TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di balik angka yang tampak kecil, tersimpan pesan besar tentang pentingnya kewaspadaan. Dua kasus kronis filariasis yang masih tercatat di Kabupaten Mimika menjadi pengingat bahwa penyakit menular tidak boleh dipandang hanya dari jumlah penderitanya, tetapi juga dari potensi penyebaran yang dapat dicegah sejak dini.
Berangkat dari semangat itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar Workshop Tatalaksana Kasus Kronis Filariasis di Hotel Grand Tembaga, Rabu (1/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti tenaga kesehatan dari 26 puskesmas serta perwakilan tiga rumah sakit di Kabupaten Mimika sebagai upaya memperkuat kapasitas pelayanan, deteksi dini, dan penanganan penyakit filariasis.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, dr. Sisma HL, menegaskan bahwa meskipun jumlah kasus kronis yang tercatat hanya dua, hal itu tidak boleh membuat kewaspadaan menjadi berkurang. Justru, menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat peran petugas kesehatan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk tersebut.
“Kami ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas, termasuk dalam hal pencatatan dan pelaporan. Setiap puskesmas wajib melaporkan jika ditemukan kasus di wilayah kerjanya,” ujar dr. Sisma.
Workshop yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan itu juga membahas berbagai tantangan yang masih dihadapi di lapangan. Salah satunya adalah proses pengambilan sampel darah yang selama ini umumnya dilakukan pada malam hari, sehingga kerap menimbulkan keberatan dari masyarakat.
Namun demikian, perkembangan metode pemeriksaan kini memberikan alternatif yang lebih mudah melalui penggunaan Rapid Diagnostic Test (RDT) yang dapat dilakukan pada siang hari.
“Kami harap masyarakat memahami pentingnya pemeriksaan. Saat ini tersedia juga rapid diagnostic test (RDT) yang bisa dilakukan pada siang hari sebagai alternatif,” jelasnya.
Selain penguatan kapasitas tenaga kesehatan, Dinas Kesehatan Mimika juga menempatkan edukasi masyarakat sebagai bagian penting dalam strategi pengendalian filariasis. Karena itu, keterlibatan petugas promosi kesehatan dari setiap puskesmas dinilai menjadi langkah strategis untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai benteng utama pencegahan penyakit.
“Harapan kami ke depan, surveilans di lapangan semakin baik. Jangan melihat angka dua kasus itu kecil, tapi lihat potensi pencegahannya. Jika bisa dicegah, mengapa tidak?” tegas dr. Sisma.
Secara kontekstual, penguatan surveilans dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi fondasi penting dalam mendukung target eliminasi filariasis. Deteksi dini, pelaporan yang akurat, edukasi berkelanjutan, serta kolaborasi antara puskesmas, rumah sakit, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam memutus penularan penyakit tersebut.
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya koordinasi antarfasilitas pelayanan kesehatan dengan pemerintah daerah agar penanganan kasus filariasis dapat berjalan lebih cepat, terukur, dan berkesinambungan.
Masyarakat pun diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti pembengkakan berulang pada kaki atau lengan, serta mendukung program pengobatan massal apabila dilaksanakan di lingkungan masing-masing.
Di dunia kesehatan, keberhasilan tidak selalu diukur dari banyaknya pasien yang disembuhkan, tetapi juga dari sedikitnya warga yang akhirnya jatuh sakit karena pencegahan dilakukan dengan sungguh-sungguh.


















