Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanInternasionalNasionalOtomotifPeristiwaPolkam

Deru Off-Road Menyatukan Pemkab Belu dan Timor Leste

39
×

Deru Off-Road Menyatukan Pemkab Belu dan Timor Leste

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Debu lintasan boleh beterbangan. Mesin boleh meraung di tengah medan yang terjal. Tetapi di balik deru kendaraan yang berpacu, ada sesuatu yang jauh lebih penting sedang bergerak: persahabatan dua masyarakat yang dipisahkan garis negara, tetapi didekatkan oleh ruang perbatasan.

Semangat itu akan menemukan panggungnya melalui Special Stage International Off-Road Competition Timor-Leste and Nusa Tenggara Timur, yang digelar di Dolok Oan, Dili, Timor-Leste, pada 12–13 September 2026.

Example 300x600

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, menyatakan kesediaannya menghadiri kompetisi tersebut. Hal itu disampaikan saat menerima kunjungan panitia di Ruang Kerja Bupati Belu, Selasa (1/9/2026).

Tidak sekadar hadir, Bupati Belu juga menyatakan kesiapan Pemerintah Kabupaten Belu membantu melakukan koordinasi kendaraan bagi peserta Indonesia yang akan mengikuti kompetisi tersebut.

“Ajang ini bukan sekadar kompetisi otomotif. Ini menjadi ruang untuk mempererat persahabatan, membuka jejaring, serta memperkuat kerja sama masyarakat di kawasan perbatasan.”

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana sebuah kompetisi olahraga dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste, perjumpaan melalui olahraga dan pariwisata memiliki arti strategis bagi hubungan antarmasyarakat.

Ketika Mesin Menjadi Bahasa Persahabatan

Belu dan Timor-Leste dipisahkan oleh batas negara. Namun, batas administratif tidak serta-merta menghapus kedekatan sosial dan peluang kerja sama yang tumbuh di kawasan perbatasan.

Kompetisi off-road di Dolok Oan menjadi salah satu ruang perjumpaan itu.

Para peserta tidak hanya membawa kendaraan menuju lintasan. Mereka juga membawa kesempatan untuk bertemu, berinteraksi, membangun jejaring, dan mengenal lebih dekat potensi kawasan yang berada di antara dua negara.

Dalam konteks tersebut, olahraga menjadi bahasa yang relatif sederhana: tidak membutuhkan meja perundingan untuk mempertemukan orang, tetapi mampu menghadirkan pengalaman bersama.

Pariwisata kemudian memperluas ruang perjumpaan itu. Ketika sebuah kompetisi internasional berlangsung, perhatian tidak hanya tertuju pada lintasan, tetapi juga pada daerah, masyarakat, dan potensi yang berada di sekitarnya.

Bagi Belu, dukungan terhadap kompetisi tersebut menjadi bagian dari semangat memperkuat hubungan masyarakat di kawasan perbatasan. Koordinasi kendaraan bagi peserta Indonesia juga menunjukkan keterlibatan Pemerintah Kabupaten Belu dalam mendukung keikutsertaan Indonesia pada ajang tersebut.

“Olahraga dapat menjadi jembatan persahabatan, sementara kawasan perbatasan membuka peluang bagi kerja sama yang lebih luas.”

Kalimat itu seolah merangkum makna yang lebih dalam dari sebuah perlombaan. Sebab, kemenangan dalam olahraga hanya tercatat di garis finis. Tetapi persahabatan yang lahir dari sebuah perjumpaan dapat berjalan jauh lebih panjang.

Dan ketika deru mesin kembali menggema di Dolok Oan pada 12–13 September nanti, yang bergerak bukan hanya kendaraan di atas lintasan.

Ada persahabatan yang ikut melaju.

Ada jejaring yang sedang dibangun.

Ada peluang pariwisata yang sedang dibuka.

Dan ada dua masyarakat di kawasan perbatasan yang kembali menemukan alasan untuk saling mendekat.

Sebab, garis negara boleh menjadi batas wilayah, tetapi persahabatan selalu menemukan jalannya sendiri.

Example 300250