INTAN JAYA | LINTASTIMOR.ID – Pagi itu, kesunyian masih menggantung di Kampung Ndugusiga, Dusun Bambu Kuning (Jaindapa). Setelah setahun hidup dalam pengungsian akibat operasi militer yang berlangsung sejak 12 Mei 2025, warga akhirnya memberanikan diri menapaki kembali tanah kelahiran mereka. Namun harapan untuk pulang dan memulai hidup baru mendadak berubah menjadi kecemasan ketika sebuah benda mencurigakan ditemukan di bawah kolong Gereja Jaindapa.
Kabar itu bergerak cepat, melintasi grup-grup WhatsApp, media sosial, hingga sejumlah media online. Benda tersebut disebut-sebut sebagai bom yang diduga ditinggalkan aparat TNI-Polri. Informasi yang turut disebarluaskan oleh Juru Bicara TPN OPM, Sebby Sambom, membuat ketakutan kembali menyelimuti warga yang baru saja mencoba kembali ke kampung halaman mereka.
Sebagian warga memilih mundur. Trauma lama yang belum sepenuhnya sembuh kembali menyeruak. Sugapa, Nabire, dan Timika kembali menjadi tujuan pengungsian bagi mereka yang khawatir keselamatan keluarganya terancam.
Namun di tengah derasnya arus informasi yang belum terverifikasi, muncul ikhtiar untuk mencari kebenaran secara langsung.
Pada Kamis, 4 Juni 2026, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Intan Jaya, Yoyakim Mujizau, S.STP., M.Si., yang juga bertindak sebagai Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Intan Jaya, memimpin masyarakat Kampung Ndugusiga menuju Gereja Jaindapa Klasis Agisiga guna memastikan fakta yang sebenarnya.
Sesampainya di lokasi, tim melakukan pemeriksaan langsung terhadap benda yang menjadi sumber keresahan tersebut. Hasilnya jauh berbeda dari informasi yang telah beredar luas.
Benda yang diduga bom itu ternyata hanyalah biji lonceng gereja.
╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Saya bersama masyarakat Jaindapa ║ ║ telah memasuki Gedung Gereja ║ ║ Jaindapa dan melihat langsung ║ ║ benda yang diduga bom. Ternyata ║ ║ itu bukan bom, melainkan biji ║ ║ lonceng gereja.” ║ ║ ║ ║ — Yoyakim Mujizau ║ ╚══════════════════════════════════════╝
Temuan tersebut sekaligus mematahkan kekhawatiran yang terlanjur menyebar luas di tengah masyarakat. Benda yang selama beberapa hari dianggap sebagai ancaman ternyata merupakan bagian dari perlengkapan gereja yang sama sekali tidak berbahaya.
Yoyakim kemudian mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi, terutama di wilayah yang masih menyimpan luka konflik dan trauma sosial.
╔══════════════════════════════════════╗ ║ “Hentikan informasi bohong kepada ║ ║ masyarakat melalui media sosial ║ ║ yang meresahkan, membuat masyarakat ║ ║ kembali takut, trauma, dan ║ ║ mengungsi.” ║ ║ ║ ║ — Yoyakim Mujizau ║ ╚══════════════════════════════════════╝
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di daerah yang pernah dilanda ketegangan keamanan, sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan fakta. Ketakutan kolektif dapat tumbuh hanya dari sebuah dugaan, memengaruhi keputusan warga, bahkan mengubah arah kehidupan masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari masa-masa sulit.
Kini, setelah kebenaran terungkap, Gereja Jaindapa kembali berdiri sebagai simbol harapan di tengah kampung yang perlahan ingin hidup kembali. Di sana, bukan bom yang ditemukan, melainkan pelajaran berharga bahwa di tengah derasnya arus informasi, keberanian untuk mencari fakta adalah jalan paling aman menuju kedamaian.


















