Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanNasionalPeristiwaPolkam

80 Tahun Mengabdi untuk Negeri, Bupati Belu dan Polres Belu Rajut Syukur di Batas Republik

116
×

80 Tahun Mengabdi untuk Negeri, Bupati Belu dan Polres Belu Rajut Syukur di Batas Republik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID– Pagi itu, langit Atambua seakan memberi ruang bagi sebuah perayaan yang bukan sekadar seremonial. Di halaman Markas Komando Polres Belu, derap langkah pasukan, kibaran Merah Putih, dan wajah-wajah penuh pengabdian berpadu dalam satu narasi panjang tentang dedikasi. Rabu (1/7/2026), Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 menjadi penanda perjalanan sejarah Polri yang terus berdiri di garda terdepan menjaga keamanan, termasuk di beranda terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL).

Hadir dalam momentum tersebut, Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari upacara hingga doa bersama lintas agama di lingkungan Polres Belu. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Belu itu menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah daerah dan institusi kepolisian dalam menjaga stabilitas serta membangun kepercayaan masyarakat.

Example 300x600

Upacara peringatan HUT Bhayangkara ke-80 dipimpin langsung oleh Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa, SH., SIK, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Dalam amanat yang membacakan sambutan Presiden Republik Indonesia, disampaikan apresiasi atas dedikasi dan kerja keras Polri dalam menjaga keamanan nasional serta mengawal pembangunan bangsa.

Presiden juga menegaskan pentingnya Polri yang semakin profesional, modern, humanis, dan berorientasi pada pelayanan publik sebagai fondasi utama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Polri dituntut untuk terus hadir sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang mampu menjawab tantangan zaman dengan profesionalisme dan integritas yang tinggi.”

Usai upacara, suasana khidmat berlanjut dalam kegiatan Doa Bersama Lintas Agama. Para tokoh agama dari Katolik, Islam, Kristen Protestan, Hindu, dan Buddha secara bergantian memanjatkan doa. Di tengah keberagaman yang hidup harmonis di Kabupaten Belu, lantunan doa-doa itu menjadi jembatan spiritual yang menyatukan harapan bagi keamanan, kedamaian, dan masa depan bangsa.

Momentum tersebut menghadirkan pemandangan yang sarat makna. Tidak ada sekat keyakinan, tidak ada perbedaan yang dipertentangkan. Yang terlihat hanyalah wajah-wajah yang menengadah dengan harapan yang sama: Indonesia yang damai dan masyarakat yang hidup dalam rasa aman.

Puncak syukuran berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Prosesi pemotongan tumpeng dilakukan oleh Bupati Belu dan diserahkan kepada anggota Polres Belu yang paling senior serta anggota termuda. Tradisi sederhana itu menjadi simbol penghormatan terhadap perjalanan panjang pengabdian sekaligus estafet nilai-nilai Bhayangkara kepada generasi penerus.

Secara kontekstual, peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di Kabupaten Belu memiliki arti yang lebih luas dibandingkan seremoni tahunan semata. Sebagai daerah perbatasan negara, Belu merupakan wilayah strategis yang membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat. Karena itu, semangat kebersamaan yang ditunjukkan dalam peringatan ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga stabilitas, memperkuat persatuan, dan memastikan bahwa pembangunan dapat berjalan di atas fondasi keamanan yang kokoh.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah antara jajaran Forkopimda Kabupaten Belu, para undangan, serta seluruh personel Polres Belu. Tawa, sapaan hangat, dan jabat tangan yang terjalin menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak hanya dibangun melalui tugas dan kewenangan, tetapi juga melalui kebersamaan yang tumbuh dari rasa saling percaya.

Di usia ke-80 tahun, Bhayangkara tidak sekadar merayakan perjalanan waktu. Ia sedang menegaskan kembali sebuah janji: bahwa di setiap sudut negeri, termasuk di tapal batas republik, pengabdian kepada masyarakat akan selalu menjadi cahaya yang menjaga Indonesia tetap tegak berdiri. (Prokopim Belu)

Example 300250