Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
InternasionalKesehatanNasional

HIV/AIDS Harus Dicegah Bersama Timor Leste

21
×

HIV/AIDS Harus Dicegah Bersama Timor Leste

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID— Di wilayah perbatasan, manusia bergerak lebih cepat daripada garis yang membelah dua negara. Orang datang dan pergi, kendaraan melintas, aktivitas ekonomi berdenyut, sementara persoalan kesehatan masyarakat tidak mengenal pagar, pos pemeriksaan, ataupun batas administratif.

Kesadaran itulah yang mempertemukan Pemerintah Kabupaten Belu, INCSIDA (Instituto Nacional de Combate ao SIDA) Timor Leste, dan Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (CD Bethesda) Area Belu dalam sebuah audiensi di Ruang Kerja Bupati Belu, Kamis (27/8/2026).

Example 300x600

Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk merumuskan langkah bersama menghadapi persoalan HIV/AIDS yang dinilai perlu mendapat perhatian serius di kedua sisi perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, ST, mengapresiasi inisiatif INCSIDA Timor Leste serta peran fasilitasi teknis Yayasan Bethesda. Menurut dia, karakter Belu sebagai wilayah perbatasan sekaligus daerah transit membutuhkan strategi pencegahan yang tidak berhenti pada batas wilayah.

“Angka kasus HIV/AIDS di NTT, khususnya Belu, dan juga di Timor Leste sangat mengkhawatirkan. Kami berharap kerja sama antara Yayasan Bethesda dan INCSIDA Timor Leste dapat dipercepat. Inisiatif ini sangat krusial untuk mencegah penyebaran lebih luas di wilayah perbatasan.”

Pernyataan itu menegaskan satu hal: pencegahan tidak cukup dilakukan sendiri-sendiri. Ketika mobilitas masyarakat berlangsung lintas negara, maka respons kesehatan pun membutuhkan koordinasi lintas batas.

Presiden INCSIDA Timor Leste, Daniel Marcal, menyampaikan terima kasih atas respons positif serta gagasan konstruktif Pemerintah Kabupaten Belu. Ia menilai pertemuan tersebut sebagai tonggak awal menuju kerja sama formal antara kedua lembaga demi melindungi masyarakat di kedua negara.

Sementara itu, Koordinator CD Bethesda Area Belu, Almada Lasi, memaparkan kondisi kesehatan yang menunjukkan tingginya kasus HIV di wilayah perbatasan. Posisi Atambua sebagai kota transit, kata dia, membuat upaya pencegahan membutuhkan pendekatan yang lebih aktif, dekat dengan masyarakat, dan berkelanjutan.

Dari ruang audiensi itu, sejumlah gagasan kemudian diarahkan menjadi agenda aksi. Rencana tersebut akan dibahas lebih lanjut dan ditandatangani dalam pertemuan lanjutan pada Jumat (28/8/2026) di Hotel Nusantara.

Langkah pertama menyasar edukasi melalui “Pojok Baca”, disertai penyediaan selebaran dan materi informasi HIV/AIDS di sejumlah titik strategis wilayah perbatasan. Kampanye juga dirancang berlangsung secara rutin agar pengetahuan tentang HIV/AIDS tidak hanya hadir ketika kasus muncul.

Berikutnya adalah penguatan layanan Mobile VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau pemeriksaan HIV secara bergerak. Layanan ini akan diarahkan terutama kepada kelompok berisiko tinggi, termasuk pekerja seks komersial dan komunitas transgender yang memiliki mobilitas lintas batas.

Agenda lainnya mencakup peringatan Hari AIDS Sedunia, edukasi massal, pemeriksaan gratis, penghapusan stigma dan diskriminasi, serta dukungan untuk meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan HIV (ODHIV).

Dari pengobatan menuju pencegahan

Secara kontekstual, persoalan HIV/AIDS di kawasan perbatasan tidak semata-mata merupakan persoalan medis. Mobilitas penduduk, aktivitas ekonomi, interaksi sosial, keterbatasan akses informasi, serta stigma terhadap ODHIV dapat membentuk mata rantai persoalan yang lebih kompleks. Karena itu, solusi yang paling kuat bukan hanya memperbanyak pemeriksaan, tetapi membangun sistem pencegahan bersama: edukasi yang konsisten, layanan tes yang mudah dijangkau, pendampingan bagi mereka yang membutuhkan, perlindungan dari stigma, serta pertukaran informasi dan koordinasi layanan kesehatan antara kedua negara.

Dalam kerangka itu, kerja sama Belu dan Timor Leste menjadi penting. Pencegahan harus bergerak mengikuti manusia yang melintas, bukan menunggu persoalan berhenti di sebuah garis perbatasan.

Audiensi tersebut turut dihadiri Asisten I Sekda Belu, pimpinan perangkat daerah, serta jajaran direksi nasional dari berbagai divisi INCSIDA Timor Leste.

Pada akhirnya, perbatasan bukan sekadar tempat dua negara bertemu. Ia juga menjadi ruang tempat tanggung jawab kemanusiaan diuji. Di sana, sebuah kerja sama kecil dapat menjadi pagar yang besar—bukan untuk membatasi manusia, melainkan untuk melindungi kehidupan.

Sebab HIV tidak mengenal batas negara, maka pencegahannya pun harus menyeberangi batas.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.id Editor: Agustinus Bobe