TIMIKA |LINTASTIMOR.ID— Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser jejak tradisi, Pemerintah Kabupaten Mimika memilih merawat ingatan kolektif masyarakat dengan cara yang paling mendasar: membangun ruang tempat budaya tetap hidup. Sanggar-sanggar seni tidak sekadar didirikan sebagai bangunan, tetapi diproyeksikan menjadi rumah bagi identitas, tempat generasi muda belajar mengenali akar, sekaligus ruang yang menghubungkan warisan leluhur dengan masa depan ekonomi kreatif.
Komitmen itu kembali ditegaskan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Kabupaten Mimika melalui kelanjutan pembangunan sanggar seni pada 2026 sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya lokal sekaligus penguatan sektor ekonomi kreatif masyarakat.
Kepala Disbudparekraf Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan pemerintah daerah sebelumnya telah membangun enam sanggar seni pada 2025 menggunakan dana Otonomi Khusus (Otsus). Tahun ini, pembangunan dilanjutkan dengan tiga sanggar baru yang difokuskan untuk kegiatan seni ukir dan anyaman khas Papua di sejumlah distrik.
“Pada tahun ini kami akan membangun tiga sanggar ukir dan anyaman khas Papua di beberapa distrik. Ke depan, pembangunan akan dilakukan secara bertahap hingga menjangkau seluruh distrik di Mimika,” kata Elisabeth di Timika, Sabtu (18/7/2026).
Enam sanggar yang dibangun pada tahun lalu diperuntukkan bagi dua suku asli Mimika, yakni tiga sanggar bagi masyarakat Amungme dan tiga lainnya bagi masyarakat Kamoro. Keberadaan sanggar tersebut diharapkan menjadi pusat pelestarian seni, budaya, serta tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Namun, bagi pemerintah daerah, menjaga budaya tidak cukup hanya dengan membangun gedung. Karena itu, Disbudparekraf juga menjalankan berbagai program pembinaan, mulai dari pelatihan musik tradisional, bantuan peralatan musik, penyelenggaraan lomba tari antarsanggar, hingga melibatkan kelompok seni dalam festival budaya dan pameran, baik di Mimika maupun di luar daerah.
“Kami berkomitmen untuk terus melakukan pembinaan agar sanggar seni di Mimika terus berkembang,” ujar Elisabeth.
Lebih dari sekadar ruang ekspresi budaya, sanggar seni juga diposisikan sebagai simpul pertumbuhan ekonomi kreatif. Pemerintah berharap pertunjukan seni, festival wisata, hingga kerajinan ukir khas Papua mampu menghadirkan nilai ekonomi baru yang berpijak pada kekayaan budaya lokal, sehingga pelestarian tradisi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen itu turut diperluas melalui pembinaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pada Juni 2026, Disbudparekraf Mimika menggelar pelatihan pengemasan produk di Yogyakarta bagi pelaku UMKM asal Mimika guna meningkatkan daya saing produk lokal.
Di bidang promosi daerah, pemerintah juga memfasilitasi keikutsertaan perwakilan Mimika dalam ajang Pemilihan Putri Otonomi Daerah Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta dengan puncak kegiatan di Deli Serdang, Sumatra Utara.
Sementara itu, sektor pariwisata juga terus diperkuat melalui program peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Tahun ini Disbudparekraf menyiapkan pelatihan berbasis sertifikasi bagi pemandu wisata dan karyawan hotel di Timika, serta merencanakan kegiatan studi tiru bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ke Banyuwangi sebagai bagian dari penguatan pengelolaan destinasi wisata berbasis masyarakat.
Secara kontekstual, langkah yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Mimika menunjukkan bahwa pembangunan budaya tidak lagi dipandang sebagai agenda pelengkap, melainkan investasi jangka panjang. Ketika identitas lokal dirawat melalui sanggar seni, masyarakat bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan fondasi ekonomi kreatif yang berakar pada karakter daerah. Di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin kompetitif, kekuatan budaya otentik justru menjadi modal paling bernilai untuk membangun daya saing Mimika.
Pada akhirnya, setiap sanggar yang berdiri bukan sekadar tempat belajar menari, mengukir, atau menganyam. Ia adalah ruang tempat sejarah terus bernapas, tempat jati diri diwariskan tanpa kehilangan makna, dan tempat Mimika menegaskan kepada zaman bahwa kemajuan akan selalu lebih kokoh apabila tumbuh dari akar budayanya sendiri.


















