Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Dari Timika, Benny Kembali Mengawal Laut Kemanusiaan

18
×

Dari Timika, Benny Kembali Mengawal Laut Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA  |LINTASTIMOR.ID— Laut selalu menyimpan cara sendiri untuk mengantar seorang perwira pulang. Bagi Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto, S.H., perjalanan itu kini berlanjut dari Papua Tengah menuju geladak sebuah kapal yang membawa wajah lain dari kekuatan angkatan laut: bukan hanya pertahanan, tetapi juga kemanusiaan.

Mantan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Timika itu kini dipercaya memimpin KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991, salah satu kapal bantu rumah sakit milik TNI Angkatan Laut.

Example 300x600

Penugasan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan karier perwira yang akrab disapa Benny itu. Namanya masih lekat di tengah masyarakat Mimika setelah hampir dua tahun mengemban tugas sebagai Danlanal Timika, sejak 17 November 2023 hingga 5 September 2025.

Di Timika, ia bukan sekadar menjalankan sebuah jabatan. Ia menjalani bagian dari perjalanan panjang sebagai perwira laut di wilayah Papua Tengah—sebuah ruang pengabdian yang memiliki bentang geografis, karakter wilayah, serta tantangan keamanan yang berbeda dari sejumlah tempat tugas sebelumnya.

Kini, laut kembali memanggilnya.

Dari Yogyakarta ke geladak kapal

Benedictus lahir di Yogyakarta pada 24 September 1980. Meski lahir di Kota Gudeg, ia tumbuh dan besar di Jakarta.

Pendidikan militernya ditempuh di Akademi Angkatan Laut dan ia tercatat sebagai alumnus AAL 2002. Sebelumnya, Benny mengenyam pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Ia kemudian memperdalam pendidikan militernya melalui Seskoal di Jerman.

Kariernya banyak bersentuhan dengan dunia operasi dan kapal perang. Sejumlah penugasan dijalaninya, baik di dalam negeri maupun dalam lingkungan kerja sama internasional.

Ia pernah dipercaya menjadi Komandan KRI Cucut-886. Pada 2015–2016, Benny bertugas di Sopsal Mabesal Cilangkap. Ia juga pernah menjabat Palaksa KRI Banda Aceh-593.

Pengalaman internasional turut memberi warna pada perjalanan militernya. Benny pernah menjalankan tugas sebagai International Liaison Officer (ILO) di Information Fusion Centre, Singapura.

Dari sana, sejumlah penugasan strategis kembali menyusul. Ia pernah dipercaya menjadi Komandan KRI Teluk Parigi-539, Pabandya Renevalap Sopsal, hingga Komandan KRI Bontang-907 di jajaran Koarmada I.

Setiap kapal meninggalkan jejak. Setiap penugasan membawa pengalaman. Dan bagi seorang perwira laut, keduanya pada akhirnya menjadi satu hal: perjalanan pengabdian.

“Bagi seorang perwira laut, perpindahan penugasan bukan sekadar pergantian tempat. Ia adalah perjalanan untuk membawa pengalaman dari satu geladak ke geladak berikutnya, dari satu wilayah pengabdian menuju ruang tugas yang baru.”

Hampir dua tahun di Timika

November 2023 menjadi titik ketika perjalanan Benny bersinggungan dengan Timika.

Sebagai Danlanal Timika, ia ditempatkan di salah satu kawasan strategis Papua Tengah. Hampir dua tahun ia menjalankan tugas sebelum masa jabatannya berakhir pada September 2025.

Dari Timika, perjalanan itu belum berhenti. Benny kemudian melanjutkan pengabdian sebagai Koorsmin Pangkoarmada III di Sorong.

Kini, pada 2026, jalur kariernya kembali membawanya ke laut.

Namun kali ini dengan mandat yang memiliki karakter berbeda.

KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 bukan sekadar kapal yang bergerak di ruang operasi laut. Sebagai kapal bantu rumah sakit, kapal tersebut membawa dimensi pelayanan kesehatan dan misi kemanusiaan.

Di titik inilah perjalanan Benny memperoleh warna baru. Pengalaman memimpin kapal perang, memahami operasi laut, menjalankan tugas internasional, memimpin pangkalan di Papua Tengah, hingga bertugas di Koarmada III menjadi bekal yang bertemu dengan kebutuhan sebuah kapal yang membawa misi pelayanan.

Laut dengan wajah kemanusiaan

Penugasan Benny sebagai komandan KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 dapat dibaca sebagai bagian dari spektrum pengabdian TNI Angkatan Laut yang tidak berhenti pada aspek pertahanan. Kapal bantu rumah sakit mempertemukan kemampuan militer dengan kebutuhan kemanusiaan, terutama ketika pelayanan kesehatan harus menjangkau wilayah yang tidak selalu mudah disentuh melalui jalur darat.

Dalam konteks itu, pengalaman Benny di berbagai medan penugasan menjadi relevan. Ia membawa pengalaman operasi, kepemimpinan kapal, kerja sama internasional, serta pemahaman terhadap karakter wilayah kepulauan ke dalam sebuah kapal yang memiliki fungsi pelayanan kesehatan.

Perjalanan dari Timika ke kapal rumah sakit itu pun bukan sekadar perpindahan seorang komandan. Ia memperlihatkan bagaimana pengalaman seorang perwira terus dirajut dari satu tugas ke tugas berikutnya—hingga akhirnya bertemu pada sebuah misi yang menggabungkan disiplin militer dengan sentuhan kemanusiaan.

“Dari laut, pertahanan menjaga negeri. Dari kapal rumah sakit, pengabdian menemukan wajah lainnya: hadir ketika manusia membutuhkan pertolongan.”

Bagi Benny, babak baru itu sekaligus menandai perjalanan panjang seorang perwira laut—dari memimpin kapal perang, menjalankan tugas internasional di Singapura, memimpin Lanal Timika di Papua Tengah, bertugas di Koarmada III Sorong, hingga kembali ke laut sebagai komandan kapal.

Dari Timika, Benedictus Hery Murwanto kini kembali ke geladak.

Tetapi kali ini, laut yang ia arungi membawa pesan yang lebih luas: bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam dentum senjata. Ada kalanya ia hadir dalam kapal yang berlayar membawa dokter, obat, perawatan, dan harapan.

Dan di antara riak laut yang tak pernah benar-benar diam, seorang perwira kembali melanjutkan pengabdiannya—dengan seragam yang sama, disiplin yang sama, tetapi dengan misi kemanusiaan yang memberi arti baru pada perjalanan panjangnya.

Example 300250