ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID | – Pagi yang bening menggantung di atas hamparan savana Fulan Fehan di kaki Gunung Lakaan. Angin pegunungan Lamaknen berembus perlahan, menyisir rerumputan yang menguning keemasan di kaki bukit-bukit batu yang menjadi kebanggaan Belu. Di tengah lanskap yang kerap disebut surga tersembunyi di perbatasan RI–RDTL itu, sebuah pertemuan penting berlangsung; bukan hanya kunjungan kerja, melainkan perjumpaan antara negara, adat, dan masyarakat yang dipersatukan oleh semangat menjaga tanah leluhur.
Usai memimpin Analisis dan Evaluasi Situasi Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Anev Sitkamtibmas) di Polsek Lamaknen, Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa, S.H., S.I.K., bersama rombongan bertolak menuju kawasan wisata Savana Fulan Fehan di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Selasa (2/6/2026).
Tiba sekitar pukul 10.10 WITA, Kapolres Belu disambut hangat oleh Loro Lamaknen, para tokoh adat, tokoh masyarakat Desa Dirun dan Desa Maudemu, pejabat yang mewakili Camat Lamaknen, Kasi PMD, serta masyarakat setempat yang telah menanti kedatangannya.
Dalam suasana penuh keakraban, Kapolres Belu menjelaskan bahwa kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus mengecek kesiapan personel Polsek Lamaknen dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
╔════════════════════════════════════╗
║ “Kehadiran kami ini tidak lain ║
║ untuk melihat dari dekat kondisi ║
║ wilayah dan kondisi anggota di ║
║ lapangan. Kunjungan ini saya ║
║ lakukan di seluruh Polsek dan ║
║ Polsubsektor jajaran. Dari tujuh ║
║ Polsek yang ada, enam sudah kami ║
║ datangi, dan hari ini secara resmi ║
║ kami mengunjungi Polsek Lamaknen.” ║
║ ║
║ — AKBP I Gede Eka Putra Astawa ║
╚════════════════════════════════════╝
Bagi Kapolres Belu, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda institusional. Kehadirannya di wilayah perbatasan juga merupakan upaya memperkuat komunikasi antara Polri, pemerintah, para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen yang selama ini menjadi pilar utama stabilitas sosial di Kecamatan Lamaknen.
╔════════════════════════════════════╗
║ “Harapan kami, kemitraan dan ║
║ sinergitas Polsek Lamaknen dengan ║
║ seluruh stakeholder dan para tokoh ║
║ di sini terus terjalin dengan ║
║ baik. Dukungan dan masukan dari ║
║ bapak ibu sekalian sangat ║
║ dibutuhkan dalam menunjang tugas ║
║ pokok kepolisian.” ║
╚════════════════════════════════════╝
Di hadapan para tokoh adat dan masyarakat, Kapolres juga menegaskan kesiapan Polres Belu dalam mengamankan pelaksanaan Festival Fulan Fehan 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Juni mendatang.
Festival yang setiap tahun menjadi magnet wisata budaya dan pariwisata itu diperkirakan kembali menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Karena itu, Polres Belu telah menyiapkan pola pengamanan yang melibatkan personel Polsek Lamaknen dengan dukungan personel BKO dari Polres Belu dan Polsek terdekat.
╔════════════════════════════════════╗
║ “Terkait pelaksanaan Festival ║
║ Fulan Fehan yang sudah di depan ║
║ mata, pengamanan akan dititik- ║
║ beratkan kepada Polsek yang ║
║ memiliki wilayah tersebut. Sebagai ║
║ Kapolres, saya juga akan ║
║ menurunkan personel BKO karena ║
║ kegiatan ini akan menyedot ribuan ║
║ masyarakat untuk datang ke sini.” ║
╚════════════════════════════════════╝
Ia pun mengajak seluruh unsur pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat untuk terus menjaga komunikasi, koordinasi, serta kolaborasi demi menyukseskan festival yang telah menjadi ikon kebanggaan Kabupaten Belu.
Secara kontekstual, kunjungan Kapolres Belu ke Fulan Fehan memiliki makna strategis yang melampaui agenda keamanan semata. Menjelang pelaksanaan Festival Fulan Fehan 2026, sinergi antara institusi negara dan struktur adat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas kawasan wisata perbatasan. Di wilayah yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional seperti Lamaknen, dukungan para pemimpin adat tidak hanya memperkuat legitimasi sosial, tetapi juga menjadi modal utama dalam menciptakan suasana aman, tertib, dan kondusif bagi pembangunan serta promosi pariwisata daerah.
Momen paling berkesan dalam kunjungan tersebut terjadi ketika Loro Lamaknen secara adat menyematkan Destar, ikat kepala khas Timor, dan Dasaroi, simbol kesatuan wilayah serta masyarakat adat Lamaknen, kepada Kapolres Belu.
Penyematan itu bukan sekadar seremoni. Dalam tradisi masyarakat Lamaknen, kedua simbol tersebut mencerminkan kehormatan, kepercayaan, dan pengakuan terhadap kepemimpinan yang dihormati oleh masyarakat adat.
Loro Lamaknen juga memakaikan kain selendang adat Dasaroi Lamaknen kepada Kabag Ren dan Kabag Logistik Polres Belu sebagai bentuk penghormatan dan persaudaraan.
Sebelum meninggalkan Fulan Fehan, Kapolres Belu menyerahkan bibit jagung secara simbolis kepada Ketua Kelompok Tani Desa Dirun serta bantuan sembako kepada Loro Lamaknen sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat setempat.
Dalam kunjungan tersebut, Kapolres Belu didampingi Kabag Ren, Kabag Logistik, Kasat Reskrim, Kasat Samapta, Kasat Lantas, Kasat Binmas, sejumlah Perwira Staf Polres Belu, Kapolsek Lamaknen, Wakapolsek Lamaknen, Ka Polsubsektor Kaen, Ka Polsubsektor Lamaknen Selatan, serta Ka Pos Pam Builalu.
Di bawah langit luas Fulan Fehan, ketika adat menyambut negara dengan kehormatan dan negara membalas dengan komitmen pelayanan, tersirat sebuah pesan yang lebih besar: keamanan bukan hanya dibangun oleh seragam dan aturan, tetapi juga oleh kepercayaan yang tumbuh di antara masyarakat, pemimpin adat, dan para penjaga negeri di beranda paling timur Indonesia.


















