JAKARTA | LINTASTIMOR.ID — Di balik dinding rumah yang mulai rapuh, atap yang tak lagi sepenuhnya melindungi dari hujan, dan keterbatasan tempat tinggal di sejumlah kawasan permukiman, tersimpan harapan sederhana masyarakat: memiliki rumah yang aman, layak, dan manusiawi untuk membangun kehidupan keluarga.
Harapan itulah yang dibawa Bupati Mimika, Johannes Rettob, ke Jakarta.
Selasa (3/11/2026), Johannes bertemu langsung dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Mimika memperjuangkan percepatan penyediaan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Pembicaraan itu tidak berhenti pada persoalan pembangunan fisik rumah. Ada kebutuhan sosial yang lebih mendasar: bagaimana keluarga berpenghasilan rendah memperoleh tempat tinggal yang memberikan rasa aman, menjaga kesehatan, serta membuka ruang bagi kehidupan generasi berikutnya.
Dua agenda utama menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut, yakni penguatan program bedah rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan peluang pengembangan skema perumahan subsidi yang dapat diakses warga Mimika.
Keduanya merupakan kebutuhan yang saling berkaitan. Program bedah rumah menyasar keluarga yang telah memiliki tempat tinggal, tetapi kondisi huniannya membutuhkan perbaikan. Sementara perumahan subsidi membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh rumah dengan skema pembiayaan yang lebih terjangkau.
Rumah bukan hanya bangunan, melainkan fondasi kehidupan
Bagi Johannes Rettob, persoalan perumahan harus ditempatkan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan daerah.
Rumah bukan semata-mata bangunan dengan dinding, lantai, dan atap. Di dalamnya berlangsung kehidupan keluarga, tumbuh kembang anak, pendidikan, serta pembentukan masa depan.
Karena itu, penyediaan hunian yang layak menjadi kebutuhan mendasar yang tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan pembangunan infrastruktur.
“Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh, tetapi juga menjadi fondasi bagi kesehatan keluarga dan masa depan generasi muda.”
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan perumahan memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat. Sebab, kualitas tempat tinggal turut menentukan kualitas kehidupan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Mimika pun berkomitmen memperjuangkan ketersediaan hunian yang layak dan manusiawi, baik bagi masyarakat di kawasan perkotaan maupun warga yang bermukim di kampung-kampung.
Pendekatan ini penting agar pembangunan perumahan tidak hanya terkonsentrasi pada wilayah tertentu, tetapi mampu menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Dari meja pertemuan menuju program nyata
Pertemuan dengan Menteri PKP Maruarar Sirait diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Bagi Mimika, komunikasi tersebut memiliki arti strategis. Dukungan kebijakan dan program pemerintah pusat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan pembangunan perumahan, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Johannes menyampaikan apresiasi kepada Menteri PKP atas kesempatan berdiskusi, sambutan hangat, serta perhatian yang diberikan terhadap kebutuhan perumahan masyarakat Mimika.
Namun, harapan terbesar dari pertemuan itu tentu bukan berhenti pada komunikasi antarpemerintah. Masyarakat menantikan tindak lanjut yang dapat dirasakan secara langsung melalui program yang terukur dan tepat sasaran.
Pemerintah Kabupaten Mimika menyatakan akan mengawal pelaksanaan program agar bantuan perumahan benar-benar menjangkau warga yang membutuhkan.
Pengawalan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa kebijakan tidak hanya berhenti sebagai rencana, tetapi bergerak menjadi manfaat nyata bagi keluarga penerima.
Mengukur pembangunan dari kelayakan hidup masyarakat
Di tengah berbagai agenda pembangunan daerah, persoalan rumah layak huni memiliki tempat tersendiri. Infrastruktur jalan, fasilitas publik, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi memang penting. Namun, pembangunan juga harus menyentuh ruang paling dekat dengan kehidupan masyarakat: rumah tempat sebuah keluarga memulai dan mengakhiri hari.
Di Mimika, perjuangan memperluas akses terhadap hunian layak diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Program bedah rumah dan perumahan subsidi, apabila ditindaklanjuti melalui kebijakan yang tepat, berpotensi membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh tempat tinggal yang aman dan terjangkau.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan yang berdiri atau panjangnya infrastruktur yang dibangun. Ukurannya juga terletak pada sejauh mana masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.
Sebab, di balik setiap rumah yang diperbaiki dan setiap hunian baru yang dibangun, ada keluarga yang sedang menata harapan.
Dan dari Jakarta, harapan itu kini dibawa kembali ke Mimika—menunggu diwujudkan melalui kerja nyata, kolaborasi, dan keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Membangun Mimika bukan hanya tentang mendirikan infrastruktur, melainkan memastikan setiap keluarga memiliki rumah yang layak, tempat kehidupan bertumbuh dan masa depan menemukan pijakannya.


















