ATAMBUA, LINTASTIMOR.ID — Pagi di perbatasan RI – Timor Leste menyimpan banyak harapan. Bagi 163 pemuda yang berangkat dari Kabupaten Belu, Rabu (28/10/2026), perjalanan menuju Kupang bukan hanya tentang berpindah dari satu kota ke kota lain. Di balik langkah mereka, tersimpan cita-cita panjang untuk mengenakan seragam loreng, berdiri tegak sebagai prajurit, dan mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
Dengan tekad yang dibawa dari kampung halaman, ratusan Calon Siswa (Casis) Bintara Prajurit Karier (Caba PK) dan Tamtama Prajurit Karier (Cata PK) TNI Angkatan Darat itu kembali diberangkatkan oleh Komando Distrik Militer (Kodim) 1605/Belu untuk mengikuti tahapan seleksi selanjutnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Keberangkatan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang para pemuda perbatasan dalam memperjuangkan kesempatan menjadi prajurit TNI AD. Sebuah perjalanan yang menuntut kesiapan fisik, keteguhan mental, kedisiplinan, serta kemampuan menjaga semangat ketika berhadapan dengan persaingan seleksi.
Dari total 163 Casis yang diberangkatkan, sebanyak 57 orang merupakan calon Bintara Prajurit Karier, sedangkan 106 orang lainnya adalah calon Tamtama Prajurit Karier.
Jumlah tersebut menghadirkan gambaran tentang besarnya harapan generasi muda Belu untuk mengambil bagian dalam pengabdian kepada negara melalui jalur militer. Namun, harapan itu harus berjalan beriringan dengan kesiapan diri dan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan seleksi.
Disiplin menjadi bekal sebelum melangkah lebih jauh
Sebelum melepas keberangkatan para calon prajurit tersebut, Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1605/Belu, Mayor Arm Paulus, memberikan pengarahan dan pembekalan khusus. Pesan yang disampaikan bukan hanya berkaitan dengan perjalanan menuju Kupang, melainkan juga menyangkut sikap dan kesiapan yang harus dijaga selama mengikuti proses seleksi.
Di hadapan para Casis, kedisiplinan, kesehatan, serta kesiapan fisik dan mental menjadi perhatian utama. Seluruh peserta diingatkan untuk menjaga kondisi tubuh selama perjalanan, menaati arahan yang diberikan, dan mempersiapkan diri menghadapi setiap tahapan seleksi dengan sungguh-sungguh.
“Para Casis agar senantiasa menjaga kedisiplinan, kesehatan, serta fisik dan mental selama perjalanan hingga tiba di tempat seleksi di Kupang.”
Pesan Kasdim 1605/Belu, Mayor Arm Paulus, tersebut menegaskan bahwa perjalanan menuju cita-cita menjadi prajurit harus dimulai dengan sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Kesiapan seorang calon prajurit tidak hanya diukur dari kekuatan fisik. Kemampuan mengendalikan diri, mematuhi aturan, menjaga kesehatan, dan mempertahankan ketenangan ketika menghadapi tekanan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju dunia militer.
Bagi para pemuda yang datang dari wilayah perbatasan, pembekalan itu menjadi pengingat bahwa kesempatan harus dijawab dengan usaha terbaik. Keberangkatan menuju Kupang membuka pintu menuju tahapan berikutnya, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada proses seleksi dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.
Dari perbatasan, merawat cita-cita pengabdian
Belu merupakan salah satu wilayah di Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste. Di kawasan ini, semangat kebangsaan tumbuh bersama kehidupan masyarakat yang setiap hari bersentuhan dengan dinamika wilayah perbatasan.
Bagi sebagian pemuda, menjadi prajurit TNI AD merupakan cita-cita yang membutuhkan perjuangan panjang. Ada latihan fisik yang harus dijalani, kesehatan yang mesti dijaga, serta kesiapan mental yang perlu dibangun. Semua itu menjadi bagian dari proses yang tidak dapat digantikan hanya oleh keinginan.
Keberangkatan 163 Casis ini memperlihatkan bahwa anak-anak muda dari wilayah perbatasan juga memiliki kesempatan untuk memperjuangkan masa depan melalui pengabdian kepada negara.
Namun, semangat tersebut perlu disertai pemahaman bahwa keberangkatan menuju tempat seleksi bukanlah jaminan kelulusan. Setiap peserta harus mengikuti tahapan yang ditetapkan dan menerima hasilnya sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sinilah arti penting disiplin dan keteguhan hati: bukan hanya ketika seseorang berhasil mencapai tujuan, melainkan juga ketika ia harus menjalani proses dengan sabar, jujur, dan bertanggung jawab.
Perjalanan belum selesai
Bagi 163 Casis Caba dan Cata PK TNI AD asal Belu, Rabu itu menjadi satu lagi langkah dalam perjalanan menuju cita-cita. Kupang menanti sebagai tempat untuk melanjutkan tahapan seleksi, sementara harapan mereka tetap tertuju pada kesempatan mengenakan seragam kebanggaan TNI Angkatan Darat.
Pesan yang diberikan Kasdim 1605/Belu menjadi bekal yang relevan sepanjang perjalanan: menjaga disiplin, kesehatan, serta kesiapan fisik dan mental.
Sebab, di balik setiap keberangkatan, ada perjuangan yang belum selesai. Ada kesempatan yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, ada aturan yang wajib dipatuhi, dan ada tanggung jawab yang kelak harus dipikul apabila berhasil menjadi prajurit.
Dari Belu, para pemuda itu melangkah membawa impian masing-masing. Mereka belum sampai di garis akhir, tetapi telah memasuki tahap penting untuk membuktikan kesiapan diri.
Bagi mereka, seragam loreng bukan hanya simbol kebanggaan. Ia merupakan lambang pengabdian yang menuntut kedisiplinan, keberanian, dan kesetiaan kepada bangsa dan negara.
LINTASTIMOR.ID — Suara dari Perbatasan untuk Dunia.


















