Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupHiburanNasionalPeristiwa

Delapan Kilometer, Belu Menghidupkan Api Kemerdekaan

17
×

Delapan Kilometer, Belu Menghidupkan Api Kemerdekaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Pagi di Atambua bergerak dengan warna Merah Putih. Di wajah anak-anak, di tangan para ibu, dan di antara langkah yang bersiap menempuh delapan kilometer, semangat kemerdekaan menemukan bentuknya yang sederhana: berjalan bersama, mengingat perjuangan, dan merawat rasa cinta kepada Indonesia.

Sebanyak 89 regu Gerak Jalan Kemerdekaan dilepas di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – RDTL, Senin (10/8/2026). Bupati Belu Willybrodus Lay, S.H bersama Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, S.T melepas para peserta dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia.

Example 300x600

Pesertanya beragam. Ada pelajar sekolah dasar, ibu-ibu perwakilan kelurahan, hingga organisasi wanita. Mereka berdiri dalam barisan, bersiap menempuh jarak delapan kilometer dengan langkah yang penuh semangat.

Di wilayah Belu yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, perjalanan delapan kilometer itu kemudian memiliki makna yang lebih panjang dari sekadar perlombaan. Setiap langkah menjadi simbol kecil untuk mengenang perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Bupati Willybrodus Lay mengatakan gerak jalan tersebut tidak semestinya dilihat hanya sebagai aktivitas fisik. Di balik barisan dan langkah kaki, terdapat pesan sejarah yang perlu diwariskan kepada generasi muda.

“Melalui peristiwa sederhana ini, saya mengharapkan generasi muda kita bisa merasakan apa yang terjadi 81 tahun yang lalu. Ini adalah cara kita menghormati jasa pahlawan dan menanamkan rasa cinta tanah air,” ujar Bupati Willybrodus Lay.

Pesan itu menjadikan delapan kilometer sebagai ruang pembelajaran yang bergerak. Para peserta tidak hanya diminta mencapai garis akhir, tetapi diajak membayangkan betapa panjang dan berat perjalanan para pejuang 81 tahun silam ketika merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Di sepanjang pelepasan, semangat itu tampil dalam wajah-wajah yang penuh kreativitas. Ibu-ibu mengenakan atribut bernuansa kemerdekaan. Anak-anak tampil dengan gagah sambil membawa bendera. Stiker Merah Putih menghiasi pipi, sementara hiasan tangan menambah warna pada barisan peserta.

Tidak ada kesan bahwa kemerdekaan hanya menjadi angka yang setiap tahun dirayakan. Pagi itu, ia hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat: warna bendera, langkah kaki, kebersamaan, dan kegembiraan.

Bupati Willy Lay pun memberikan apresiasi atas kreativitas para peserta. Ia melihat antusiasme tersebut sebagai energi positif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia sekaligus mendorong semangat kemajuan daerah.

“Saya bangga melihat antusiasme Anda. Ada ibu-ibu dengan bendera di pipi, anak-anak yang gagah membawa bendera. Terima kasih atas kreativitas ini. Semoga ini membangun kecintaan kita pada Indonesia yang lebih baik, dan khususnya membuat Kabupaten Belu semakin maju dan mampu bersaing dengan daerah lain,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut memperluas makna perayaan kemerdekaan di Belu. Kreativitas masyarakat bukan sekadar ornamen dalam sebuah perlombaan, tetapi menjadi ekspresi kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia, terutama di sebuah wilayah perbatasan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan dinamika kawasan Timor.

Perbatasan yang Merayakan Indonesia

Di wilayah perbatasan, nasionalisme tidak selalu harus hadir dalam pidato-pidato besar. Ia dapat tumbuh dari hal-hal yang sederhana: anak-anak yang membawa Merah Putih, ibu-ibu yang berjalan dalam barisan, dan masyarakat yang bersama-sama merayakan hari lahir bangsanya.

Karena itu, gerak jalan delapan kilometer tersebut dapat dibaca sebagai lebih dari sekadar agenda peringatan HUT ke-81 RI. Ia menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, kebersamaan, pendidikan, dan harapan pembangunan daerah. Dari langkah-langkah kecil masyarakat itulah semangat kebangsaan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pelepasan 89 regu tersebut turut dihadiri seluruh unsur Forkopimda, pejabat perwakilan Dekan Universitas Pertahanan (UNHAN) RI Atambua, para pimpinan instansi vertikal, pimpinan perangkat daerah, BUMN/BUMD, serta para kepala sekolah dan pendamping.

Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan soliditas dukungan pemerintah dan masyarakat dalam menyukseskan rangkaian perayaan kemerdekaan tingkat Kabupaten Belu.

Setelah pelepasan, barisan pun bergerak. Delapan kilometer terbentang di hadapan para peserta. Langkah demi langkah membawa mereka menuju garis akhir, sekaligus membawa sebuah pesan yang lebih jauh: bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat.

Di Belu, di tanah perbatasan yang menghadap langsung ke Timor Leste, Merah Putih hari itu tidak hanya berkibar di tangan—ia berjalan bersama 89 regu, menempuh delapan kilometer untuk mengingat bahwa kemerdekaan selalu punya harga yang harus dihormati.

Example 300250