Di sebuah rumah sederhana yang teduh di wilayah Tasifeto Timur, semangat pendidikan itu menyala tanpa gaduh. Tidak dengan janji kemenangan, tetapi dengan keberanian membentuk generasi yang mampu berdiri, berbicara, dan menatap dunia tanpa takut.
ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Pagi itu, angin dari perbukitan Tasifeto Timur berhembus pelan menyentuh halaman rumah Kepala SMAN 2 Tasifeto Timur, Baltasar Eustachius Mali Tae, S.Pd. Dari kediamannya, Jumat (15/5/2026), ia berbicara bukan tentang ambisi merebut piala, melainkan tentang mimpi sederhana yang jauh lebih indah: melatih anak-anak untuk berani tampil di depan umum.
Tiga siswa terbaik SMAN 2 Tasifeto Timur akan membawa nama sekolah mereka dalam lomba debat Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Sabtu 16 Mei 2026, di SMA St. Angela Atambua.
Mereka adalah Margareta Kai Bui, Matilda Sama Lelo, dan Julio Bere Tallo.
Ketiganya akan bertarung gagasan bersama peserta dari sejumlah sekolah lain seperti SMA Kristen Atambua, SMA Seminari Lalian Nenuk, SMA Bina Karya Atambua, serta sekolah-sekolah lain yang ikut dalam ajang bergengsi tersebut.
Lomba debat itu menjadi bagian dari rangkaian seleksi siswa berprestasi di berbagai bidang yang digelar Puspresnas. Selain debat Bahasa Inggris, kegiatan lain yang sebelumnya telah berlangsung yakni FLS3N untuk cabang jurnalistik, vokal tunggal, tari kreasi, O2SN bidang olahraga, hingga lomba cerdas cermat Empat Pilar Kebangsaan.
Dalam kompetisi nanti, tim akan saling berhadapan dengan sistem penilaian nilai tertinggi untuk menentukan peserta yang melaju ke tingkat provinsi.
Namun bagi Baltasar Mali Tae, kemenangan bukanlah tujuan utama.
╔══════════════ ❀❤️❀ ══════════════╗
“SMAN 2 Tastim tidak bermimpi untuk juara.
Tetapi kami ingin melatih siswa agar berani tampil,
berani berbicara, dan percaya diri di depan umum.”
— Baltasar Eustachius Mali Tae, S.Pd
╚══════════════ ❀❤️❀ ══════════════╝
Kalimat itu meluncur tenang, tetapi terasa dalam. Sebab di daerah perbatasan seperti Tasifeto Timur, keberanian seorang anak untuk berdiri dan berbicara dalam Bahasa Inggris adalah sebuah langkah besar melampaui batas-batas geografis.
Di balik lomba debat itu, tersimpan perjuangan panjang para guru yang setiap hari menanamkan keyakinan bahwa anak-anak dari pelosok pun mampu bersaing dengan siapa saja.
Margareta, Matilda, dan Julio mungkin akan naik ke panggung debat hanya beberapa menit. Tetapi keberanian mereka hari ini sesungguhnya sedang menulis masa depan.
Dan di tengah riuh kompetisi, SMAN 2 Tasifeto Timur memilih jalan yang lebih sunyi namun mulia: membentuk karakter, bukan sekadar mengejar gelar juara.


















