. Ia menjadi ukuran seberapa jauh pemerintah mampu mendekatkan negara kepada warga, terutama mereka yang hidup di wilayah dengan keterbatasan akses. Bagi daerah seperti Puncak, tantangannya bukan hanya menghadirkan kebijakan, tetapi memastikan kebijakan tersebut benar-benar menyeberangi jarak geografis dan sampai kepada masyarakat di kampung-kampung.
Elvis juga berharap Kabupaten Puncak terus bergerak menuju daerah yang maju dan sejahtera tanpa harus kehilangan akar yang selama ini menjadi identitas masyarakatnya. Kemajuan, menurut semangat yang dibawanya, harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam dan penghormatan terhadap budaya lokal.
Di panggung yang sama, ia menyampaikan apresiasi kepada KompasTV. Ia berharap media nasional terus menjaga perannya dalam membuka ruang keterbukaan informasi sekaligus menyuarakan aspirasi masyarakat dari pelosok timur Indonesia.
“Teruslah menjadi media yang terpercaya dan menyuarakan suara daerah, khususnya wilayah terpencil. Mari bersama membangun Indonesia dari timur. Indonesia bisa, Puncak bisa.”
Penghargaan tersebut akhirnya menjadi pijakan baru bagi Pemerintah Kabupaten Puncak. Sebab, ketika sebuah daerah menerima penghormatan di panggung nasional, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah tepuk tangan mereda.
Di balik pegunungan, di antara kampung-kampung yang jauh dari sorotan, ukuran paling jujur dari sebuah penghargaan bukanlah kilau yang terlihat di panggung, melainkan senyum warga ketika pelayanan negara akhirnya hadir tanpa mengenal jarak.


















