Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHukum & KriminalKabupaten MimikaKesehatanNasionalPeristiwaPolkam

MTBS Belum Merata di Mimika, Dinkes Peringatkan Ancaman Balita Luput dari Deteksi Tanda Bahaya

71
×

MTBS Belum Merata di Mimika, Dinkes Peringatkan Ancaman Balita Luput dari Deteksi Tanda Bahaya

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID – Di balik riuh aktivitas pelayanan kesehatan yang setiap hari berlangsung di puskesmas dan klinik, ada satu kenyataan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Kabupaten Mimika. Tidak semua balita yang datang berobat mendapatkan pemeriksaan secara utuh dan terpadu sebagaimana standar yang direkomendasikan dunia kesehatan.

Padahal, pada usia yang masih begitu rapuh, satu tanda bahaya yang terlewat dapat menjadi awal dari risiko yang lebih besar.

Example 300x600

Kesadaran itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menggelar Pertemuan Penguatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Tahun 2026, sebuah forum penting yang mempertemukan tenaga kesehatan untuk menyamakan langkah dalam menjaga keselamatan generasi masa depan.

Di tengah jalannya pertemuan, terungkap fakta yang cukup memprihatinkan. Sejumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), baik puskesmas, puskesmas pembantu maupun klinik, ternyata belum menerapkan pendekatan MTBS secara menyeluruh.

Padahal, MTBS merupakan pendekatan terintegrasi yang direkomendasikan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menangani balita sakit secara holistik, mulai dari penilaian gejala klinis, status gizi, imunisasi, hingga konseling pemberian makan bagi anak.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Mimika, Nelly Siburian, mengakui bahwa dalam praktiknya masih terdapat pelayanan yang dilakukan berdasarkan gejala secara terpisah.

╔══════════════════════════════════╗
║ “Sebagian layanan masih dilakukan ║
║ berdasarkan gejala secara ║
║ terpisah. Ini berisiko tidak ║
║ terdeteksinya tanda bahaya pada ║
║ balita.” ║
║ ║
║ — Nelly Siburian ║
╚══════════════════════════════════╝

Menurut Nelly, kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai konsekuensi serius, mulai dari tidak terdeteksinya tanda bahaya pada balita, keterlambatan rujukan kasus berat seperti pneumonia, diare berat, maupun gizi buruk, hingga belum optimalnya kualitas data pelayanan kesehatan anak.

Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (9/6/2026) itu diikuti oleh 70 peserta yang terdiri dari dokter dan penanggung jawab MTBS dari 26 puskesmas, dokter dari Klinik Bersalin Julia, Klinik Aisah Care, Klinik Pemda Utikini Baru, Klinik Pomako, Klinik Wangirja, serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.

Melalui kegiatan tersebut, Dinas Kesehatan menargetkan peningkatan pemahaman tenaga kesehatan, penyamaan standar diagnosis dan tata laksana balita sakit, validasi data program bayi baru lahir, serta penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) dari masing-masing FKTP agar penerapan MTBS berjalan konsisten.

Secara kontekstual, penguatan MTBS menjadi sangat penting mengingat balita merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap berbagai penyakit infeksi dan gangguan gizi. Dalam banyak kasus, keterlambatan mengenali tanda bahaya sering kali menjadi faktor yang memperberat kondisi anak. Karena itu, penerapan standar pemeriksaan yang seragam di seluruh fasilitas kesehatan menjadi fondasi utama untuk menekan risiko kesakitan dan kematian balita.

Nelly berharap pertemuan tersebut mampu membangun kesepahaman antara dokter, bidan, dan perawat dalam menerapkan algoritma MTBS secara benar dan berkelanjutan. Selain itu, forum ini juga diharapkan menghasilkan pemetaan fasilitas kesehatan beserta kendala implementasi yang mereka hadapi sebagai dasar perbaikan program ke depan.

╔════════════════════════════════════╗
║ “Pertemuan ini juga bisa ║
║ menyegarkan kembali pemahaman ║
║ dokter dan penanggung jawab ║
║ tentang algoritma standar MTBS ║
║ dan skrining Bayi Baru Lahir ║
║ (BBL), serta melakukan validasi ║
║ data dan evaluasi capaian program ║
║ pelayanan kesehatan bayi baru ║
║ lahir tahun 2026.” ║
║ ║
║ — Nelly Siburian ║
╚════════════════════════════════════╝

Penguatan MTBS sesungguhnya bukan sekadar soal prosedur medis atau kelengkapan administrasi pelayanan kesehatan. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan setiap anak yang datang ke fasilitas kesehatan memperoleh kesempatan yang sama untuk diperiksa, dikenali risikonya, dan ditangani secara tepat waktu.

Sebab di balik setiap balita yang diperiksa, tersimpan harapan sebuah keluarga; dan di balik setiap tanda bahaya yang berhasil dideteksi lebih awal, terselamatkan masa depan yang tak ternilai harganya.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe