KUPANG | LINTASTIMOR.ID – Hujan deras mengguyur langit Amfoang Barat Daya ketika helikopter yang membawa Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka , mendarat di lapangan UPTD SD Inpres Oelamopu, Desa Manubelon, Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 13.00 Wita.
Namun cuaca buruk tak mampu membendung antusiasme ribuan warga yang sejak pagi telah menunggu kedatangan orang nomor dua di Indonesia itu. Di tanah perbatasan yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan akses dan infrastruktur, kedatangan Wakil Presiden terasa seperti hadirnya harapan yang turun bersama gemuruh baling-baling helikopter.
Dengan pakaian basah diterpa hujan, tetap berjalan mendekati warga. Tarian adat, sorak-sorai, dan wajah-wajah penuh harap menyambut langkahnya di Amfoang—wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Kunjungan itu bukan tanpa sebab. Sehari sebelumnya, Kamis (21/5/2026), perwakilan mahasiswa asal Amfoang yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang (PERMASKU) menemui langsung di Kupang untuk menyampaikan berbagai persoalan mendesak yang dihadapi masyarakat.
Ketua PERMASKU, , mengatakan mahasiswa meminta pemerintah tidak hanya melihat sisi baik desa, tetapi juga mendengar penderitaan masyarakat pedalaman yang hidup dalam keterbatasan.
╔════════════════════════════════╗
“Kami sampaikan agar pemerintah tidak hanya melihat sisi yang baik saja, tapi juga mendengar tangisan keterbatasan kami. Alhamdulillah, Bapak Wapres merespons baik dan langsung berjanji akan datang melihat sendiri.”
— Asten Bait
╚════════════════════════════════╝
Keluhan itu menyangkut jalan raya yang rusak parah, jembatan putus total, kelangkaan BBM, Rumah Sakit Pratama yang belum beroperasi, hingga minimnya pelayanan dasar bagi masyarakat Amfoang.
Setibanya di lokasi, langsung bergerak menuju Jembatan Termanu dan Jembatan Kapsali di Desa Manubelon yang putus total sejak 2023. Di bawah guyuran hujan, ia berjalan kaki meninjau kerusakan dan mendengarkan langsung penjelasan warga serta tokoh masyarakat tentang sulitnya akses antarwilayah.
╔════════════════════════════════╗
“Jalan dan jembatan ini kan urusan negara. Kalau rusak, ya harus diperbaiki. Warga di sini tidak boleh dibiarkan kesulitan bergerak, sulit jual hasil bumi, sulit ke pelayanan kesehatan.”
— Gibran Rakabuming Raka
╚════════════════════════════════╝
Selain infrastruktur jalan dan jembatan, juga meninjau Rumah Sakit Pratama Amfoang yang telah dibangun namun belum beroperasi optimal. Ia turut menanyakan persoalan air bersih, pelayanan kesehatan dasar, hingga kondisi pertanian masyarakat setempat.
Dari kunjungan tersebut, Wakil Presiden menyampaikan sejumlah komitmen pemerintah pusat, di antaranya percepatan pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan SPBU untuk mengatasi kelangkaan BBM, pengoperasian Rumah Sakit Pratama dengan dukungan tenaga medis dan peralatan kesehatan, hingga peningkatan pembangunan sumur bor dan pendampingan pertanian bagi masyarakat Amfoang.
╔════════════════════════════════╗
“Amfoang ini wilayah perbatasan, sangat strategis. Warga di sini juga anak bangsa, punya hak yang sama. Saya pastikan apa yang saya lihat hari ini akan saya tindaklanjuti ke kementerian terkait. Jangan khawatir, negara hadir untuk kalian.”
— Gibran Rakabuming Raka
╚════════════════════════════════╝
Pernyataan itu disambut tepuk tangan warga yang memadati lokasi kunjungan. Bagi masyarakat Amfoang, kedatangan Wakil Presiden bukan sekadar agenda seremonial, tetapi simbol bahwa penderitaan mereka akhirnya benar-benar dilihat oleh negara.
Salah satu warga, , mengaku terharu karena untuk pertama kalinya pejabat tinggi negara datang langsung melihat kondisi mereka di tengah hujan dan medan berat.
╔════════════════════════════════╗
“Kami sangat bersyukur. Beliau mau datang walau hujan, mau lihat jalan kami yang rusak parah. Kami percaya janji beliau akan ditepati, supaya anak cucu kami bisa hidup lebih baik, tidak terpinggirkan lagi.”
— Yohanes Oematan
╚════════════════════════════════╝
Secara kontekstual, kunjungan ini memperlihatkan bagaimana wilayah perbatasan seperti Amfoang masih menghadapi ketimpangan pembangunan yang nyata dibanding kawasan lain di Indonesia. Infrastruktur yang rusak, layanan kesehatan yang belum maksimal, hingga sulitnya akses energi menunjukkan bahwa masyarakat di garis terluar negeri masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak dasar yang setara sebagai warga negara.
Setelah hampir tiga jam berdialog dan meninjau berbagai titik kerusakan, rombongan Wakil Presiden kembali menuju helikopter untuk melanjutkan agenda di wilayah lain NTT. Namun bagi warga Amfoang, jejak langkah di tanah berlumpur siang itu mungkin akan dikenang lebih lama daripada suara mesin helikopter yang perlahan menghilang di balik kabut hujan.
Karena di perbatasan yang selama ini merasa jauh dari pusat kekuasaan, kedatangan seorang pemimpin bukan hanya tentang kunjungan kerja—melainkan tentang keyakinan bahwa negara akhirnya benar-benar datang mengetuk pintu mereka.


















