LOTAS | LINTASTIMOR.ID — Dari kejauhan, dari ruang-ruang rindu para perantau, kabar itu tiba seperti angin sejuk yang menenangkan: jalan yang sempat terputus akibat longsor di KM 10 Desa Lotas, Kecamatan Rinhat, akhirnya kembali disentuh perbaikan.
Adalah Lasarus Tsu—tokoh masyarakat Desa Lotas yang kini berdomisili di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa 28 April 2026 pagi—yang menyampaikan suara syukur itu. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga mewakili denyut hati warga Lotas, Muke, dan Nai Usi yang tersebar di tanah rantau.
Bagi mereka, jalan itu bukan sekadar bentangan aspal. Ia adalah urat nadi kehidupan, penghubung harapan, dan jalur pulang yang tak pernah putus oleh jarak.
Respon cepat Pemerintah Kabupaten Malaka melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dinilai menjadi jawaban atas kegelisahan yang sempat menggantung sejak bencana longsor memutus akses vital tersebut.
╔══════════════════════════════════╗
❝ Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, dan Dinas PUPR yang telah melakukan perbaikan jalan KM 10 Lotas yang putus total akibat longsor dua hari lalu. ❞
╚══════════════════════════════════╝
Ungkapan itu meluncur sederhana, namun sarat makna. Di baliknya tersimpan kelegaan, juga pengakuan atas hadirnya negara di saat masyarakat membutuhkan.
Longsor yang terjadi sebelumnya sempat memutus total akses di jalur tersebut, mengisolasi aktivitas warga dan mengganggu mobilitas harian. Namun, gerak cepat pemerintah daerah memastikan bahwa keterisolasian itu tidak berlangsung lama.
Bagi Lasarus dan warga Lotas di perantauan, perbaikan itu bukan sekadar pekerjaan infrastruktur—melainkan bukti bahwa perhatian dan kepedulian tetap menjangkau hingga ke sudut-sudut yang jauh.
Di tengah dinamika alam yang tak selalu bisa ditebak, satu hal yang kini terasa pasti: jalan itu kembali ada, dan bersama itu, harapan kembali terbuka.


















