Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwa

Relawan Meninggal Dunia, Helikopter Basarnas Menembus Pedalaman Flores

48
×

Relawan Meninggal Dunia, Helikopter Basarnas Menembus Pedalaman Flores

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BORONG |LINTASTIMOR.ID— Di tengah jalan-jalan bencana yang belum sepenuhnya pulih, ketika bantuan masih harus menembus medan sulit dan warga terdampak menunggu uluran tangan, sebuah kabar duka datang dari barisan kemanusiaan.

Ahmad Zaki Ali (38), Pendiri Relawan Gerak Bareng, berpulang ketika sedang menjalankan misi kemanusiaan di tengah penanganan bencana pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores.

Example 300x600

Ia meninggal dunia akibat kelelahan saat menjalankan misi pendistribusian bantuan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat petang (21 Agustus).

Kabar itu bukan sekadar berita tentang seorang relawan yang kehilangan nyawa. Di baliknya ada gambaran tentang betapa beratnya medan kemanusiaan di wilayah bencana—ketika jarak, kondisi geografis, keterbatasan akses dan kelelahan manusia berpadu menjadi tantangan yang tidak selalu terlihat dari balik laporan angka korban dan kerusakan.

Helikopter Menjemput Pengabdian Terakhir

Pagi itu, ketika sebagian wilayah bencana masih menyimpan kesunyian, operasi evakuasi dimulai.

Kantor SAR Maumere bersama potensi SAR bergerak mengevakuasi jenazah Ahmad Zaki Ali. Helikopter Dauphin Basarnas diterbangkan untuk memastikan relawan yang semasa hidupnya datang membawa bantuan itu dapat segera dibawa keluar dari lokasi bencana.

Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso, mengatakan proses evakuasi dilakukan secara cepat agar jenazah dapat segera dipulangkan kepada keluarga di Jakarta.

“Pukul 07.04 WITA, Tim Heli Dauphin Basarnas telah mendarat di Helipad Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur, dan langsung memproses evakuasi jenazah almarhum Ahmad Zaki Ali.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat perjalanan terakhir seorang relawan yang sebelumnya datang ke Flores bukan untuk mencari keselamatan bagi dirinya sendiri, melainkan untuk membantu mereka yang sedang kehilangan banyak hal akibat bencana.

Dari lokasi penanganan bencana, Helikopter Dauphin Basarnas membawa jenazah Ahmad Zaki Ali menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Setibanya di Labuan Bajo, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Pratama Komodo untuk menjalani proses pemulasaraan sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah duka di Jakarta.

Ada ironi yang getir dalam perjalanan itu.

Ia datang ke tengah bencana untuk mengantarkan bantuan kepada sesama. Pada akhirnya, justru tim penyelamat yang harus datang menjemput dirinya.

Kematian yang Mengingatkan Negara

Kematian seorang relawan dalam operasi kemanusiaan semestinya tidak berhenti sebagai kabar duka. Peristiwa ini perlu dibaca sebagai pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan di daerah bencana membutuhkan sistem perlindungan yang sama seriusnya dengan operasi penyelamatan.

Relawan berada di garis depan. Mereka masuk ke wilayah yang sulit dijangkau, membawa makanan, obat-obatan dan kebutuhan dasar masyarakat. Namun keberanian tanpa dukungan sistem keselamatan dapat berubah menjadi risiko yang sangat mahal.

Karena itu, Redaksi berpandangan bahwa negara perlu membangun standar nasional perlindungan relawan kebencanaan. Setiap operasi distribusi bantuan ke wilayah terdampak harus memiliki mekanisme registrasi relawan, pemeriksaan kesehatan dan kebugaran, batas waktu kerja, rotasi personel, pendampingan medis, sistem komunikasi darurat serta jalur evakuasi yang jelas.

Pemerintah pusat melalui lembaga kebencanaan bersama pemerintah daerah dan seluruh unsur SAR juga perlu membangun satu sistem komando kemanusiaan terpadu yang mampu memetakan medan, kebutuhan bantuan, kapasitas relawan dan risiko keselamatan secara real time.

Untuk relawan yang gugur dalam tugas kemanusiaan, negara juga perlu memastikan adanya jaminan perlindungan dan santunan yang layak bagi keluarga, termasuk mekanisme penghormatan nasional terhadap mereka yang meninggal saat menjalankan misi kemanusiaan.

Ini bukan sekadar persoalan kompensasi. Ini adalah bentuk penghormatan negara terhadap keberanian warga yang memilih hadir ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

Flores dan Pengabdian yang Tak Selesai

Kantor SAR Maumere bersama seluruh potensi SAR menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Ahmad Zaki Ali.

Ia dikenang sebagai relawan yang mendedikasikan tenaga dan kepeduliannya untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur.

Pengabdiannya menjadi bagian dari perjuangan bersama untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan di tengah situasi bencana.

Namun nama Ahmad Zaki Ali semestinya tidak hanya tinggal dalam daftar orang yang meninggal akibat bencana.

Namanya patut menjadi pengingat bahwa di balik setiap bantuan yang tiba di tangan korban, selalu ada manusia yang berjalan, berkendara, mengangkat beban, menembus medan sulit dan mempertaruhkan tenaga bahkan keselamatannya sendiri.

Ia datang membawa bantuan. Ia pulang sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan Flores.

Dan ketika helikopter Basarnas meninggalkan pedalaman Manggarai Timur dengan membawa jenazahnya, yang tertinggal bukan hanya kesunyian di sebuah helipad, melainkan pesan yang jauh lebih dalam: kemanusiaan membutuhkan keberanian, tetapi keberanian juga harus dilindungi oleh negara.

Example 300250