Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Uncategorized

Seribu Lilin di Bundaran Timika: Ketika Harapan Pencari Kerja Menolak Padam”

6
×

Seribu Lilin di Bundaran Timika: Ketika Harapan Pencari Kerja Menolak Padam”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

╔════════════════════ ❖ ════════════════════╗
Di bawah langit malam Timika, nyala-nyala lilin kecil itu berdiri melawan gelap. Bukan sekadar cahaya, melainkan bahasa sunyi dari ratusan anak muda yang sedang menunggu masa depan membuka pintunya. Mereka tidak membawa amarah. Mereka datang membawa harapan yang hampir lelah menunggu.
╚════════════════════ ❖ ════════════════════╝

Example 300x600

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID — Bundaran Timika Indah, yang biasanya dipenuhi lalu lalang kendaraan dan hiruk-pikuk kota tambang, mendadak berubah menjadi ruang hening penuh makna, ketika Asosiasi Pencari Kerja Lokal Cartensz Mimika Papua (APELCAMI) menggelar aksi seribu lilin sebagai simbol kepedulian terhadap nasib para pencari kerja lokal.

Di tengah cahaya lilin yang bergetar diterpa angin malam, para pencari kerja berdiri membawa keresahan yang selama ini tersimpan diam: tentang peluang kerja yang terasa semakin jauh di tanah mereka sendiri.

Ketua APELCAMI Mimika, Hendrikus Kaparapea, mengatakan aksi damai tersebut menjadi bentuk pengingat kepada pemerintah daerah agar masyarakat lokal mendapat perhatian lebih dalam proses perekrutan tenaga kerja di Kabupaten Mimika.

╔════════════════════ ❖ ════════════════════╗
“Kami ingin pemerintah daerah melihat kondisi pencari kerja lokal yang sampai hari ini masih membutuhkan pekerjaan. Aksi seribu lilin ini menjadi simbol harapan agar tenaga kerja lokal bisa mendapat kesempatan bekerja di perusahaan dan kontraktor yang ada di Mimika,” ujar Hendrikus Kaparapea.
╚════════════════════ ❖ ════════════════════╝

Tidak ada teriakan keras dalam aksi itu. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Yang terlihat justru wajah-wajah muda dengan mata yang menyimpan kelelahan panjang akibat menunggu kesempatan yang belum kunjung datang.

Bagi mereka, lilin-lilin itu bukan sekadar penerang malam. Ia menjadi lambang tentang harapan yang belum ingin dipadamkan meski berkali-kali diterpa ketidakpastian.

Hendrikus menilai perjuangan para pencari kerja lokal selama ini mulai kurang mendapat perhatian, sehingga APELCAMI memilih menyampaikan aspirasi melalui aksi damai agar suara masyarakat bisa didengar secara langsung oleh pemerintah daerah.

Di sisi lain, APELCAMI juga memberikan apresiasi kepada Dinas Tenaga Kerja Mimika yang telah memfasilitasi sekitar 300 pencari kerja lokal untuk mengikuti berbagai pelatihan kompetensi, mulai dari K3, security hingga keterampilan kerja lainnya.

╔════════════════════ ❖ ════════════════════╗
“Kami bersyukur Disnaker Mimika sudah membantu mengakomodir teman-teman pencari kerja untuk mengikuti pelatihan. Harapan kami, setelah pelatihan selesai mereka bisa langsung diterima bekerja,” katanya.
╚════════════════════ ❖ ════════════════════╝

Fenomena meningkatnya tuntutan tenaga kerja lokal di Mimika sesungguhnya bukan hanya persoalan lapangan pekerjaan semata. Di tengah geliat investasi dan aktivitas industri besar di wilayah Papua, masyarakat lokal mulai menuntut keterlibatan yang lebih nyata dalam pembangunan ekonomi daerahnya sendiri. Sebab bagi banyak anak muda Mimika, pekerjaan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang harga diri, pengakuan, dan hak untuk tumbuh bersama tanah yang mereka pijak sejak lahir.

Hendrikus menegaskan, apabila aspirasi para pencari kerja lokal belum mendapat perhatian serius, maka APELCAMI akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak pencari kerja di Mimika.

Malam itu, lilin-lilin memang perlahan habis terbakar.

Namun harapan yang dijaga para pencari kerja lokal di Bundaran Timika Indah tampaknya belum ingin ikut padam.

Example 300250