JAKARTA | LINTASTIMOR.ID – Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika gelombang kegelisahan mulai bergerak dari Kampus Universitas Indonesia, Depok. Di antara spanduk, poster tuntutan, dan langkah-langkah yang mengarah ke pusat ibu kota, ratusan mahasiswa bersiap membawa suara yang mereka yakini sebagai alarm bagi masa depan bangsa.
Aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” menjadi panggung terbaru pertemuan antara kritik publik dan kebijakan negara. Dari kampus yang selama ini dikenal sebagai salah satu barometer gerakan mahasiswa Indonesia, massa mulai berkumpul sebelum bergerak menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.
Bagi para peserta aksi, demonstrasi ini bukan sekadar unjuk rasa. Ia adalah ekspresi kegelisahan terhadap kondisi ekonomi yang mereka nilai semakin membebani masyarakat. Sejumlah tuntutan dibawa ke ruang publik, mulai dari persoalan fiskal, moneter, pasar modal, hingga kenaikan harga bahan bakar minyak dan kebutuhan pokok.
╔════════════════════════════════════╗ ║ “Kami melihat adanya ancaman krisis
║ ekonomi yang perlu mendapat perhatian
║ serius. Karena itu berbagai tuntutan
║ disuarakan sebagai bentuk kepedulian
║ terhadap masa depan bangsa dan rakyat.”
╚════════════════════════════════════╝
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menilai Indonesia sedang menghadapi ancaman krisis ekonomi dari berbagai sektor. Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan tuntutan agar pemerintah melakukan penghematan APBN, menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa Merah Putih, menghentikan militerisme di ranah sipil, serta mengakui kesalahan kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Sementara itu, suasana di Bundaran HI masih terpantau normal. Kendati demikian, aparat keamanan telah bersiaga di sejumlah titik strategis guna mengantisipasi kedatangan massa aksi. Ruang publik yang biasanya dipenuhi aktivitas warga ibu kota itu perlahan berubah menjadi lokasi yang menunggu pertemuan antara aspirasi dan pengamanan negara.
Polda Metro Jaya menyiapkan 4.151 personel gabungan Polri dan TNI untuk mengamankan jalannya demonstrasi. Pengamanan dilakukan agar penyampaian pendapat di muka umum dapat berlangsung tertib tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.
Aksi ini juga mengajak berbagai elemen masyarakat untuk terlibat, mulai dari mahasiswa, buruh, guru, pedagang hingga ibu rumah tangga. Seruan tersebut menunjukkan bahwa isu yang diangkat tidak hanya dipandang sebagai persoalan kampus, tetapi juga menyentuh ruang kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Secara kontekstual, kemunculan aksi bertema ekonomi ini memperlihatkan bahwa isu kesejahteraan, daya beli, dan arah kebijakan publik masih menjadi perhatian utama kelompok mahasiswa. Dalam sejarah demokrasi Indonesia, kampus kerap menjadi ruang lahirnya kritik sosial ketika sebagian masyarakat merasakan kegelisahan terhadap situasi ekonomi dan kebijakan negara. Karena itu, demonstrasi seperti ini tidak hanya dibaca sebagai peristiwa politik, melainkan juga sebagai indikator dinamika hubungan antara pemerintah dan suara publik.
╔════════════════════════════════════╗ ║ “Demokrasi hidup ketika suara berbeda
║ masih memiliki ruang untuk didengar,
║ dan negara menunjukkan kemampuannya
║ mengelola perbedaan itu secara damai
║ dan bermartabat.”
╚════════════════════════════════════╝
Hari itu, jalan-jalan ibu kota mungkin akan dipenuhi teriakan, spanduk, dan tuntutan. Namun di balik semua itu, tersimpan satu pesan yang lebih dalam: bahwa setiap bangsa besar selalu diuji oleh keberaniannya mendengar suara rakyatnya sendiri. Dan ketika mahasiswa kembali turun ke jalan, sejarah seakan mengingatkan bahwa masa depan tidak pernah lahir dari keheningan, melainkan dari keberanian untuk menyampaikan kegelisahan dengan tetap menjaga demokrasi.


















