Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MappiPeristiwa

Satap Dagimon, Jembatan Sunyi dari Pinggiran Menuju Masa Depan

54
×

Satap Dagimon, Jembatan Sunyi dari Pinggiran Menuju Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MAPPI |LINTASTIMOR.ID — Di ujung sunyi Kabupaten Mappi, di mana jarak sering kali lebih kuat dari mimpi, negara mencoba menjawab satu kegelisahan lama: bagaimana menjaga anak-anak tetap bersekolah ketika jalan menuju pendidikan terasa begitu jauh.

Perbincangan itu mencuat dari ruang digital—unggahan di media sosial menggulirkan tanya, bahkan keraguan. Namun dari balik riuh itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi hadir membawa penjelasan: bahwa SMP Satu Atap (Satap) Kampung Dagimon bukan sekadar bangunan, melainkan jalan pulang bagi harapan yang nyaris terputus.

Example 300x600

Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi, Dra. Maria Dewi Letsoin, M.Pd, menegaskan bahwa kehadiran SMP Satap Dagimon adalah bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat Wajib Belajar 13 Tahun—sebuah ikhtiar memastikan setiap anak menapaki pendidikan dari TK hingga SMA/SMK tanpa terhenti oleh keadaan.

Kampung Dagimon dan Soba, yang selama ini berdiri jauh dari jangkauan SMP di pusat kota Kepi, menjadi alasan kuat lahirnya kebijakan ini. Jarak bukan lagi sekadar angka, tetapi realitas yang kerap memutus langkah anak-anak menuju sekolah lanjutan.


“Tujuan utamanya adalah mendekatkan akses sekolah kepada anak-anak agar tidak putus sekolah karena kendala jarak. Model Satap ini melekat pada SD yang sudah ada, sehingga lulusan bisa langsung melanjutkan tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke kota.”

Ia menjelaskan, dalam kondisi keterbatasan infrastruktur digital, opsi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) belum menjadi jawaban. Maka, menghadirkan sekolah secara fisik di tengah kampung adalah pilihan paling rasional—sekaligus paling manusiawi.

Meski baru ramai diperbincangkan pasca insiden yang menimpa kepala sekolah beberapa waktu lalu, SMP Negeri Dagimon Satap sejatinya telah beroperasi sejak tahun sebelumnya. Ia tumbuh perlahan, menyatu dengan SD dan TK yang lebih dulu hadir, menjadi satu ekosistem pendidikan yang utuh di tengah keterbatasan.

Penunjukan Aprilia Letsoin sebagai Plt. Kepala Sekolah disebut bukan tanpa pertimbangan. Dengan kemampuan lintas bidang—dari teknologi hingga pedagogi—ia dipercaya menjadi penjaga awal bagi fondasi sekolah ini.


“Ini bukan langkah tergesa-gesa. Sekolah ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, dirancang bersama, dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.”

Dinas Pendidikan juga terus bergerak melakukan pendekatan kepada masyarakat, orang tua, dan aparat kampung. Mereka sadar, sekolah bukan hanya soal bangunan dan kurikulum, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan.

Model Satap yang kini berjalan di Dagimon, Yatan, dan Koba pun tidak akan berhenti di sini. Pemerintah daerah telah merancang ekspansi ke wilayah lain seperti Bamgi, Baitate, Kofar, hingga Rep atau Enem—sebuah langkah berani untuk meratakan akses pendidikan di wilayah terpencil.

Namun jalan ini belum sepenuhnya lapang. Tantangan soal ketersediaan lahan permanen dan kekurangan tenaga guru masih menjadi pekerjaan besar yang terus diupayakan solusinya melalui kolaborasi lintas pihak.


“Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan masyarakat, guru, dan aparat kampung. Ini adalah solusi praktis agar anak-anak kita bisa terus sekolah hingga SMA atau SMK.”

Di Dagimon, sekolah itu kini berdiri bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai simbol—bahwa di tengah keterbatasan, negara tetap berusaha hadir. Bahwa di antara hutan, sungai, dan jarak yang panjang, ada upaya untuk memastikan satu hal sederhana: anak-anak tidak kehilangan masa depan hanya karena mereka lahir jauh dari kota.

Example 300250