KUPANG | LINTASTIMOR.ID — Dari ufuk Timur yang kerap dilupakan, suara itu akhirnya menemukan panggungnya. Di tengah semarak Paskah dan gelora anak muda, pesan keadilan menggema lantang—bukan sekadar seruan iman, melainkan panggilan bagi negara untuk hadir lebih utuh.
Kehadiran Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka dalam perayaan Paskah GMIT di Kota , Senin (6/4/2026), menjadi lebih dari sekadar kunjungan seremonial. Ia menjelma ruang refleksi—di mana iman, kebangsaan, dan harapan bertemu dalam satu tarikan napas.
Di Bundaran PU, ribuan peserta memadati lokasi pembukaan Festival Paskah Pemuda GMIT 2026. Wajah-wajah muda memancarkan sukacita, namun di balik nyanyian dan langkah yang riang, tersimpan suara yang lebih dalam: suara dari Timur untuk Indonesia.
Paskah dan Seruan yang Tak Bisa Diabaikan
Ketua Sinode GMIT, Samuel Pandie, dalam sambutannya menegaskan bahwa Paskah bukan sekadar perayaan iman, melainkan momentum keberpihakan—kepada mereka yang kerap tertinggal dalam arus pembangunan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Pesan Paskah bukan hanya tentang iman, tetapi juga keberpihakan terhadap keadilan sosial—terutama bagi wilayah yang masih tertinggal, terdepan, dan terluar.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Ia menyoroti realitas wilayah “tiga T”—tertinggal, terdepan, dan terluar—yang hingga kini masih membutuhkan perhatian serius dari negara. Sebuah pengingat bahwa pembangunan belum sepenuhnya merata, dan keadilan belum sepenuhnya terasa.
Antara Sukacita dan Gugatan Halus
Festival ini menjadi ruang unik—di mana sukacita bertemu dengan kegelisahan. Lagu-lagu pujian bersahut-sahutan, namun di sela-selanya terselip pesan yang tak bisa diabaikan: bahwa dari Timur, ada harapan yang menunggu untuk dijawab.
Kehadiran pemerintah pusat, melalui Wapres, menjadi simbol bahwa negara sedang mendengar. Namun, bagi masyarakat di Timur, mendengar saja belum cukup—yang dibutuhkan adalah tindakan nyata.
Analisis: Timur sebagai Cermin Ketimpangan Nasional
Momentum ini memperlihatkan bahwa kawasan Timur Indonesia bukan sekadar latar geografis, melainkan cermin dari ketimpangan pembangunan nasional. Seruan yang disampaikan dalam forum keagamaan ini menegaskan bahwa isu keadilan sosial telah melampaui batas sektoral, menjadi bagian dari diskursus kebangsaan yang mendesak. Kehadiran Wapres dalam forum ini membuka peluang dialog, namun sekaligus menjadi ujian: sejauh mana negara mampu menerjemahkan aspirasi menjadi kebijakan konkret.
Di bawah langit Kupang yang hangat, suara itu telah dilepaskan—jernih, jujur, dan penuh harap.
Dan kini, pertanyaannya sederhana namun mendalam: akankah gema dari Timur itu benar-benar sampai ke pusat, atau kembali hilang di antara riuhnya janji dan waktu?


















